SOLOBALAPAN.COM - Kekalahan menyakitkan yang diderita Persis Solo dari Malut United dengan skor 1-3 di Stadion Manahan, Sabtu (12/4), meninggalkan luka mendalam bagi Laskar Sambernyawa.
Bertanding di kandang sendiri dengan ribuan pendukung yang memadati tribun, Persis justru harus pulang dengan tangan hampa dan rasa malu.
Kekalahan tersebut menjadi yang ke-14 musim ini—hasil yang semakin menenggelamkan posisi mereka di papan bawah klasemen Liga 1.
Lini Belakang Persis Kacau, Sayuri Bersaudara Menggila
Laga kontra Malut United memperlihatkan buruknya organisasi pertahanan Persis.
Duet Yakob dan Yance Sayuri tampil memukau dengan kecepatan dan kreativitas yang mengacak-acak lini belakang tuan rumah.
Tak mampu membendung serangan demi serangan, Persis pun gagal mencuri poin penting yang mereka butuhkan untuk menjauh dari ancaman degradasi.
Persis Solo Terjebak di Posisi 15
Saat ini, Persis tertahan di peringkat ke-15 dengan 26 poin dari 28 pertandingan—hanya unggul tipis dari zona merah yang ditempati oleh PSIS Semarang (25 poin), Semen Padang (22 poin), dan PSS Sleman (22 poin).
Posisi ini jelas belum aman, dan setiap pertandingan ke depan kini jadi laga hidup-mati.
Ong Kim Swee: "Kami Tidak Boleh Beralasan Lagi"
Pelatih Ong Kim Swee tak menutupi kekecewaannya. Dalam sesi jumpa pers, pelatih asal Malaysia itu menyoroti kegagalan timnya dalam memanfaatkan peluang.
“Kami tidak memaksimalkan peluang yang didapat, dan apabila berhadapan dengan tim yang memiliki pemain berkualitas seperti Malut, mereka mampu menyempurnakan peluang yang ada,” jelas Ong.
Ia juga menekankan bahwa masih ada enam pertandingan tersisa, dan tim harus segera bangkit.
"Kami kecewa, namun tidak boleh berhenti di sini. Masih ada pertandingan-pertandingan berikutnya dan tim-tim lain juga berjuang keluar dari zona merah," tegasnya.
Eky Taufik: “Kami Harus Malu dan Introspeksi”
Bek senior Eky Taufik ikut mengungkapkan rasa kecewanya. Ia menilai seluruh pemain seharusnya merasa malu karena tak mampu tampil maksimal di hadapan pendukung sendiri.
“Hasil yang sangat buruk. Kami harus introspeksi diri dan malu terhadap pendukung. Dalam kondisi klasemen seperti ini, seharusnya kami lebih lapar mencari poin,” ujar Eky.
Laga Hidup-Mati vs Barito Putera
Laga selanjutnya melawan Barito Putera pada Sabtu, 19 April di Stadion Demang Lehman, akan menjadi ujian besar berikutnya.
Dengan selisih hanya tiga poin, Barito pun masih terlibat dalam persaingan menghindari zona degradasi.
Pada pertemuan pertama musim ini, kedua tim bermain imbang tanpa gol di Manahan.
Kini, dengan tekanan yang semakin besar, Barito Putera bisa jadi pelampiasan amarah Persis Solo—atau justru jadi batu sandungan yang memperparah situasi Laskar Sambernyawa.
Jelang akhir musim, tensi Liga 1 makin tinggi. Setiap pertandingan seperti laga final.
Akankah Persis bangkit di momen genting ini, atau justru tenggelam makin dalam? Kita tunggu hasilnya di Sabtu mendatang. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo