SOLOBALAPAN.COM – Di tengah panasnya evaluasi pasca-kegagalan Timnas Indonesia, politisi Andre Rosiade melontarkan tudingan yang sangat serius.
Ia mengungkap adanya dua sosok berinisial "S" yang diduga menjadi "penguasa" di balik layar Skuad Garuda, menyingkirkan peran manajer resmi tim, Sumardji.
Salah satu sosok yang ia tuding, Soufian Asafiati yang merupakan manajer pribadi Patrick Kluivert, bahkan disebut sebagai "pemain judi".
Andre Rosiade juga membeberkan bukti visual yang menurutnya menunjukkan adanya perpecahan dan ketidakharmonisan di dalam tubuh tim nasional.
Bukti Perpecahan: Posisi Duduk di Bench
Andre Rosiade menyoroti satu momen spesifik yang ia anggap sebagai bukti nyata adanya masalah internal: posisi duduk para ofisial di bangku cadangan (bench) saat laga krusial melawan Australia.
Ia membandingkan pemandangan di era Shin Tae-yong, di mana manajer tim Sumardji selalu duduk persis di samping pelatih kepala.
Namun, pemandangan itu berubah drastis di era Patrick Kluivert.
"Saat kepelatihan dipegang oleh Patrick Kluivert, Sumardji duduk di ujung yang jauh dari sang pelatih. Di samping pelatih malah sosok Soufian Asafiati," ujar Andre, menyoroti kejanggalan tersebut.
Baginya, ini adalah simbol visual bahwa manajer resmi tim telah "dipinggirkan" oleh orang dekat sang pelatih, yang seharusnya tidak memiliki peran teknis di lapangan.
Ada dua poin alasan, mengapa Andre Rosiade pada akhirnya memberanikan diri untuk membongkar hal tersebut.
"Ini Bukti 2 S ada di Timnas Indonesia. Silahkan Dibantah kalo ini Hoaks dan Fitnah," tulis Andre Rosiade di akun Instagram.
Tujuan pertamanya yaitu demi terjadinya evaluasi menyeluruh terhadap kegagalan Timnas Indonesia.
Namun, hingga kini belum ada bukti konkrit apakah agen Patrick Kluivert tersebut merupakan seorang penjudi.
Krisis Kepercayaan di Tubuh PSSI
Tudingan berat dari seorang anggota DPR RI ini menambah babak baru dalam krisis yang melanda PSSI.
Setelah Patrick Kluivert resmi dipecat, kini muncul masalah internal yang lebih dalam: dugaan adanya "kekuatan bayangan" yang mengendalikan timnas dan menyingkirkan peran-peran formal.
Pengungkapan ini, ditambah dengan tuduhan serius terhadap karakter Soufian Asafiati, menempatkan tata kelola PSSI di bawah sorotan yang lebih tajam.
Publik kini menantikan klarifikasi dan langkah tegas dari federasi untuk menjawab isu "orang dalam" yang telah mencoreng perjuangan Skuad Garuda. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo