Awas Baterai Mobil Listrik Cepat Drop! Hindari 5 Kebiasaan Buruk yang Sering Dianggap Sepele

Damianus Bram • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 10:07 WIB
Peserta touring kendaraan listrik tengah mengisi baterai mobil listriknya di SPKLU milik Kantor PLN UP3 Surakarta, Selasa (8/11). Kemenhub menggelar touring kendaraan listrik berbasis baterai start dari Jakarta dan finish di Bali. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Peserta touring kendaraan listrik tengah mengisi baterai mobil listriknya di SPKLU milik Kantor PLN UP3 Surakarta, Selasa (8/11). Kemenhub menggelar touring kendaraan listrik berbasis baterai start dari Jakarta dan finish di Bali. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

 

SOLOBALAPAN.COM – Komponen baterai merupakan jantung utama bagi setiap kendaraan listrik (Electric Vehicle / EV). Oleh sebab itu, menjaga kesehatan daya dan performa baterai menjadi prioritas mutlak bagi para pemilik yang menginginkan masa pakai kendaraan dalam jangka panjang.

Tanpa disadari, berbagai kebiasaan kecil dalam penggunaan sehari-hari maupun pola pengisian daya (charging) dapat mempercepat proses penurunan kapasitas serta kualitas baterai.

Berikut 5 kebiasaan yang wajib dihindari agar baterai mobil listrik kamu tidak cepat drop:

1. Terlalu Sering Mengisi Daya hingga 100 Persen

Mengisi daya hingga kapasitas penuh memang menjanjikan jarak tempuh yang lebih jauh. Namun untuk aktivitas harian, kamu tidak perlu selalu mengisi baterai hingga 100 persen.

Mengikuti batas rekomendasi pengisian rutin dari produsen kendaraan (biasanya di kisaran 80–85 persen) sangat ampuh menjaga stabilitas cell baterai. Pengisian penuh 100 persen sebaiknya hanya dilakukan saat hendak melakukan perjalanan jauh.

Baca Juga: Viral Influencer Curhat Shockbreaker BYD Sealion 7 Patah dalam Setahun, Netizen Pertanyakan Kualitas Premium Mobil Listrik

2. Membiarkan Baterai Terkuras Habis hingga 0 Persen

Menunda pengisian hingga kapasitas baterai berada di kondisi kritis atau hampir habis merupakan kebiasaan buruk.

Kondisi daya yang terlalu rendah meningkatkan tekanan kimiawi pada elemen baterai dan memicu risiko degradasi lebih cepat.

Usahakan untuk segera melakukan charging saat daya baterai menyentuh angka 20 persen agar kondisi kesehatan baterai (State of Health) tetap terjaga.

3. Terlalu Sering Mengandalkan Fitur Fast Charging

Fasilitas fast charging (DC Fast Charger) memang sangat membantu ketika berada dalam situasi darurat atau perjalanan lintas kota.

Namun, arus listrik bertegangan sangat tinggi yang dihantarkan secara terus-menerus dapat menghasilkan panas berlebih pada komponen baterai.

Gunakan fast charging secara bijak dan utamakan metode pengisian normal (AC Charging) untuk kebutuhan harian di rumah.

4. Membiarkan Mobil Terparkir Lama dalam Kondisi Baterai Penuh atau Kosong

Jika kamu berencana meninggalkan mobil listrik dalam jangka waktu cukup lama (misalnya saat mudik atau bepergian ke luar kota), hindari meninggalkannya dalam posisi baterai 100 persen atau di bawah 10 persen.

Kondisi ekstrim tersebut dapat mempercepat proses penuaan sel baterai. Produsen umumnya menyarankan untuk menyimpan kendaraan dengan kapasitas baterai di kisaran 40 hingga 60 persen.

5. Mengabaikan Manajemen Suhu Baterai

Suhu udara yang terlalu panas maupun sangat dingin sangat memengaruhi performa dan proses kimiawi di dalam baterai.

Meski mobil listrik modern telah dilengkapi Thermal Management System, memarkirkan kendaraan di bawah paparan terik matahari langsung saat daya diisi tetap berisiko meningkatkan suhu baterai secara drastis. Sebisa mungkin, lakukan pengisian daya di area yang teduh atau beratap. (dam)

Editor : Damianus Bram
baterai ev charging mobil listrik baterai