SOLOBALAPAN.COM - "Penyakit lama" Persis Solo kembali kambuh di saat yang paling krusial.
Setelah berjuang menahan imbang pemuncak klasemen, Borneo FC, selama 90 menit, gawang Laskar Sambernyawa justru jebol di masa injury time.
Kekalahan menyakitkan 0-1 di Stadion Segiri, Samarinda, pada Senin (22/9) malam, menjadi bukti nyata bahwa masalah fokus di menit-menit akhir masih menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar bagi tim.
Ini adalah kedua kalinya secara beruntun Persis Solo kehilangan poin akibat gol yang tercipta di penghujung laga, sebuah tren mengkhawatirkan yang membuat pelatih Peter de Roo frustrasi.
Terhukum Lagi di Injury Time
Gol tunggal kemenangan Borneo FC yang dicetak oleh Mariano Peralta di masa tambahan waktu menjadi ulangan dari mimpi buruk di pekan sebelumnya.
Saat itu, Persis juga takluk 1-2 dari Persijap Jepara akibat gol penalti pada menit ke-90+13.
Pola kebobolan di menit-menit krusial ini menunjukkan adanya masalah konsentrasi yang serius di dalam skuad.
Analisis Peter de Roo: Fenomena di Liga Indonesia
Pelatih kepala Peter de Roo tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Menurutnya, kebobolan di menit akhir adalah sebuah fenomena yang sangat sering terjadi di Liga Indonesia, yang ia yakini berkaitan erat dengan fokus pemain.
"Setiap minggu di Indonesia, banyak gol yang tercipta di waktu tambahan. Saya sebenarnya sudah sering membahas hal itu. Karena ya, saya pikir hal itu ada hubungannya dengan fokus," ujar de Roo.
Meskipun ia menilai timnya sudah cukup fokus di laga tersebut, satu kelengahan kecil terbukti berakibat fatal.
Ia juga secara tersirat mengkritik posisi kiper Muhammad Riyandi saat gol terjadi.
"Itu menyedihkan... tapi saya pikir kiper kita tidak terlihat terlalu baik di situ. Padahal dia sebenarnya bermain sangat baik malam itu," sambungnya.
Mentalitas yang Perlu Dibenahi
Hilangnya fokus di menit-menit akhir bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan sudah menyangkut mentalitas.
Kemampuan untuk tetap tenang dan disiplin hingga peluit panjang dibunyikan adalah ciri khas tim juara.
Bagi Persis Solo, ini adalah aspek yang harus segera dibenahi jika mereka ingin bersaing di papan atas.
Kekalahan menyakitkan di Samarinda ini menjadi pelajaran mahal.
Laskar Sambernyawa dituntut untuk segera menemukan obat bagi "penyakit" kronis mereka ini sebelum semakin terpuruk di klasemen BRI Super League. (nis/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo