SOLOBALAPAN.COM – Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, dibuat merasa tak nyaman dan terkejut oleh salah satu awak media Arab Saudi dalam konferensi pers sehari jelang laga krusial.
Kluivert tampak kesal karena disinggung mengenai skandal naturalisasi Malaysia yang berujung sanksi oleh FIFA.
Timnas Indonesia akan menghadapi Arab Saudi pada laga pembuka Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Pertandingan ini dijadwalkan berlangsung di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, pada Kamis (9/10/2025) dini hari pukul 00.15 WIB.
Menyadari pentingnya laga ini, Kluivert menegaskan fokus timnya sangat tinggi.
“Saya pikir pertandingan besok adalah final. Tentu saja ekspektasinya besar. Kepentingannya sangat tinggi. Kami mewakili negara berpenduduk 280 juta jiwa. Kami adalah perwakilan negara dalam pertandingan ini,” kata Kluivert.
Wajah Kluivert Berubah Kecut
Namun, di tengah konferensi pers yang awalnya penuh semangat, Kluivert mendapatkan satu pertanyaan tak terduga terkait skandal naturalisasi Malaysia.
Wajahnya yang awalnya berbinar-binar seketika berubah jadi kecut dan menunjukkan keterkejutan.
Pelatih asal Belanda itu dengan tegas menolak membahas hal tersebut.
“Ya, tapi saya tidak membicarakan ini lagi. Saya tidak membicarakan ini. Saya sedang membicarakan pertandingan besok,” tegas Kluivert, menolak membahas topik di luar pertandingan krusial.
Kluivert menegaskan kembali fokusnya: “Saya tidak tahu tentang itu, tapi itu tidak menarik minat saya. Yang menarik bagi saya adalah pertandingan besok lagi,” jelasnya.
Skandal Naturalisasi Malaysia Menjadi Sorotan FIFA
Kasus naturalisasi Malaysia sendiri memang tengah menjadi sorotan besar. Laporan terbaru FIFA memastikan bahwa tujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia terbukti menggunakan dokumen palsu, termasuk Facundo Garces, Imanol Machuca, dan Hector Hevel.
Dalam surat FIFA tertanggal Senin (6/10/2025), meskipun Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dan para pemain dihukum, FIFA tidak menjelaskan siapa pihak yang memalsukan dokumen tersebut.
Hukuman tetap dijatuhkan kepada para pemain dan FAM, menjadikan kasus ini sensitif di kawasan Asia Tenggara. (dam)
Editor : Damianus Bram