SOLOBALAPAN.COM – Dukungan yang biasanya membahana di Stadion Manahan bagi Persis Solo kini berubah menjadi pernyataan frustrasi.
Hasil imbang 2-2 melawan Arema FC pada laga kandang BRI Super League 2025/2026 pekan ketujuh, Sabtu (27/9/2025) malam, menahan Laskar Sambernyawa -Julukan Persis Solo- di zona merah klasemen dan memicu protes keras dari suporter.
Puncak kekecewaan suporter tersaji dalam bentuk spanduk besar bertuliskan "Posisi Bwosss?" yang dibentangkan di tribun utara.
Pesan singkat, tetapi bernada sindiran ini, langsung menjadi sorotan utama.
Spanduk tersebut, yang menggunakan bahasa sehari-hari Solo (Bwosss diartikan sebagai bos atau pemimpin), ditafsirkan sebagai pertanyaan terbuka dan kritik tajam kepada jajaran pelatih (Peter de Roo) dan manajemen mengenai arah tim yang terus terpuruk.
Catatan Buruk dan Tekanan di Zona Merah
Hasil seri ini memperpanjang catatan buruk Persis di awal musim. Dari tujuh pertandingan yang sudah dijalani, tim hanya mampu meraih satu kemenangan, disertai empat kekalahan, dan dua hasil imbang.
Total perolehan lima poin menempatkan Persis Solo di peringkat ke-16 klasemen, hanya satu tingkat di atas dasar.
Start yang buruk ini, yang tak kunjung menunjukkan perbaikan signifikan, menambah tekanan berat bagi tim.
Meskipun Arema FC datang ke Solo bukan tanpa masalah internal, mereka tetap mampu mencuri satu poin penuh.
Bagi banyak pendukung setia, skor 2-2 di kandang sendiri saat tim berada di zona degradasi, sama rasanya dengan kekalahan.
Spanduk "Posisi Bwosss?" tetap terbentang di tribun, seolah mengiringi peluit akhir dan menegaskan bahwa kesabaran pendukung mulai menipis.
Simbol protes ini berbicara lebih lantang daripada yel-yel, menunjukkan bahwa suporter menuntut pertanggungjawaban dan formula kemenangan yang nyata.
Tuntutan Kemenangan di Pekan Depan
Tidak ada pernyataan resmi dari manajemen atau pelatih setelah pertandingan mengenai protes spanduk tersebut. Namun, pesan suporter telah tersampaikan: kepemimpinan tim dipertanyakan.
Dengan kompetisi yang masih panjang, Persis memang masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan.
Jadwal pekan depan mempertemukan mereka dengan tim papan tengah yang relatif lebih ringan di atas kertas.
Namun, tekanan untuk meraih tiga poin penuh akan jauh lebih besar.
Kemenangan kandang menjadi kebutuhan yang sangat mendesak, bukan hanya untuk memperbaiki posisi di klasemen, tetapi juga untuk meredam ketegangan yang muncul kembali di tribun.
Stadion Manahan harus kembali menjadi benteng yang menakutkan, seperti reputasi yang dibangun musim lalu. (dam)
Editor : Damianus Bram