SOLOBALAPAN.COM, SOLO – Bursa transfer paruh musim BRI Super League 2025/2026 resmi ditutup pada Jumat (6/2/2026).
Namun, alih-alih menyisakan optimisme penuh, Persis Solo justru meninggalkan catatan kelam terkait tata kelola perekrutan pemain asing.
Laskar Sambernyawa seolah mencetak "hat-trick" blunder transfer dalam satu musim kompetisi.
Kasus gagalnya verifikasi striker anyar, Clayton da Silveira da Silva, menambah panjang daftar masalah administrasi yang dialami klub kebanggaan Wong Solo ini.
Padahal, manajemen sempat berjanji akan lebih berhati-hati dan selektif dalam merekrut pemain.
Kronologi Gagalnya Clayton Merumput
Kasus terbaru yang memantik kekecewaan suporter adalah batalnya Clayton da Silva memperkuat tim.
Striker asal Brasil berusia 30 tahun itu sejatinya sudah diumumkan secara resmi melalui akun Instagram klub pada Sabtu (31/1/2026).
Namun, euforia itu hanya bertahan empat hari. PSSI dan operator liga (PT LIB) menyatakan Clayton tidak memenuhi syarat verifikasi administrasi.
Berikut adalah duduk perkara kasus Clayton:
-
Masalah Verifikasi: Klub terakhir Clayton, Diamond Harbour, dinilai berkompetisi di kasta kedua Liga India.
Sesuai regulasi, pemain asing dari India harus berasal dari kasta tertinggi (India Super League).
-
Pembelaan Klub: Persis mengklaim Clayton hanya bermain di laga eksibisi karena liga India musim tersebut tidak bergulir akibat masalah sponsor.
Status kompetitif terakhirnya ada di Perak FC (Malaysia Super League).
-
Solusi Akhir: Banding gagal, Persis akhirnya meminjamkan Clayton ke klub Liga 2, PSMS Medan, agar sang pemain tetap mendapatkan menit bermain.
De Javu Kegagalan Awal Musim
Insiden Clayton ini seolah mengulang mimpi buruk di awal musim.
Publik Kota Bengawan tentu belum lupa dengan dua insiden memalukan sebelumnya yang menunjukkan lemahnya tim scouting dan administrasi klub dalam mengecek latar belakang pemain.
Tercatat, ada tiga kasus besar yang menimpa Persis Solo sepanjang musim 2025/2026:
-
Kasus Fuad Sule (Awal Musim): Didatangkan untuk lini tengah, namun manajemen terlambat mengetahui bahwa ia membawa sanksi larangan bertanding global. Akibatnya, Fuad absen di 9 laga awal.
-
Kasus Mateo Kocijan (Awal Musim): Direkrut di detik akhir sebagai pengganti Fuad. Sudah diumumkan resmi, namun pemain asal Kroasia ini tidak pernah datang ke Solo dan justru bergabung kembali dengan klub lamanya, NK Tehnicar 1974.
-
Kasus Clayton da Silva (Paruh Musim): Gagal verifikasi liga dan harus "dibuang" ke Liga 2.
Janji "Ojo Kapusan Brosur" Diungkit
Rentetan kejadian ini membuat janji manajemen dipertanyakan.
Direktur Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, sebelumnya sempat meminta suporter tenang dan berjanji belajar dari kesalahan masa lalu.
"Yang ada kita bisa belajar dari pengalaman tahun kemarin. Banyak kok teman-teman tanya ke saya via media sosial. Ojo kapusan brosur lagi," ucap Ginda beberapa waktu lalu.
Sayangnya, realita di lapangan menunjukkan bahwa Persis Solo kembali "tertipu" oleh regulasi.
Kini, dengan ditutupnya jendela transfer, Laskar Sambernyawa harus fokus memaksimalkan 11 pemain asing baru yang telah resmi terdaftar demi mendongkrak posisi di sisa musim kompetisi. (hj/nik)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo