SOLOBALAPAN.COM - Pernah nggak sih kalian bertanya, kenapa awal puasa di masyarakat Indonesia sering ada dua perbedaan?
Emang apasih yang membedakan dari dua tanggal tersebut? Ini dia penjelasannya!
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat kembali menaruh perhatian pada penetapan awal puasa.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perbedaan penentuan 1 Ramadhan antara sejumlah organisasi keagamaan, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), kerap menjadi perbincangan.
Perbedaan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan berawal dari metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan hijriah.
Muhammadiyah selama ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi untuk memastikan posisi bulan secara matematis.
Perhitungan ini melihat pada gerak bulan di langit sehingga awal dan akhirnya bulan qomariyah ditentukan berdasarkan pada kedudukan atau perjalanan bulan.
Dalam metode ini, selama hilal sudah berada di atas ufuk meski belum terlihat secara kasat mata, maka bulan baru dianggap telah masuk.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama’ (NU) lebih mengutamakan metode rukyat, yaitu melihat langsung hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam.
Proses rukyatul hilal ditandai dengan munculnya visibilitas bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru ijtima’.
Pada masa ini, bulan terbenan sesaat setelah terbenamnya matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.
Perhitungan hisab tetap digunakan sebagai panduan, namun keputusan utama tetap didasarkan pada hasil pengamatan langsung.
Karena perbedaan pendekatan inilah, awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan NU terkadang tidak jatuh pada hari yang sama.
Jika secara perhitungan hilal sudah ada namun belum terlihat, Muhammadiyah bisa lebih dulu memulai puasa, sementara NU menunggu hasil rukyat yang sah secara visual.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Agama biasanya menggabungkan kedua metode tersebut dalam Sidang Isbat, dengan mempertimbangkan data hisab dan laporan rukyat dari berbagai daerah di Indonesia.
Meski perbedaan kerap terjadi, para tokoh agama terus mengimbau masyarakat untuk menyikapinya hal tersebut dengan bijak.
Perbedaan metode ini dipandang sebagai bagian dari Khazanah/kekayaan keilmuan Islam yang sudah berlangsung sejak lama.
Dengan saling menghormati, umat diharapkan tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk sesuai keyakinan masing-masing. (mg/lz)
Magang/Izza Aziza Queen Sophia
Editor : Laila Zakiya