Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Ramadan Jauh dari Kairo, Mariam Elbanna Temukan Kehangatan di Solo

Alfida Nurcholisah • Selasa, 24 Februari 2026 | 13:04 WIB

Mariam Elbanna, mahasiswi asal Kairo yang kuliah di UMS, membagikan pengalamannya menjalani Ramadan di Indonesia.
Mariam Elbanna, mahasiswi asal Kairo yang kuliah di UMS, membagikan pengalamannya menjalani Ramadan di Indonesia.

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Bagi Mariam Elbanna, Ramadan tahun ini terasa istimewa sekaligus penuh rindu.

Mahasiswi asal Kairo, Mesir itu tengah menjalani Ramadan ketiganya di Indonesia, jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Mahasiswa program magister Hukum Ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut kini tinggal di asrama bersama mahasiswa asing lainnya.

Meski terpisah ribuan kilometer dari rumah, ia menemukan kehangatan dalam cara yang berbeda.

Baca Juga: Janji Manis Raffinha: PSIS Semarang Tak Akan Degradasi ke Liga 3, Minta Suporter Percaya!

“Di Mesir, suasana Ramadan terasa lebih hangat karena dekat dengan keluarga. Ada tradisi bahwa pada hari pertama Ramadan, siapa pun yang kuliah atau bekerja di luar kota harus pulang. Tidak ada yang kerja atau kuliah, semua berkumpul di rumah untuk buka puasa,” ungkap Mariam, Selasa (24/2).

Tradisi itu menjadi momen sakral bagi keluarga di Kairo. Hari pertama Ramadan adalah waktu pulang, tanpa tawar-menawar.

Hangat dalam Kebersamaan

Di Indonesia, Mariam memang tak bisa pulang. Namun ia menemukan makna kebersamaan bersama sesama mahasiswa asing.

Mereka memasak bersama di asrama, berbuka bersama, dan saling menguatkan selama menjalani ibadah puasa.

“Di sini hangatnya berbeda. Kami saling menemani,” ujarnya.

Tarawih Satu Jam vs 30 Menit

Perbedaan paling mencolok ia rasakan saat salat tarawih. Di Mesir, tarawih bisa berlangsung satu jam bahkan lebih. Setiap dua rakaat diakhiri salam dan ada jeda sebelum melanjutkan.

“Di Indonesia, tarawih sangat cepat. Sekitar 30 menit sudah selesai dan terkesan buru-buru,” katanya sambil tersenyum.

Meski berbeda ritme, ia tetap menikmati pengalaman itu sebagai warna baru dalam ibadahnya.

Baca Juga: Uang Beasiswa Dibalas 'Cukup Aku WNI, Anakku Jangan': Dwi Sasetyaningtyas, Arya Iwantoro dan Awardee LPDP Lain Habiskan Uang Negara Segini ke LN

Musaharati dan Lampu Ramadan

Ada satu tradisi yang paling ia rindukan: musaharati. Di Mesir, ada orang yang berkeliling kampung sambil menabuh drum dan memanggil nama-nama warga untuk bangun sahur.

“Kalau di Indonesia, bangunkan sahur tidak pakai nama. Di Mesir ada musaharati yang memanggil nama warga satu per satu,” jelasnya.

Ia juga merindukan lampu-lampu Ramadan yang menghiasi toko kecil dan jalanan di Kairo, menciptakan suasana meriah sepanjang malam.

Roti, Keju, hingga Kunafa

Dari sisi makanan, perbedaan pun terasa jelas. Sahur di Mesir cenderung sederhana: roti, keju, kacang (beans), dan timun. Sementara di Indonesia, sahur bisa berupa nasi ayam hingga mi instan.

Ia juga sangat merindukan hidangan khas Ramadan Mesir seperti kunafa dan umm ali.

Baca Juga: Dijanjikan Upah Rp35 Ribu per Titik, Dua Pemuda Sragen Edarkan Sabu di Boyolali

“Kunafa seperti cheese cake, dan umm ali itu bread pudding. Saya sangat rindu makanan itu,” tuturnya.

Di Mesir, warung makan buka hingga waktu sahur, lalu tutup total setelahnya. Bahkan warga non-Muslim pun harus membeli makanan menjelang subuh selama Ramadan.

Idiyah dan Mukena Warna-warni

Perayaan Idulfitri menurutnya hampir sama di kedua negara: berkumpul bersama keluarga. Namun di Mesir ada tradisi idiyah, pemberian uang kepada anak-anak, mirip tradisi bagi-bagi uang saat Lebaran di Indonesia.

Hal lain yang membuatnya terkesan adalah mukena di Indonesia.

“Di Mesir tidak ada mukena seperti di Indonesia. Ada isdal, modelnya terusan panjang dan lebih simpel. Saya suka mukena di sini karena warnanya beragam dan cerah,” katanya.

Doa untuk Indonesia

Meski rindu kampung halaman, Mariam mengaku bahagia menjalani Ramadan di Indonesia.

“Indonesia bagus karena banyak muslim. Saya bahagia Ramadan di sini bersama teman-teman yang saling menguatkan. Saya suka Indonesia,” ujarnya.

Ia bahkan berharap suatu hari bisa kembali lagi ke Indonesia setelah lulus nanti, meski tidak menetap.

“Doaku untuk Indonesia, semoga selalu baik,” pungkasnya. (alf/an)

 
 
 
Editor : Andi Aris Widiyanto
#Solat tarawih #mesir #mahasiswa #ramadhan #universitas muhammadiyah surakarta #kairo