SOLOBALAPAN.COM - Ada sebuah lirik lagu ikonik yang dulunya kerap dinyanyikan Pasoepati saat mendukung Persis Solo berlaga.
Kira-kira berikut lirik dalam lagu tersebut:
Merah kami tak akan pernah terganti, semangat inipun takkan pernah mati, ayo Persis Solo, Laskar Sambernyawa, jadilah juara.
Sayang kini situasinya berubah drastis tak seperti di lirik di atas. Ya, Pasoepati sudah tak lagi seperti dulu.
Di dalam stadion jumlahnya semakin menyusut. Jika dulu hampir semua tribun diisi oleh ribuan Pasoepati, kini hanya ada di beberapa titik saja.
Itupun jumlah massanya terlihat cukup sedikit di atas tribun yang bergerombol.
Saat ini Pasoepati biasanya terlihat bergerombol di tribun utara dan selatan Stadion Manahan.
Sayang jumlahnya terbilang sedikit, jauh dibandingkan apa yang terlihat 10 tahun lalu.
Itupun Pasoepati harus berbagi tribun dengan komunitas lainnya.
Di tribun utara Pasoepati Curva Nord satu tribun dengan Garis Keras (GK) Sambernyawa.
Sementara itu, Pasoepati Mboergadoel di tribun selatan satu tribun dengan komunitas Ultras 1923.
Sementara itu Pasoepati Gate B7 yang dulu membara di tribun timur kini semakin menyusut anggotanya.
Suaranya juga kalah lantang dengan elemen komunitas suporter lainnya, yakni Surakartans di tribun B6 dan First Mangkoenegoro atau FM 1923 di tribun B8.
Surakartans dan First Mangkoenegoro tumbuh secara mandiri sejak beberapa tahun lalu.
Surakartans dulu berdiri pada 2014 dengan nama awal B6. Beberapa anggotanya dulu sempat jadi anggota Pasoepati.
Komunitas ini berdiri dengan membawa kultur suporter ala Liga Inggris.
Namun gelombang besar pecahnya Pasoepati muncul pada 2020. Satu persatu anggota Pasoepati muncul.
Beberapa komunitas kecil di bawah bendera Pasoepati juga mundur dan mengibarkan benderanya sendiri secara mandiri.
Sebagai contoh, Ultras 1923 memutuskan untuk keluar dari Pasoepati dan membentangkan benderanya sendiri. Dulunya Ultras 1923 bernama Pasoepati Ultras.
Begitu pula GK Sambernyawa yang keluar 2021. GK merupakan metamorfosis dari Pasoepati Garis Keras (PGK).
Mereka adalah salah satu suku yang sempat menginduk ke DPP Pasoepati. Namun mereka mundur secara resmi pada Juni 2022 lalu.
"Saya rasa itu dinamika. Pasoepati itu cair. Maksudnya bisa masuk, bisa keluar. Bisa juga masuk lagi. Suporter kan relawan, dan sukarela," jelas pendiri Pasoepati Mayor Haristanto.
"Mereka bersekutu dengan kelompoknya masing-masing, ya silahkan. Itu sebuah hak," ucapnya.
Jika dulu di Solo zaman dulu hanya ada satu komunitas suporter saja, kini tumbuh menjadi lima komunitas.
Mayor mengakui hal tersebut memang jadi sebuah dinamika.
Namun dia berharap walau berbeda-beda bendera, tak ada gesekan yang terjadi antar suporter di Solo.
"Namun sungguh sangat memalukan kalau antar mereka justru terjadi permusuhan," kata Mayor.
"Sesama warga Solo kok bermusuhan, kan saru dan tidak elok."
"Saya tidak masalah jika Pasoepati j lan sendiri, mereka (komunitas lain) juga jalan sendiri."
"Tidak apa-apa dengan warnanya masing-masing, terpenting jaga persaudaraan sportivitas, jaga nama Solo dan Persis Solo yang sama-sama kita dukung," imbuhnya.
Stadion Manahan juga tak lagi memerah. Kini sebagian besar berwarna hitam, mengingat komunitas lain lebih akrab dengan kostum serba hitam.
"Kalau saya bisa berharap, ya harapannya merah kembali,"
"Merahkan Stadion Manahan. Karena tim yang kita dukung itu merah. Jersey home Persis kan berwarna merah," (nis/nik/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro