SOLOBALAPAN.COM – Duel klasik Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta pada Minggu (20/10/2025) malam di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) memang berakhir dengan kemenangan tim tamu (1-3).
Namun, di luar hasil pertandingan, pihak Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya disebut sebagai 'pemenang' sejati setelah mengizinkan The Jakmania hadir di GBT, sebuah momen langka di tengah larangan PSSI.
Keberadaan dua kelompok suporter besar, Bonek Mania dan The Jakmania, duduk berdampingan dalam satu stadion, menjadi pemandangan yang sangat jarang terjadi, terutama karena PSSI dan I.League masih memberlakukan sanksi larangan suporter tim tamu (away).
Apresiasi dari Fanbase Persija: Perlawanan Terhadap Regulasi PSSI
Langkah apik Panpel Persebaya ini mendapat pujian tinggi, bahkan dari fanbase rival. Akun Instagram @jakfootball.1928 (fanbase Persija) tak ragu mengirimkan apresiasi.
“RESPECT PANPEL SURABAYA. Surabaya menjadi kota nyata perlawanan terhadap regulasi PSSI tentang larangan away!” tulis akun tersebut.
Panpel Persebaya bekerja keras membuat duel ini terasa lebih hangat dan berkesan. Mereka mengizinkan Jakmania hadir dengan full atribut, menyediakan tribun atas dan bawah khusus untuk suporter beridentitas oranye tersebut, dan tidak mengunggah simbolis larangan kedatangan suporter tamu (yang seharusnya wajib sesuai regulasi).
Simbol Persatuan dan Kuliner Khas Betawi
Panpel Persebaya bahkan membuat beberapa upaya rekonsiliasi yang luar biasa:
- Syal Persaudaraan: Panpel membuat syal berisikan pesan perdamaian: tagar 'SUBJKTADEM' (Surabaya dan Jakarta Bersaudara) disematkan di bawah tulisan 'Persebaya Selamanya'.
- Hiburan Inklusif: Menghadirkan hiburan berupa dance dan band dari kalangan penggemar Persija Jakarta.
- Kuliner Lintas Budaya: Menyajikan kuliner khas Betawi (Ketoprak) di lingkungan stadion, melengkapi kuliner khas Surabaya (Rujak).
Langkah-langkah yang dilakukan Panpel Persebaya ini diakui sebagai tindakan perlawanan berkelas terhadap regulasi yang kaku, menunjukkan bahwa semangat sportivitas dan persatuan suporter lebih utama daripada aturan.
Meskipun kedua belah pihak berpotensi mendapat sanksi, momen ini menjadi penanda positif dalam sejarah rivalitas sepak bola nasional. (dam)
Editor : Damianus Bram