SOLOBALAPAN.COM - Kompetisi Super League 2025/2026 benar-benar menjadi "kursi panas" yang mematikan bagi para juru taktik.
Putaran pertama bahkan belum tuntas, namun badai pemecatan sudah melanda hebat.
Tercatat, setidaknya tujuh pelatih kepala harus angkat koper lebih cepat karena gagal memenuhi ekspektasi tinggi manajemen dan suporter.
Fenomena "gugur gunung" para pelatih ini menjadi peringatan keras bahwa persaingan musim ini tidak memberi ruang bagi kegagalan.
Di tengah badai ini, Persis Solo kini menjadi sorotan terkait nasib pelatihnya, Peter de Roo.
Daftar Pelatih yang Tumbang
Satu per satu nama besar berguguran dari pinggir lapangan.
-
Eduardo Almeida (Semen Padang) dan Mario Lemos (Persijap Jepara) menjadi korban awal akibat rentetan hasil negatif.
-
Tren pemecatan berlanjut ke nama-nama beken seperti Alfredo Vera (Madura United), Bernardo Tavares (PSM Makassar), Eduardo Perez (Persebaya Surabaya), hingga Ong Kim Swee (Persik Kediri).
Persis Solo: Peter de Roo 'Abu-abu', Tithan Terganjal Lisensi
Di kubu Persis Solo, status Peter de Roo masih menggantung di wilayah abu-abu.
Meski belum ada pengumuman pemecatan resmi, pelatih asal Belanda itu sudah absen mendampingi tim dalam tiga laga terakhir.
Posisi pelatih saat ini diisi oleh caretaker Tithan Wulung Suryata. Meski kinerjanya cukup menjanjikan, Tithan dipastikan tidak bisa diangkat menjadi pelatih kepala tetap.
Alasannya adalah regulasi. Tithan baru mengantongi lisensi A AFC, sedangkan regulasi I.League mewajibkan pelatih kepala memiliki sertifikat minimal AFC Pro Diploma.
Manajemen Siapkan Gebrakan: 'Jangan Terburu-buru'
Direktur Persis Solo, Ginda Ferachtriawan, menegaskan bahwa manajemen tidak tinggal diam.
Evaluasi besar-besaran sedang dilakukan, tidak hanya untuk posisi pelatih tetapi juga komposisi pemain, termasuk opsi peminjaman.
"Gebrakan itu akan kita lakukan di saat yang tepat. Jangan terburu-buru, karena ada regulasi harus kita ikuti juga,” ujar Ginda, Rabu (3/12/2025).
Mengenai kriteria pengganti Peter de Roo, Ginda tidak mematok standar harus asing atau lokal. Syarat utamanya adalah kemampuan mengangkat mentalitas tim.
“Saya rasa bukan masalah lokal atau asing ya, tetapi pelatih yang mampu mengangkat tim ini... dan bisa memberi semangat baru kepada semua suporter dan penonton,” tegasnya. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo