SOLOBALAPAN.COM – Kepareng atau akrab disapa Wareng, Ketua Panser Biru, kembali menyuarakan keresahan mendalam terkait kondisi PSIS Semarang yang kini berada di Liga 2.
Melalui akun Instagram pribadinya, @kepareng_wareng, Wareng menyoroti perbedaan mencolok antara klub yang masih berada di bawah bayang-bayang pengelolaan Yoyok Sukawi dan klub yang sudah lepas dari kendali politisi tersebut.
Dalam unggahan terbarunya, Wareng secara spesifik menyinggung Persik Kendal, tim Liga 4 Indonesia, yang kini dianggap lebih mandiri dan mendapat dukungan nyata dari pemerintah daerah.
“Persik Kendal lepas dari Yoyok ada peran aktif dari bupati langsung beli bus. Semarang kok sepi banget, apa mau nunggu PSIS sampai Liga 4 biar bisa terjual 1 miliar. Mereka masih peduli. Alahhh mbohhh tidak tidak tidak,” tulis Wareng.
Pernyataan tersebut sontak memicu reaksi dari suporter PSIS. Klub legendaris dengan basis pendukung besar ini dinilai tidak mendapatkan dukungan profesional dan perhatian yang semestinya dari para pemangku kepentingan, terutama jika dibandingkan dengan klub daerah lain.
Tepis Tuduhan Politik: 'Sekarang Waktunya Merjuangke PSIS'
Wareng juga menanggapi anggapan sinis yang menyebut kritiknya ditunggangi kepentingan politik.
Ia menegaskan bahwa suaranya murni dari hati seorang suporter sejati yang ingin melihat PSIS menjadi lebih baik dan profesional.
“Kalau yang mengkritik saya katanya ditunggangi kepentingan politik, masih sakit hati. Sekarang waktunya kamu semua yang mengaku pecinta PSIS bersuara. Pemilu sudah selesai, YS sudah kalah. Sekarang waktunya merjuangke PSIS. Apa pada rela kalian semua PSIS dibuat kayak gini? Waktunya bersatu cah. Dari 7 jin sekarang tinggal 1 jin masak tidak bisa, kwak,” tulisnya lagi, menunjukkan kekecewaan mendalam.
Ungkapan "Dari 7 jin sekarang tinggal 1 jin" ditafsirkan sebagai dorongan kepada seluruh elemen suporter untuk bersatu dan melepaskan segala perbedaan, termasuk soal pilihan politik masa lalu, demi menyelamatkan masa depan klub. Ia menekankan bahwa profesionalisme PSIS harus menjadi prioritas utama.
Tekanan untuk Perubahan Total Manajemen
Perbandingan dengan Persik Kendal, di mana Bupati disebut langsung membantu pengadaan bus, memberikan gambaran jelas bahwa Wareng mengharapkan dukungan nyata dari pemimpin daerah Kota Semarang.
Kritik-kritik yang muncul, terutama dari tokoh suporter senior seperti Wareng, menjadi sinyal kuat bagi manajemen PSIS untuk segera melakukan perubahan nyata.
Klub legendaris ini memiliki sejarah panjang dan potensi besar yang terpendam jika dikelola secara profesional, sehat, dan transparan.
Suporter berharap agar PSIS tidak hanya menjadi alat kepentingan, tetapi benar-benar dijalankan dengan visi pengelolaan olahraga dan bisnis yang sehat.
Tanpa langkah nyata dari manajemen, dan sinergi dari pemerintah daerah serta sponsor, kekhawatiran Wareng tentang PSIS yang semakin terpuruk bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. (dam)
Editor : Damianus Bram