SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Laga krusial antara Persis Solo melawan Persebaya Surabaya pada pekan ke-32 Super League 2025/2026 tak hanya menyajikan tensi di lapangan, tetapi juga dinamika di luar stadion.
Sejumlah kelompok suporter memilih melakukan aksi boikot sebagai bentuk protes terhadap kebijakan kenaikan harga tiket yang dinilai minim komunikasi.
Situasi ini memunculkan polarisasi di kalangan pendukung jelang pertandingan yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (9/5/2026).
Baca Juga: Diduga Tiner Jadi Pemicu, Rumah Produksi Sangkar Burung di Mojolaban Sukoharjo Dilalap Api
Boikot sebagai Sinyal Kekecewaan
Aksi boikot muncul dari kekecewaan suporter terhadap keputusan manajemen yang dianggap diambil sepihak, terutama dalam konteks penentuan harga tiket saat dua tribun—utara dan selatan—ditutup akibat sanksi disiplin.
Presiden DPP Pasoepati, Arif Jodi Purnomo, mengakui adanya perbedaan sikap di internal suporter.
“Ada komunitas yang memilih boikot karena kenaikan harga tiket tanpa komunikasi,” ujarnya.
Langkah boikot ini menjadi indikator bahwa persoalan tidak semata soal nominal harga, tetapi juga menyangkut ruang partisipasi suporter dalam pengambilan keputusan.
Dukungan Tetap Mengalir, Meski Tanpa Atribut
Baca Juga: Nostalgia Bareng MLTR Sambil Nyunset, Prambanan Jazz Festival 2026 Usung Tema Celebrate the Joy
Di sisi lain, tidak semua suporter mengambil sikap yang sama. Sebagian tetap memilih hadir dan memberikan dukungan langsung, meski dengan pembatasan tanpa atribut klub.
Pasoepati sendiri memutuskan tetap mendukung tim secara penuh, dengan pertimbangan pentingnya kehadiran suporter dalam menjaga motivasi pemain di tengah situasi kompetisi yang semakin ketat.
“Kami tetap all out untuk Persis sampai akhir kompetisi,” tegas Jodi.
Dilema Ekonomi vs Komunikasi
Dari perspektif manajemen, kenaikan harga tiket disebut sebagai konsekuensi logis dari penutupan dua tribun yang berdampak pada berkurangnya potensi pendapatan.
Namun, di sinilah letak persoalan utama: bukan semata pada kebijakan, melainkan pada proses komunikasi yang dinilai tidak melibatkan suporter sebagai bagian dari ekosistem klub.
Baca Juga: Mobil Terkunci 3 Jam Saat Mesin Hidup, Damkar Boyolali Evakuasi Tanpa Kerusakan
“Hasil komunikasi kami, keputusan harga kemarin memang dilakukan secara sepihak,” ungkap Jodi.
Janji Perbaikan, Ujian Kepercayaan
Manajemen Persis, lanjutnya, telah memberikan komitmen untuk memperbaiki pola komunikasi ke depan, termasuk melibatkan suporter dalam pengambilan kebijakan strategis.
Janji ini menjadi titik penting, namun sekaligus ujian. Sebab, dalam relasi klub dan suporter, kepercayaan tidak dibangun dari satu pernyataan, melainkan dari konsistensi kebijakan.
Lebih dari Sekadar Pertandingan
Situasi ini menunjukkan bahwa sepak bola modern tidak hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga manajemen relasi dengan suporter. Ketika komunikasi tidak berjalan optimal, kebijakan yang secara ekonomi rasional pun bisa berujung resistensi.
Kini, perhatian tidak hanya tertuju pada hasil pertandingan, tetapi juga bagaimana klub merespons dinamika internal suporternya.
Di tengah kompetisi yang memasuki fase krusial, harmoni antara manajemen dan suporter bisa menjadi faktor tak terlihat yang menentukan stabilitas tim. (hj/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto