Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Benarkah Pemain Naturalisasi Malaysia Dibayar? Beda dengan Indonesia, Pengamat Vietnam Sampai Bilang Begini

Didi Agung Eko Purnomo • Selasa, 7 Oktober 2025 | 04:56 WIB
FIFA hukum FAM Rp1,8 Miliar, tujuh pemain Timnas Malaysia dilarang main.
FIFA hukum FAM Rp1,8 Miliar, tujuh pemain Timnas Malaysia dilarang main.

SOLOBALAPAN.COM - Skandal pemain naturalisasi ilegal yang menimpa Malaysia kini semakin melebar.

Seorang pengamat sepak bola terkemuka asal Vietnam, Quang Huy, melontarkan tudingan pedas yang menyebut para pemain naturalisasi Malaysia diduga menerima bayaran untuk mau berganti kewarganegaraan.

Pernyataan ini sontak menciptakan kontras tajam dengan prinsip yang dipegang oleh PSSI, di mana Ketua Umum Erick Thohir berulang kali menegaskan bahwa pemain naturalisasi Indonesia dipilih karena panggilan "Merah-Putih", bukan karena uang.

Tudingan dari Vietnam: Motivasi karena Uang dan Gagal Tembus Timnas Asal

Quang Huy, dalam analisisnya yang dilansir dari media Vietnam Soha.com, menilai ada dua motivasi utama para pemain asing mau membela Malaysia.

"Saya rasa mereka punya banyak motivasi saat ini, karena di negara asal mereka, mereka tidak bisa memakai seragam tim nasional," ujar Quang Huy, menyindir kualitas para pemain tersebut.

Selain itu, ia juga secara tersirat menuding adanya iming-iming finansial sebagai daya tarik utama, berbeda dengan motivasi patriotisme.

Prinsip PSSI: 'Bukan Hanya Soal Uang'

Tudingan ini sangat kontras dengan filosofi yang dipegang oleh Indonesia.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dalam sebuah wawancara di acara Rosi Kompas TV pada tahun 2024 lalu, dengan tegas menolak gagasan "membayar" pemain untuk dinaturalisasi.

"Kalau ada pemain Indonesia di luar negeri dan punya (darah) Merah-Putih, ia ingin bermain ya kita harus welcome. Tapi ini bukan hanya soal uang. Kalau semuanya uang, ya saya enggak (mau)," tegas Erick Thohir saat itu.

Ia menjelaskan bahwa PSSI memang memberikan bonus atas prestasi, sama seperti pemain lokal, tetapi bukan "gaji" untuk mau menjadi WNI.

"Karena buat saya Merah-Putih itu penting. Habis itu ada bonus, ada reward lain-lain, ya itu bonus untuk pemain," ucap Erick.

Perbedaan Fundamental Dua Program Naturalisasi

Perdebatan ini menyoroti perbedaan fundamental antara pendekatan program naturalisasi di Indonesia dan Malaysia (menurut tudingan pihak luar).

Di Indonesia, PSSI menekankan syarat adanya garis keturunan sebagai dasar utama, yang kemudian diperkuat oleh komitmen dan panggilan jiwa sang pemain.

Sementara itu, skandal dokumen palsu di Malaysia kini justru memicu tudingan bahwa program mereka lebih bersifat transaksional.

Kontroversi ini tidak hanya merusak citra sepak bola Malaysia, tetapi juga memanaskan kembali rivalitas di level Asia Tenggara. (did)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#pemain naturalisasi #Indoensia #pengamat #malaysia #vietnam