Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Persis Solo Lolos dari Sanksi Tambahan, Tapi Dompet Jebol, Segini Denda yang Harus Dibayar!

Antonius Christian • Rabu, 21 Januari 2026 | 13:49 WIB

Suporter Persis Solo menyalakan flare usai tim kebanggaan mereka di tekuk Persita 3-0
Suporter Persis Solo menyalakan flare usai tim kebanggaan mereka di tekuk Persita 3-0

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Aksi penyalaan flare oleh oknum suporter saat laga kandang di Stadion Manahan akhirnya berbuntut panjang.

Persis Solo resmi menerima sanksi denda Rp250 juta dari operator kompetisi. Tidak ada pengurangan poin, tidak ada larangan penonton—namun dompet klub tetap kena getahnya.

Direktur Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, membenarkan bahwa keputusan sanksi sudah diterima manajemen sejak pekan lalu. Menurutnya, hukuman yang dijatuhkan hanya berupa denda finansial tanpa embel-embel tambahan.

“Kalau tidak salah minggu lalu sudah kami terima. Sanksinya denda Rp250 juta. Hanya itu saja,” ujar Ginda, Rabu (21/1).

Baca Juga: Viral Kades Mandi Lumpur, Jalan Rusak di Jenar Baru Dijanjikan Sirtu, Beton Masih Menunggu Nasib

Persis disebut relatif “beruntung” lantaran dalam pertandingan tersebut tidak terjadi kericuhan lanjutan maupun gangguan keamanan serius. Faktor inilah yang membuat klub terhindar dari sanksi tambahan yang lebih menyakitkan.

“Setelah pertandingan tidak ada kericuhan. Jadi tidak ada sanksi tambahan,” katanya.

Meski begitu, nominal denda tetap bukan perkara remeh. Ginda mengakui, Rp250 juta menjadi beban tambahan di tengah upaya klub melakukan pembenahan dan perombakan skuad.

“Nilainya cukup berat juga. Bukan angka kecil. Jelas jadi beban tambahan, apalagi kami masih butuh anggaran untuk merombak beberapa pemain,” ungkapnya.

Manajemen memastikan denda tersebut sudah dibayarkan lunas. Namun kejadian ini disebut sebagai bahan evaluasi besar—baik bagi klub, panpel, maupun suporter.

“Pada prinsipnya dendanya sudah dibayar. Tapi ini jadi evaluasi besar untuk semua,” tegas Ginda.

Menatap laga-laga berikutnya, Persis kembali menekankan pentingnya koordinasi dengan kelompok suporter. Klub, kata Ginda, tidak anti kritik maupun aksi, asal dilakukan sesuai aturan yang berlaku.

“Kami tidak melarang aksi atau kritik. Silakan saja,” ujarnya.

Baca Juga: Yabes Roni Jalani Latihan Perdana di Persis Solo: Siap Main Agresif di Bawah Komando Milomir Seslija!

Menariknya, Ginda bahkan menyebut flare sebenarnya boleh dinyalakan, asal bukan di stadion.

“Menyalakan flare beberapa kali itu kami izinkan, tapi di tempat lain, bukan di stadion. Jadi ke depan koordinasinya harus benar-benar baik,” katanya, seolah menegaskan bahwa masalahnya bukan pada flarenya, melainkan lokasinya.

Ginda juga mengingatkan bahwa Persis masih berada dalam radar pengawasan operator liga. Pengulangan kejadian serupa bisa berujung pada sanksi yang jauh lebih berat.

“Kita masih diawasi. Jangan sampai terulang. Kami butuh dukungan suporter yang mengarah ke kemenangan dan kebaikan tim,” ucapnya.

Untuk laga berikutnya, manajemen memastikan pengamanan akan diperketat. Meski tak secara eksplisit menambah personel, pola sosialisasi dan pengamanan berlapis akan ditingkatkan.

Baca Juga: Bantah Sudah Cerai dari Aurelie Moeremans, Roby Tremonti Kini Tuding Sang Mantan Pakai AI untuk Tulis Memoar Broken Strings

“Yang utama adalah edukasi ke suporter. Itu penting,” jelasnya.

Ginda juga menyinggung banyaknya flare yang sempat diamankan petugas sebagai indikasi bahwa aksi tersebut bukan spontan.

“Kalau satu dua flare, bisa dibilang kelolosan. Tapi kemarin jumlahnya banyak. Artinya memang ada niat aksi,” ungkapnya.

Saat ini, manajemen bersama panpel dan aparat keamanan masih menelusuri bagaimana flare bisa lolos masuk stadion. Dugaan sementara, flare diselundupkan dengan berbagai modus.

“Bisa lewat makanan, penonton tertentu, atau mungkin lewat penonton perempuan karena penggeledahannya berbeda. Tapi ini masih evaluasi,” katanya.

Ia mengakui pemeriksaan penonton juga punya dilema. Terlalu ketat berpotensi menghambat arus masuk, terlalu longgar berisiko pelanggaran.

“Kita harus cari titik tengahnya,” imbuhnya.

Di akhir, Ginda kembali menegaskan bahwa kritik tetap sah, selama tidak melanggar aturan. Ia mencontohkan aksi pelemparan botol yang langsung ditindak.

“Yang lempar botol langsung diamankan. Bahkan sebelum petugas turun, sudah ditegur suporter lain. Itu contoh kritik yang tidak dibenarkan,” pungkasnya. (atn/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#stadion manahan #pengamanan berlapis #Penyalaan Flare #Ginda Ferachtriawan #persis solo #sanksi denda #operator kompetisi #kelompok suporter