SOLOBALAPAN.COM – Sosok Eysan Aksoy, presenter Liga Champions dengan paras memikat, mendadak menjadi sorotan warganet.
Parasnya yang cantik membuat banyak penggemar sepak bola jatuh hati.
Namun, di balik popularitasnya, terungkap fakta mengejutkan, bahwa sosok ini sama sekali tidak nyata—ia hanyalah hasil rekayasa teknologi artificial intelligence atau kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari Daily Mail, Rabu (1/10/2025), Aksoy menjadi viral setelah ditampilkan sebagai penyiar olahraga dengan gaya glamor.
Namun, seluruh gaya hidup, latar belakang, dan ribuan penggemar yang mengaguminya adalah kreasi digital.
Raup Belasan Juta dari Konten Berbayar
Meskipun fiktif, popularitas Aksoy berbuah keuntungan finansial yang menggiurkan bagi sang kreator.
Dalam waktu tujuh bulan sejak akunnya dibuat, Instagram Aksoy telah mengumpulkan lebih dari 43 ribu pengikut.
Akun ini memanfaatkan popularitasnya dengan menawarkan konten berbayar di Patreon dengan tujuh paket berlangganan.
Tarif yang ditawarkan berkisar dari GBP 4 hingga GBP 771,50 per bulan, atau setara dengan sekitar Rp 89.600 hingga Rp 17.280.000.
Konten yang ditawarkan bervariasi, mulai dari foto bernuansa gaya hidup mewah, perjalanan, hingga konten dewasa.
Menurut Daily Mail, akun Aksoy juga aktif di TikTok, X (Twitter), dan YouTube.
Sang kreator cerdik memanfaatkan tren sepak bola dengan menampilkan Aksoy dalam balutan berbagai seragam klub besar Turki, seperti Galatasaray, Fenerbahce, Besiktas, dan Trabzonspor.
Batas Nyata dan Maya Semakin Tipis
Fenomena ini menunjukkan semakin kuatnya peran AI di dunia hiburan digital.
Kasus Aksoy bukan yang pertama, karena influencer AI lain bernama Mia Zelu juga sempat mencuri perhatian di Wimbledon.
Meskipun bagi sebagian penggemar sepak bola langkah ini dianggap penghinaan, para pengikut Aksoy tampak tidak peduli dengan fakta bahwa sosok perempuan itu hanyalah buatan komputer.
Antusiasme penggemar yang melimpah, bahkan membuka jalan bagi pencipta akun untuk meraup keuntungan besar, menegaskan bahwa di era digital, batas antara dunia nyata dan maya semakin tipis, terutama karena belum adanya peraturan jelas yang berlaku terkait etika dan penggunaan Model AI. (dam)
Editor : Damianus Bram