Motor Bukan Sekadar Alat Transportasi: Ada Gengsi Di Balik Jor-Joran Modifikasi

Ferry Ardi Susanto • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi Hobi Modifikasi Motor. (AI Generated)
Ilustrasi hobi modifikasi motor. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM - Di sebuah sudut kota, suara mesin motor yang telah dimodifikasi terdengar berbeda dari kendaraan pada umumnya.

Knalpot, velg, suspensi, lampu, hingga detail bodi dipilih dengan perhitungan.

Sebagian pemilik bahkan rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk mengubah motor standar menjadi kendaraan yang dianggap lebih mencerminkan dirinya.

Bagi mereka, motor bukan lagi sekadar alat transportasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ia telah menjadi kanvas untuk menunjukkan selera, identitas, sekaligus posisi seseorang di tengah komunitas.

Baca Juga: Buntut Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026! PSSI Minta Suporter Tak Hujat Skuad Garuda

Namun, di balik kecintaan terhadap dunia modifikasi, terdapat fenomena yang lebih dalam: ketika kendaraan mulai digunakan sebagai alat untuk memperoleh pengakuan.

Modifikasi motor sebenarnya bukan budaya baru.

Sejak lama, para pehobi mengubah kendaraan mereka untuk meningkatkan performa, kenyamanan, maupun tampilan.

Ada yang mengganti komponen karena kebutuhan teknis, ada pula yang membangun motor berdasarkan karakter dan preferensi pribadi.

Masalahnya muncul ketika ukuran sebuah modifikasi tidak lagi berhenti pada fungsi, melainkan mulai ditentukan oleh seberapa mahal komponen yang digunakan.

Juga seberapa langka aksesori yang dipasang.

Atau seberapa banyak perhatian yang diperoleh setelah motor tersebut dipamerkan.

Dalam situasi seperti ini, modifikasi perlahan bergeser dari aktivitas personal menjadi arena kompetisi simbolik.

Siapa yang motornya paling menarik, paling mahal, atau paling berbeda.

Baca Juga: Semarak Warga Menghias Kampung Jelang HUT RI? Ini Makna di Balik Tradisinya

Media sosial kemudian memperluas arena tersebut.

Motor yang dahulu hanya dipamerkan ketika berkumpul bersama komunitas kini dapat menjangkau ribuan orang melalui Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya.

Sebuah modifikasi dapat direkam, difoto, diunggah, lalu dinilai melalui jumlah tayangan, komentar, tanda suka, atau respons dari pengguna lain.

Ini menandakan motor tidak hanya dibangun agar dinikmati pemiliknya, tetapi juga untuk dilihat orang lain.

Modifikasi akhirnya memiliki dua fungsi, yakni memperindah kendaraan dan membangun citra pemiliknya.

Semakin menarik tampilan motor di layar, semakin besar pula peluang mendapatkan pengakuan dari lingkungan digital.

Di titik inilah gengsi mulai memainkan peran.

Ada kepuasan tersendiri ketika motor mendapatkan pujian, dianggap keren, atau menjadi pusat perhatian dalam sebuah perkumpulan.

Sebagian orang mungkin tidak secara sadar mengejar status sosial melalui kendaraannya, tetapi lingkungan dapat membentuk standar tersebut.

Ketika motor dengan komponen tertentu dianggap lebih berkelas, pemilik kendaraan lain bisa merasa perlu mengikuti tren agar tidak tertinggal.

Dari sinilah muncul siklus konsumsi: melihat modifikasi orang lain, merasa tertarik, membeli komponen baru, mendapatkan apresiasi, kemudian kembali terdorong untuk melakukan modifikasi berikutnya.

Motor yang awalnya sudah dianggap cukup akhirnya terasa selalu membutuhkan sesuatu yang baru.

Baca Juga: Ancam Sebar Video Rekaman Asusila Jika Tak Diberi Uang, Pelaku Persetubuhan Anak di Wonogiri Ditangkap Polisi

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa budaya modifikasi tidak dapat dilepaskan dari persoalan identitas.

Anak muda menggunakan motor untuk menyampaikan pesan tentang siapa dirinya dan kelompok sosial mana yang ia rasa dekat dengannya.

Gaya modifikasi tertentu dapat menunjukkan selera musik, karakter, komunitas, bahkan gaya hidup.

Dalam komunitas otomotif, motor juga menjadi pintu masuk menuju pertemanan dan solidaritas.

Mereka bertemu di jalan, menghadiri acara, bertukar informasi mengenai komponen, hingga saling membantu menyelesaikan persoalan teknis.

Karena itu, tidak adil jika seluruh aktivitas modifikasi hanya dianggap sebagai bentuk pamer.

Ada kreativitas, keterampilan, pengetahuan, dan hubungan sosial yang benar-benar tumbuh di dalamnya.

Persoalannya adalah ketika batas antara ekspresi diri dan pencarian validasi menjadi semakin tipis.

Modifikasi yang dilakukan karena kesenangan pribadi tentu berbeda dengan modifikasi yang dilakukan semata-mata agar mendapatkan pengakuan.

Ketika harga komponen menjadi ukuran prestise, seseorang dapat terdorong mengeluarkan uang bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan karena takut dianggap kurang mengikuti perkembangan.

Dalam kondisi tertentu, budaya otomotif yang seharusnya menjadi ruang kreativitas justru dapat berubah menjadi ruang konsumsi tanpa akhir.

Yang dibangun bukan lagi sekadar motor, melainkan citra tentang diri sendiri di hadapan orang lain.

Baca Juga: Ancam Sebar Video Rekaman Asusila Jika Tak Diberi Uang, Pelaku Persetubuhan Anak di Wonogiri Ditangkap Polisi

Namun, kritik terhadap budaya gengsi dalam modifikasi tidak berarti bahwa mengeluarkan banyak uang untuk motor selalu merupakan tindakan yang keliru.

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menikmati hobinya.

Bagi sebagian pehobi, komponen mahal merupakan hasil dari proses riset, pengalaman, dan kecintaan terhadap detail teknis.

Ada pula yang menjadikan modifikasi sebagai keterampilan, pekerjaan, bahkan sumber penghasilan.

Yang perlu dipertanyakan adalah ketika nilai seseorang mulai diukur berdasarkan kendaraan yang dimilikinya.

Jangan sampai komunitas otomotif yang seharusnya mempertemukan orang karena kesamaan minat justru menciptakan hierarki berdasarkan kemampuan ekonomi.

Pada akhirnya, motor memang bisa menjadi lebih dari sekadar kendaraan.

Ia dapat menjadi karya, identitas, ruang kreativitas, sekaligus bagian dari kehidupan sosial pemiliknya. Tetapi ketika setiap perubahan harus dibuktikan melalui pujian dan pengakuan orang lain.

Pertanyaan penting muncul: siapa sebenarnya yang sedang kita puaskan diri sendiri atau penonton?

Di tengah budaya media sosial yang membuat hampir segala sesuatu dapat dipamerkan, mungkin modifikasi motor tidak perlu selalu menjadi perlombaan tentang siapa yang paling mahal atau paling mencolok.

Sebab nilai sebuah motor tidak semestinya ditentukan oleh harga aksesori dan jumlah orang yang mengaguminya, melainkan oleh cerita, kreativitas, dan kepuasan yang membuat pemiliknya tetap ingin mengendarainya.

Bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam. (siti putri lestari)

Editor : Ferry Ardi Susanto
teknis otomotif modifikasi motor Gengsi