SOLOBALAPAN.COM - Sebuah ironi terjadi di tengah skandal pemain naturalisasi ilegal yang mengguncang sepak bola Malaysia.
Di saat Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) telah mengakui adanya kesalahan, salah satu pemain naturalisasi senior, Liridon Krasniqi, justru melontarkan perlawanan sengit.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pemain berusia 32 tahun ini menuding FIFA telah bertindak tidak adil dan tidak menghormati Malaysia.
Ia bahkan menyerukan seluruh rakyat Malaysia untuk bersatu melancarkan protes.
'Kami Tidak Akan Tunduk pada Ketidakadilan!'
Meskipun namanya tidak termasuk dalam tujuh pemain yang disanksi, Liridon Krasniqi tampaknya berbicara mewakili rekan-rekannya dan program naturalisasi secara keseluruhan.
Ia menolak untuk menerima keputusan FIFA begitu saja.
"Apa yang terjadi sekarang dengan keputusan mendadak ini tidak hanya tak adil, tetapi menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap Malaysia, para pemain, dan penggemar kami," tulis Krasniqi.
Ia pun mengajak seluruh komunitas olahraga Malaysia untuk bersatu. "Kepada rakyat Malaysia, sekaranglah saatnya bersatu, dukung para pemain dan tim, kami tidak akan tunduk pada ketidakadilan," serunya.
Kontras dengan Sikap FAM yang Mengaku Lalai
Sikap perlawanan yang digelorakan oleh Krasniqi ini sangat kontras dengan pernyataan resmi dari FAM.
Sebelumnya, FAM telah mengakui bahwa sanksi dari FIFA ini terjadi akibat adanya "kesalahan teknis dalam proses penyerahan dokumen yang dilakukan oleh staf administrasi."
Pengakuan ini secara tidak langsung menyatakan bahwa pihak federasi telah lalai, berbeda dengan narasi "ketidakadilan" yang disuarakan oleh Krasniqi.
Konteks Sanksi Berat dari FIFA
Sebagai pengingat, FIFA telah menjatuhkan sanksi berat kepada Malaysia, termasuk denda Rp7,3 miliar, larangan bermain selama satu tahun bagi tujuh pemain, dan pembatalan kemenangan 4-0 atas Vietnam yang diubah menjadi kekalahan 0-3.
Kekacauan Internal di Sepak Bola Malaysia
Reaksi yang berbeda-beda dari para pemangku kepentingan menunjukkan adanya kekacauan internal dalam merespons skandal ini.
Di satu sisi, ada figur seperti Tunku Ismail Idris yang sempat menuding Indonesia melakukan intervensi.
Di sisi lain, ada pemain seperti Krasniqi yang menyerukan perlawanan. Sementara itu, FAM sendiri telah mengakui adanya kelalaian.
Situasi carut-marut ini semakin memperburuk citra sepak bola Malaysia di mata dunia, menunjukkan adanya perpecahan dan kurangnya strategi yang terpadu dalam menghadapi krisis. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo