Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Sejarah Pasoepati, Guru Berbagai Komunitas Suporter yang Awalnya Tidak Dibentuk untuk Mendukung Persis Solo

Mannisa Elfira • Sabtu, 13 April 2024 | 23:30 WIB
BERBAGI ILMU: Presiden Pasoepati Mayor Haristanto (kiri) saat mengajari ajari atraksi suporter Manado, Persmanisti, 3 Mei 2002 silam. (DOK. PRIBADI MAYOR HARISTANTO)
BERBAGI ILMU: Presiden Pasoepati Mayor Haristanto (kiri) saat mengajari ajari atraksi suporter Manado, Persmanisti, 3 Mei 2002 silam. (DOK. PRIBADI MAYOR HARISTANTO)

SOLOBALAPAN.COM - Banyak orang memahami Pasoepati sebagai komunitas pendukung Persis Solo.

Bahkan kelompok ini punya komunitas di berbagai negara di luar negeri, mulai dari Jepang, hingga Korea Selatan.

Di dalam negeri, Pasoepati juga sempat jadi guru dari berbagai komunitas suporter. Salah satunya terjadi di awal berdirinya mereka.

"Saya pernah diundang ke Makassar. Kemudian diundang ke Pekanbaru, hingga ke Manado untuk menularkan spirit persuporteran," jelas pendiri Pasoepati Mayor Haristanto.

"Padahal Pasoepati lebih muda dibandingkan kelompok besar suporter lain saat itu," ujarnya.

Ya, nama Pasoepati juga tercatat ikut melahirkan banyak komunitas di luar Solo.

Seperti Asykar Theking pendukung klub PSPS Riau dan The Macz Man, fans PSM Makassar. Dua-duanya terjadi 2001 silam.

"Contoh ke sana mengajarkan gerakan suporter. Kami berterima kasih (telah diundang)," lanjut Mayor.

"Kami juga ikut menyadarkan bahwa tim sepak bola idealnya punya kelompok suporter. Suporter bersahabat, atraktif, dan cinta damai," ungkapnya.

Bicara ke belakang, Pasoepati juga awalnya didirikan bukan untuk mendukung Persis Solo.

Pasoepati berdiri khusus untuk mendukung Pelita Solo, 2000 silam.

Pelita adalah klub asal Jakarta yang dua musim (2000-2002) memutuskan pindah bermarkas ke Stadion Manahan.

Nama panjang Pasoepati awalnya adalah Pasukan Suporter Pelita Sejati.

Namun, pada 2003 Pelita pindah ke luar Solo, dan gantian Pasoepati mendukung Persijatim Solo FC yang pindah dari Jakarta ke Kota Bengawan.

Nama panjang Pasoepati juga berubah jadi Pasukan Suporter Paling Sejati.

Hingga akhirnya pada 2004 Persijatim hengkang ke Palembang.

Pasoepati mengikrarkan diri ganti dukungan ke klub lokal Persis Solo yang saat itu tengah berjuang di kasta ketiga Liga Indonesia (Divisi II).

“Masa keemasan Pasoepati bisa dibilang memang era 2000an, lalu berlanjut 2007 saat Persis Solo naik di kasta tertinggi liga Indonesia," ungkap Mayor.

"Saat itu Stadion Manahan selalu terisi penuh. Zaman 2000 bahkan saat lawan PSIS Semarang, penonton membludak hingga masuk di sentel ban,” tuturnya.

Sayangnya itu kini hanya tinggal kenangan manis, mengingat lambat laun anggota Pasoepati kian menyusut.

Situasinya di atas tribun saat ini, layaknya Slemania yang kalah pamor dari Brigata Curva Sud (BCS) di Stadion Maguwoharjo saat mendukung klub yang sama, yakni PSS Sleman.

Jika tak mau hilang eksistensinya karena perkembangan zaman, Pasoepati tentu harus berbenah.

Khususnya, mereka harus menguatkan lagi akar rumputnya, agar regenerasi deras muncul ke komunitas mereka untuk kembali membesar. (nis/nik/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#persis #sejarah #pasoepati #solo