SOLOBALAPAN.COM - Persis Solo akhirnya terhindar dari jeratan degradasi di Liga 1 2024/2025 setelah melewati musim yang penuh tekanan dan dinamika.
Kepastian bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia disambut haru oleh para penggemarnya.
Dua di antaranya, Rahmadi Setyono dan Soni Darsono, menunjukkan rasa syukur mereka lewat aksi nyata: menunaikan nazar berjalan kaki hampir 10 kilometer.
Langit Solo malam itu masih diselimuti gerimis ketika dua pria berkaus merah marun melangkah keluar dari Stadion Manahan.
Di balik langkah kaki yang mantap itu tersimpan janji emosional yang telah mereka ikrarkan sejak Persis terancam turun kasta.
Rahmadi dan Soni bukan hanya fans biasa.
Mereka mewakili semangat tulus dan kesetiaan Pasoepati—suporter fanatik Persis Solo—yang tak pernah surut meski tim kesayangan mereka berada di ujung tanduk.
Sejak awal musim, performa Persis Solo tergolong inkonsisten. Meski diperkuat pemain-pemain seperti Sho Yamamoto, hasil buruk kerap mewarnai laga demi laga.
Situasi semakin rumit hingga klub harus melakukan pergantian pelatih. Tapi di tengah krisis itu, semangat di tribun tidak pernah luntur.
Dua sahabat ini pun membuat nazar yang terbilang unik: jika Persis berhasil bertahan di Liga 1, mereka akan berjalan kaki dari Stadion Manahan menuju kampung halaman mereka di Mojolaban.
Dan momen itu akhirnya datang pada Sabtu, 17 Mei 2025. Persis bermain imbang 1-1 melawan Dewa United, sedangkan Barito Putera kalah dari PSM Makassar.
Kombinasi hasil tersebut memastikan Persis tetap bertahan.
“Kami lega. Ini bukan soal skor semata, tapi tentang ikatan batin dengan Persis,” ungkap Rahmadi.
Karena hujan deras yang turun pada malam pertandingan, keduanya memutuskan menunda nazar selama sehari.
Pada Minggu malam pukul 19.23, mereka memulai perjalanan dari Manahan, diiringi belasan Pasoepati yang ikut mengiringi sambil menyanyikan yel-yel: “Satu Jiwa, Satu Cinta, Selamanya Sambernyawa.”
Sepanjang perjalanan sejauh 9,9 km, mereka terus menyebarkan semangat positif kepada warga yang menyapa, menyuarakan kecintaan mereka kepada klub, dan tak henti bernyanyi.
Perjalanan tersebut berakhir sekitar pukul 21.35 di Mojolaban.
Di sana, kembang api dinyalakan—menjadi simbol nazar yang telah ditunaikan dengan sepenuh hati.
“Ini untuk Persis, untuk kebanggaan kami, untuk janji yang tak pernah kami ingkari,” ujar Rahmadi sambil mengatur napas setelah tiba.
Kini, setelah lolos dari zona merah, tantangan musim depan sudah menanti.
Tapi satu hal pasti: bagi Rahmadi, Soni, dan jutaan suporter lainnya, menjadi pendukung Persis Solo bukan soal kemenangan atau gelar, melainkan tentang kesetiaan tanpa syarat.
Apa pun yang terjadi, Laskar Sambernyawa tetap di hati mereka. (nis/did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo