SOLOBALAPAN.COM - Setidaknya, saat ini ada lima komunitas pendukung Persis Solo.
Mulai dari Pasoepati, Surakartans (B6), Ultras 1923, Garis Keras Sambernyawa (GK) dan First Mangkoenegoro (FM 1923).
Mereka menyebar di tiga tribun berbeda, yakni utara, timur, dan selatan.
Tribun utara ada Pasoepati dan GK, tribun timur ada Surakartans dan FM 1923, lalu di tribun selatan Ultras 1923 bersanding dengan Pasoepati.
Walau berbeda-beda bendera, komunitas ini tetap loyal dan kritis dalam mendukung Persis Solo berlaga. Baik laga kandang maupun tandang.
Dalam perkembangannya sebagian besar komunitas baru, dulunya anggotanya sempat jadi bagian dari Pasoepati.
Bahkan, Ultras dan GK dulunya sempat jadi bagian dari anggota DPP Pasoepati, namun seiring waktu mereka memutuskan untuk jadi independen.
“Perencanaan untuk berdikari (berdiri di bawah kaki sendiri) memang ide dari semua anggota Ultras," terang dedengkot Ultras 1923.
"Kami ingin lebih mandiri dalam mengelola komunitas kami sendiri."
"Tentunya dengan cara kami sendiri, dan dengan style kami sendiri,” jelasnya.
Alasan yang sama juga dilontarkan oleh GK, yang dulunya bernama Pasoepati Garis Keras.
GK keluar dari Pasoepati dalam sebuah pengumuman resmi ke publik, 10 Juni 2022 silam.
GK memang tak akan melupakan sejarah yang sudah mereka jalani di dunia persuporteran.
Namun untuk kedepannya, komunitas ini juga punya langkah untuk terus berkembang secara organisasi.
"Simpelnya Persis Solo itu rumah. Kami (GK), Pasoepati, Ultras, dan beberapa kawan-kawan yang sekarang ke Surakartans itu ibarat anak," jelas seorang Koordinator Garis Keras Sambernyawa Didik Purnomo.
"Yang mana semakin menginjak dewasa, kami butuh ruang atau kamar untuk berekspresi," ujarnya.
Menurut Didik, mereka membutuhkan ruang berekspresi sendiri. Sehingga memutuskan untuk keluar dari Pasoepati dan membentangkan benderanya sendiri.
"Dinamika sepak bola Solo ini patut di apresiasi. Banyak kultur di dalamnya dengan muara yang sama, Persis Solo," kata Didik.
"Yang jelas harapan saya dan kawan-kawan, jangan sampai suatu komunitas atau kelompok dijadikan ajang kendaraan politik apapun itu warnanya," imbuhnya.
Berbeda dengan dua komunitas di atas, Surakartans dan FM 1923 tak ada deklarasi atau kesepakatan bersama keluar dari Pasoepati.
Sejak awal berdiri, konsep jadi komunitas yang merdeka sudah diikrarkan komunitas ini.
FM 1923 awalnya berdiri dengan nama Pasoepati B8. Nama ini dipilih lantaran saat itu hanya ada satu komunitas di Solo yakni Pasoepati.
Namun, FM 192 menegaskan diawal berdiri mereka tak masuk dalam keanggotaan resmi DPP Pasoepati.
Kalau bicara Surakartans, bisa dibilang jadi komunitas yang jumlah anggotanya di atas tribun lebih banyak ketimbang komunitas lainnya.
Komunitas ini tak hanya akrab di atas tribun atau di beberapa konser musik saja, namun juga sampai di acara di luar lapangan lainnya. (nis/nik/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro