SOLOBALAPAN.COM - Buku lama yang kembali menarik perhatian para pemburu buku langka sering kali memiliki daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena usianya, tetapi juga karena gagasan yang ditawarkan masih terasa relevan hingga sekarang. Salah satu buku yang menarik untuk dibahas adalah "Dalang Edan" karya Sujiwo Tejo, yang disebut-sebut ditawarkan dengan harga mencapai jutaan rupiah di pasar koleksi buku.
Terbit pada 2002 melalui penerbit Aksara Karunia, "Dalang Edan" merupakan buku yang mengajak pembaca melihat kehidupan melalui sudut pandang pewayangan, filsafat, dan kritik sosial. Berdasarkan katalog Perpustakaan Jakarta, buku ini memiliki tebal 488 halaman dan tercatat dalam kategori filsafat atau kehidupan.
Lantas, apa sebenarnya isi buku yang ditulis oleh seniman sekaligus dalang tersebut hingga menarik untuk dibicarakan kembali?
Baca Juga: #IndonesiaButuhOksigen Viral di Tengah Karhutla Kalimantan, Ini Konteks di Baliknya
Bukan Sekadar Cerita Wayang
Meski menggunakan tokoh dan dunia pewayangan sebagai pendekatan utama, Dalang Edan tidak hanya membahas kisah para tokoh wayang. Sudjiwo Tedjo justru memanfaatkan cerita tersebut untuk membicarakan kehidupan manusia, persoalan politik, hingga berbagai perilaku yang terjadi di tengah masyarakat.
Dalam tulisan berjudul “Jagat Kita di Mata Dalang Edan” yang diterbitkan di blog Wayang Indonesia pada 6 Maret 2010, dijelaskan bahwa buku ini menggunakan filsafat Jawa dan pemikiran modern untuk melihat berbagai persoalan kehidupan. Ceritanya tidak selalu berjalan secara berurutan, tetapi berpindah dari satu persoalan ke persoalan lain melalui tokoh-tokoh pewayangan.
Baca Juga: Dituduh Buzzer Soros Usai Kritik Karhutla, Windah Basudara Murka dan Singgung Pajak Miliaran
Cara bercerita tersebut menjadi ciri khas yang membuat buku ini berbeda dari buku cerita biasa. Pembaca diajak melihat bahwa tokoh yang selama ini dianggap baik belum tentu sepenuhnya benar, begitu pula tokoh yang dicap jahat belum tentu tidak memiliki sisi kemanusiaan.
Sujiwo Tejo seolah mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru menilai seseorang hanya berdasarkan penampilan, kedudukan, atau label yang melekat padanya.
Baca Juga: Jeritan Daerah Terparah Karhutla Kalsel: Udara Berbahaya Tapi Urung Dapat Banpres!
Rahwana hingga Semar sebagai Cermin Kehidupan
Salah satu hal menarik dari Dalang Edan adalah cara Sudjiwo Tedjo membongkar pemahaman umum terhadap tokoh-tokoh wayang. Rahwana, misalnya, tidak hanya ditempatkan sebagai sosok antagonis dalam kisah Ramayana, tetapi juga digunakan untuk membicarakan kejujuran, keinginan, dan sifat manusia.
Buku ini terdiri atas tujuh bagian yang disebut "kanda", yaitu istilah yang berkaitan dengan bagian atau lakon dalam pewayangan. Beberapa di antaranya berjudul “Hanuman Melompat Sudah”, “Petruk tak Potong Telinga”, “Semar Merem”, “Layon-Layon Ekalaya”, “Rahwana yang Terhormat”, “Perempuan-Perempuan Wayang”, dan “Dalang atawa Kadal Malang”.
Baca Juga: Penyebab Utama BBM Langka di Bali Apa? Ini Tanggapan Dirut Pertamina dan Gubernur Koster
Melalui bagian-bagian tersebut, Sudjiwo Tedjo menghubungkan cerita wayang dengan persoalan nyata. Dalam salah satu pembahasannya, kisah pewayangan digunakan untuk menyindir persoalan politik, pengadilan, dan perilaku pejabat.
Tokoh-tokoh wayang menjadi semacam cermin untuk melihat bagaimana manusia bertindak ketika memiliki kekuasaan maupun kepentingan pribadi. Tokoh-tokoh yang sudah dikenal sejak lama dihadirkan kembali untuk membicarakan persoalan yang justru terasa dekat dengan kehidupan modern.
Baca Juga: Bogor Diguncang Gempa Dangkal M 4,1: 253 Rumah dan 5 Tempat Ibadah Dilaporkan Rusak!
Kritik Sosial yang Dibungkus dengan Satir
Selain membahas karakter manusia, "Dalang Edan" juga menyoroti berbagai persoalan sosial dan politik di Indonesia. Sujiwo Tejo menggunakan sindiran, permainan kata, serta cara berpikir yang tidak selalu lurus untuk mengajak pembaca mempertanyakan keadaan di sekitarnya.
Dalam buku tersebut, persoalan kekuasaan, korupsi, keadilan, hingga hubungan antara masyarakat dan pemimpin menjadi bagian dari pembahasan. Cerita pewayangan digunakan sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang terkadang sulit disampaikan secara langsung.
Baca Juga: Ahmad Yani dan Perjalanan Karier Militernya, dari PETA hingga Panglima Angkatan Darat
Tulisan-tulisan dalam buku ini juga disebut berasal dari sejumlah tulisan Sujiwo Tejo yang pernah dimuat di media massa, kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan pemikiran. Dengan demikian, "Dalang Edan" bukan sekadar kumpulan cerita wayang, melainkan kumpulan gagasan yang memadukan sastra, filsafat, humor, dan kritik sosial.
Mengapa Harganya Bisa Mencapai Jutaan Rupiah?
Perbincangan mengenai harga "Dalang Edan" tidak bisa dilepaskan dari usianya sebagai buku yang terbit lebih dari dua dekade lalu. Buku lama yang sudah sulit ditemukan di toko buku reguler terkadang memiliki nilai tersendiri bagi kolektor, terutama apabila kondisinya masih baik atau memiliki keistimewaan tertentu.
Sebagai pembanding, katalog Perpustakaan Jakarta masih mencatat buku "Dalang Edan" sebagai koleksi yang tersedia di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Sementara itu, sebuah katalog toko buku bekas yang ditemukan dalam penelusuran mencantumkan buku yang sama dengan harga Rp35.000 pada 2013. Angka tersebut merupakan harga historis, sehingga tidak dapat digunakan sebagai patokan harga saat ini.
Baca Juga: Ledhek Jimbe Blitar, Tari yang Dulu Distigma Negatif Ternyata Punya Jejak Perlawanan
Pada akhirnya, daya tarik "Dalang Edan" tidak hanya terletak pada kemungkinan harganya yang tinggi di pasar koleksi, tetapi juga pada isi pemikirannya. Melalui tokoh-tokoh wayang dan kritik sosial, Sujiwo Tejo mengajak pembaca melihat kembali arti kemanusiaan, keadilan, serta perilaku orang-orang yang hidup di tengah masyarakat. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun Triyatno