SOLOBALAPAN.COM – Hancur lebur, itulah gambaran yang paling tepat untuk melukiskan kondisi mental para pemain Timnas Indonesia usai kegagalan melangkah ke Piala Dunia 2026.
Kekalahan beruntun dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) di putaran keempat Kualifikasi Zona Asia membuat skuad Garuda pulang dengan kepala tertunduk dan hati remuk.
Manajer Timnas Indonesia, Sumardji, tak menutupi betapa terpukulnya seluruh anggota tim setelah dua hasil pahit itu.
Ia menggambarkan kondisi psikologis pemain benar-benar terpuruk.
“Ya kalau sekarang hancur lebur lah. Sudah hancur lebur. Jadi kita benar-benar, mental kami benar-benar down sekarang ini melihat hasil seperti ini,” ujar Sumardji, dikutip dari Antara, Selasa (14/10/2025).
Suasana Muram: Calvin Verdonk dan Thom Haye Tak Mampu Menahan Air Mata
Kekalahan di laga penentuan melawan Irak di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah, membuat Timnas Indonesia menjadi juru kunci Grup B dan harus mengubur ambisi mereka ke ajang sepak bola terbesar sejagat.
Sumardji menyebut suasana di ruang ganti sangat muram setelah peluit panjang berbunyi. Tak ada satu pun pemain yang mampu menahan air mata.
“Menangis semuanya. Jadi, ya, sampai sekarang pun kami juga masih down mental kita kaitannya dengan itu,” ungkapnya.
Momen paling menyayat terlihat ketika dua pemain naturalisasi, Calvin Verdonk dan Thom Haye, tak bisa menyembunyikan emosi di lapangan.
Keduanya menangis sesenggukan, menyadari betapa besar peluang yang terbuang begitu saja.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi semua, dari pemain senior hingga debutan muda.
Pesan Kapten Jay Idzes: Gagal Bukan Kekalahan Abadi
Di tengah kondisi psikologis yang terpuruk, Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, mencoba menyalakan kembali semangat melalui pesan menyentuh.
Bek Sassuolo ini menegaskan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
“Meskipun kalah, perjalanan ini tidak terasa seperti sebuah kegagalan,” ujar Idzes.
Jay Idzes mengajak rekan-rekannya dan para pendukung untuk tetap bersatu dan tidak saling menyerang.
“Tujuan kita adalah meraih hal-hal hebat bersama, tetapi yang lebih penting adalah mengangkat nama sepak bola Indonesia di peta dunia,” tutup pemain berusia 25 tahun itu, memberikan secercah harapan.
Kini, pekerjaan rumah besar menanti pelatih, federasi, dan seluruh pemain untuk memulihkan kondisi psikologis dan mengembalikan rasa percaya diri. (dam)
Editor : Damianus Bram