Sejak Kapan Kulit Putih Jadi Standar Kecantikan?

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:24 WIB
Standar kecantikan berkulit putih masih melekat dalam pandangan masyarakat hingga sekarang.
Standar kecantikan berkulit putih masih melekat dalam pandangan masyarakat hingga saat ini.

SOLOBALAPAN.COM -Kulit putih masih sering dianggap sebagai standar kecantikan perempuan di Indonesia. Hal ini terlihat dari maraknya produk pemutih kulit hingga komentar seperti “duh, item banget habis kepanasan”.

Namun, anggapan bahwa cantik harus berkulit putih ternyata memiliki sejarah panjang, bahkan sebelum kolonialisme Barat masuk ke Nusantara.

Baca Juga: Bupati Diboyong ke Jakarta Pasca OTT KPK, Wabup Linda Jamin Pelayanan Publik Klaten Tetap Normal!

Dalam buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional, L. Ayu Saraswati membahas jejak standar kecantikan tersebut melalui epos Ramayana versi Jawa Kuno yang berkembang sejak abad ke-9. Dalam kisah itu, warna kulit dan gambaran tokoh turut membentuk kesan tentang kecantikan serta penilaian baik dan buruk.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kulit terang dan kecantikan tidak sepenuhnya berasal dari kolonialisme Belanda. Pada masa kolonial, pandangan itu mendapat makna baru ketika kulit putih dikaitkan dengan kecantikan perempuan Eropa.

Baca Juga: Jangan Dibiarkan Larut, Psikolog Sarankan Konsultasi Jika Sering "Overthinking"

Pengaruhnya kemudian berkembang melalui pendudukan Jepang, pembentukan identitas nasional, hingga budaya populer Amerika.

Menurut Saraswati, standar kecantikan di Indonesia terbentuk dari berbagai pengaruh budaya yang datang pada masa berbeda. Makna kulit putih pun tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan sejarah dan nilai yang berkembang di masyarakat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kosmetik, Martha Tilaar Tinggalkan Warisan Tradisi Kecantikan Nusantara

Pengaruhnya masih bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Produk pemutih kulit dan komentar yang merendahkan warna kulit gelap menunjukkan bahwa standar tersebut masih memengaruhi cara sebagian orang memandang penampilan.

Anggapan bahwa cantik harus berkulit putih pun bukan sekadar tren atau warisan satu bangsa. Standar itu terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang dan terus berkembang lewat budaya, media, serta kebiasaan masyarakat. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Buku Putih L.Ayu Saraswati
Kulit Putih Standar Kecantikan hanifatuz zahra sejarah budaya kecantikan