SOLOBALAPAN.COM - Saga konflik antara bek Timnas Indonesia, Mees Hilgers, dengan klubnya, FC Twente, memasuki babak baru yang semakin panas.
Di tengah "pembekuan" status sang pemain, FC Twente kini justru dikabarkan ingin kembali membuka komunikasi.
Namun, niat ini bukan karena perubahan hati, melainkan karena krisis cedera di lini pertahanan mereka.
Ironisnya, jalan damai ini disebut terhalang oleh sikap keras kepala dari Direktur Teknik klub, Jan Streuer, yang digambarkan "lebih baik mati dengan prinsipnya sendiri" daripada mengalah.
'Lebih Baik Mati dengan Prinsipnya Sendiri'
Jurnalis RTV Oost, Tijmen van Wissing, dalam acara Voetbalpraat di ESPN Belanda, mengungkap bahwa sikap Direktur Teknik Jan Streuer masih menjadi dinding tebal.
Meskipun klub kini membutuhkan tenaga Hilgers setelah bek lain, Max Bruns, cedera, Streuer diyakini tidak akan mudah melunak.
"Saya sebenarnya sudah agak muak," ujar Van Wissing, menggambarkan kebuntuan situasi.
"Saya berbicara dengan Jan Streuer minggu ini, dan tampaknya masih belum ada harapan."
"Saya mengenal Jan Streuer sebagai orang yang sangat keras kepala. Dia tidak menginjak usia 74 tahun untuk disesatkan oleh kubu Hilgers. Dia lebih baik mati dengan prinsipnya sendiri," tegasnya.
Akar Masalah: 'Tidak Perpanjang Kontrak = Tidak Bermain'
Sebagai pengingat, konflik ini bermula saat Mees Hilgers menolak untuk menandatangani perpanjangan kontrak baru.
Ia diyakini ingin menghabiskan sisa kontraknya dan pergi dengan status bebas transfer di akhir musim.
Sikap ini dibalas dengan kebijakan keras oleh FC Twente: "tidak memperpanjang kontrak berarti tidak bermain."
Akibatnya, Hilgers tidak pernah lagi dimainkan sejak awal musim, sebuah tindakan yang sebelumnya dikecam oleh Asosiasi Pemain Belanda sebagai bentuk "perundungan".
Dilema Sang Pemain di Tengah Konflik
Situasi ini menempatkan Mees Hilgers dalam posisi yang sangat sulit.
Di satu sisi, ia dibutuhkan oleh klub karena adanya krisis pemain.
Namun di sisi lain, pintu baginya untuk kembali ke lapangan tampaknya masih tertutup rapat oleh ego dan prinsip manajemen.
Jika konflik ini terus berlarut, bukan hanya kariernya di FC Twente yang terancam, tetapi juga peluangnya untuk kembali memperkuat Timnas Indonesia di ajang-ajang penting ke depan.
Publik kini menantikan, apakah akal sehat akan menang atas keras kepala dalam saga yang telah merugikan semua pihak ini. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo