Jangan Dibiarkan Larut, Psikolog Sarankan Konsultasi Jika Sering "Overthinking"

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 14:46 WIB
Ilustrasi,overthinking merusak pikiran.(Google)
Ilustrasi,overthinking merusak pikiran. 

SOLOBALAPAN.COM- Di era kehidupan modern yang penuh dengan dinamika dan ketidakpastian, istilah overthinking atau kecenderungan memikirkan sesuatu secara berlebihan bukanlah hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat. Banyak orang menganggap fenomena ini sebagai hal lumrah yang biasa dialami ketika menghadapi persoalan hidup, pekerjaan, maupun hubungan interpersonal. Namun, para ahli kesehatan mental memeringatkan bahwa membiarkan overthinking terjadi secara terus-menerus tanpa penanganan yang tepat dapat menjadi sinyal awal dari gangguan psikologis yang lebih serius.

Psikolog klinis mengingatkan pentingnya mengenali batas antara analisis masalah yang sehat dengan pola pikir berulang yang destruktif. Jika pikiran berlebihan mulai mengganggu kualitas hidup, pola tidur, hingga fungsi harian seseorang, langkah terbaik yang disarankan adalah berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.

Baca Juga: Daun Singkong Bisa Diolah Menjadi Dendeng, Salah Satu Inovasi Kuliner yang Menarik Dicoba

Memahami Beda Berpikir Kritis dan Overthinking

Banyak orang terkecoh dan menganggap overthinking sebagai bentuk kehati-hatian atau persiapan diri menghadapi masa depan. Padahal, secara psikologis, kedua hal tersebut memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Berpikir kritis berfokus pada pencarian solusi atas permasalahan nyata yang sedang dihadapi. Proses ini memiliki arah yang jelas, menghasilkan tindakan konkret, dan memberikan rasa lega setelah keputusan diambil.

Sebaliknya, overthinking adalah siklus pikiran berputar yang melingkar tanpa ujung. Fenomena ini umumnya terbagi menjadi dua bentuk utama:

Ruminasi (Rumination): Terus-menerus menyesali atau mempertanyakan kejadian di masa lalu (misalnya, "Mengapa dulu saya katakan itu?" atau "Seharusnya saya tidak melakukan kesalahan itu").

Baca Juga: Reaksi Menohok Shin Tae-yong Soal Isu Persija Kena Sanksi Pengurangan Poin: Nggak Masuk Akal!

Kekhawatiran Katastrofik (Catastrophizing): Membayangkan skenario terburuk yang belum tentu terjadi di masa depan secara berlebihan.

Bukannya menghasilkan solusi, overthinking justru menguras energi mental dan membuat seseorang terjebak dalam kelumpuhan analisis, di mana ia menjadi takut untuk mengambil keputusan apa pun.

Dampak Nyata pada Kesehatan Fisik dan Mental

Dampak dari overthinking tidak hanya terbatas pada perasaan cemas di dalam kepala, tetapi juga bermanifestasi secara nyata pada organ tubuh dan kesehatan fisik secara keseluruhan. Ketika otak terus-menerus memproses ancaman atau kekhawatiran, tubuh akan berada dalam kondisi siaga (fight-or-flight mode) secara berkepanjangan.

Beberapa dampak buruk yang sering timbul akibat overthinking kronis meliputi:

Gangguan Tidur (Insomnia): Otak yang tetap aktif dan dipenuhi pikiran-pikiran cemas pada malam hari membuat seseorang sulit untuk memulai tidur maupun mempertahankan tidur yang nyenyak.

Kelelahan Fisik dan Mental: Beban pikiran berlebih menguras stamina tubuh, menyebabkan rasa lelah berkepanjangan meski tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Keluhan Somatis: Ketegangan emosional kerap memicu sakit kepala, nyeri otot pada leher dan bahu, hingga gangguan pencernaan seperti asam lambung tinggi atau Irritable Bowel Syndrome (IBS).

Penurunan Konsentrasi dan Produktivitas: Ketidakmampuan untuk fokus pada tugas saat ini karena terdistraksi oleh kecemasan internal dapat mengganggu kinerja di tempat kerja maupun studi.

Peningkatan Risiko Gangguan Kecemasan dan Depresi: Jika dibiarkan berlarut-larut, overthinking dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan menyeluruh atau depresi.

Baca Juga: Nostalgia Mainan Masa Lalu Sebelum Mengenal HP, Kenangan Masa Kecil yang Sangat Berkesan

Tanda-Tanda Anda Perlu Bantuan Profesional

Kapan sebaiknya seseorang mulai mencari bantuan psikolog atau psikiater? Para ahli memberikan beberapa indikator utama yang perlu diwaspadai:

Durasi dan Frekuensi: Pikiran berlebihan terjadi hampir setiap hari dan berlangsung selama berjam-jam tanpa bisa dikontrol secara mandiri.

Penurunan Fungsi Harian: Anda mulai kesulitan menyelesaikan pekerjaan rumah, produktivitas kantor merosot tajam, atau interaksi sosial terganggu.

Muncul Gejala Fisik yang Mengganggu: Mengalami sesak napas, jantung berdebar-debar, serangan panik (panic attack), atau gangguan tidur parah.

Isolasi Diri: Mulai menarik diri dari pergaulan atau menghindari situasi tertentu karena takut tidak mampu mengendalikan kecemasan.

Konsultasi dengan psikolog bukan berarti seseorang "gila" atau lemah, melainkan bentuk kepedulian dan langkah proaktif untuk memahami diri sendiri. Melalui sesi terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) psikolog akan membantu pasien mengenali pola pikir yang distortif, mengidentifikasi pemicu (triggers), serta membekali dengan teknik koping yang sehat untuk memutus rantai overthinking.

Langkah Mandiri untuk Meredam Pikiran Berlebihan

Sambil mempertimbangkan bantuan profesional, ada beberapa teknik dasar yang dapat dipraktikkan untuk membantu menenangkan pikiran:

Praktik Mindfulness dan Grounding: Melatih diri untuk berfokus pada momen saat ini melalui teknik pernapasan dalam (deep breathing) atau fokus pada panca indra di sekitar.

Baca Juga: Skandal Suap Predikat WTP! Kepala BPK Jateng Ahmad Luthfi Diduga Minta Uang ke Bupati Klaten

Metode Brain Dump (Journaling): Menuliskan seluruh kekhawatiran di atas kertas untuk menyalurkan isi kepala secara visual, lalu memilah mana hal yang berada di bawah kendali kita dan mana yang tidak.

Membatasi Konsumsi Informasi: Mengurangi scrolling media sosial (doomscrolling) yang berpotensi memicu pembandingan diri dan kecemasan eksternal.

Aktivitas Fisik Berkala: Berolahraga secara teratur membantu melepaskan hormon endorfin yang efektif menurunkan tingkat stres dan mengalihkan fokus dari pikiran negatif.

Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Jangan biarkan overthinking mengikis kebahagiaan dan produktivitas Anda secara perlahan segera ambil langkah untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya. (cindy amelia putri).

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapancom
tidak penting konsultasi bahaya overthinking pikiran