SOLOBALAPAN.COM - Kabar pemecatan Patrick Kluivert dari kursi pelatih Timnas Indonesia menjadi perbincangan hangat di dunia sepak bola nasional, tak terkecuali di kalangan pelatih Liga 1.
Juru taktik Persis Solo yang juga merupakan kompatriot Kluivert dari Belanda, Peter de Roo, turut memberikan pandangannya.
Peter de Roo enggan menilai keputusan PSSI secara hitam-putih.
Namun, ia memberikan komentar filosofis yang menyoroti betapa kejamnya profesi pelatih yang seringkali dinilai hanya dari hasil akhir, bukan proses.
'Harus Menganalisis Proses, Bukan Hanya Hasil'
Saat ditemui awak media pada Senin (20/10/2025), Peter de Roo menjelaskan bahwa membangun sebuah tim dengan filosofi baru tidak bisa dilakukan secara instan.
Menurutnya, publik dan para pengambil keputusan harus memahami bahwa sering kali sebuah tim akan mengalami kemunduran terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa membaik.
“Yang saya tahu, pelatih selalu dinilai berdasarkan hasil. Kelemahan dari hal tersebut adalah keputusan itu tidak selalu bijaksana,” ujar Peter de Roo.
“Datang ke klub baru, lalu mengubah gaya bermain, itu tidak akan langsung membaik di hari pertama. Memperkenalkan gaya bermain baru biasanya akan memburuk dulu sebelum membaik," jelasnya.
"Jadi sebagai pengambil keputusan, Anda juga harus menganalisis proses, bukan hanya hasil.”
Memahami Realitas Pekerjaan Pelatih
Meski begitu, pelatih berlisensi UEFA Pro ini pada akhirnya tetap realistis.
Ia memahami bahwa di dunia sepak bola profesional, hasil di papan skor adalah tolok ukur utama yang tidak bisa diabaikan.
"Tapi saya tidak bisa menilai apakah itu (pemecatan Kluivert) benar atau tidak. Namun dari sudut pandang luar, begitulah cara saya melihatnya. Tapi pada akhirnya, hasil jadi ukuran — begitulah cara kerjanya,” tandasnya.
Konteks Pemecatan Patrick Kluivert
Patrick Kluivert secara resmi telah diakhiri kontraknya oleh PSSI setelah ia gagal memenuhi target di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Timnas Indonesia menelan dua kekalahan beruntun dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1), yang memupus mimpi Skuad Garuda untuk lolos ke Piala Dunia.
Komentar Peter de Roo ini menjadi sebuah refleksi mendalam dari seorang pelatih yang memahami betul bahwa tekanan untuk meraih hasil instan adalah musuh terbesar dari sebuah proses pembangunan tim. (nis/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo