Halloween Berasal dari Festival Kuno, Begini Sejarahnya hingga Mendunia

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 17:04 WIB
Dekorasi labu berwajah seram menjadi salah satu simbol Halloween yang dirayakan setiap 31 Oktober. Perayaan ini memiliki akar sejarah dalam festival Samhain bangsa Keltik dan berkembang melalui perpaduan berbagai tradisi budaya. (Foto: ilustrasi)
Dekorasi labu berwajah seram menjadi salah satu simbol Halloween yang dirayakan setiap 31 Oktober. Perayaan ini memiliki akar sejarah dalam festival Samhain bangsa Keltik dan berkembang melalui perpaduan berbagai tradisi budaya. (Foto: ilustrasi)

SOLOBALAPAN.COM - Setiap tanggal 31 Oktober, suasana Halloween identik dengan dekorasi labu berwajah seram, kostum hantu, penyihir, hingga tradisi trick-or-treat.

Perayaan ini begitu populer di Amerika Serikat dan kini dikenal pula di berbagai negara. Namun, di balik suasananya yang meriah, Halloween memiliki sejarah panjang yang berawal dari tradisi kuno di Eropa.

Baca Juga: Bukan Kereta Biasa, Hospital Train Bisa Jadi Rumah Sakit di Atas Rel

Menurut Library of Congress, salah satu akar Halloween berasal dari Samhain, festival bangsa Keltik kuno yang menandai berakhirnya musim panen dan pergantian menuju musim dingin.

Samhain diperkirakan telah dipraktikkan sejak berabad-abad lalu di wilayah yang kini mencakup Irlandia dan bagian lain Kepulauan Britania.

Dalam kepercayaan masyarakat Keltik, pergantian musim tersebut memiliki hubungan dengan dunia roh. Malam menjelang Samhain dianggap sebagai waktu ketika batas antara dunia manusia dan dunia supernatural menjadi lebih dekat. Karena itu, perayaan ini dikaitkan dengan api unggun, penyamaran, dan berbagai kepercayaan tentang makhluk gaib.

Meski begitu, tidak semua cerita yang beredar mengenai Samhain dapat dipastikan sebagai fakta sejarah. Sebagian penjelasan mengenai kepercayaan dan ritualnya berasal dari catatan yang ditulis pada masa berbeda, sehingga perlu dibedakan antara tradisi yang terdokumentasi dan legenda yang berkembang kemudian.

Baca Juga: Sejarah Kereta Api Bandara di Indonesia

Dari Samhain ke All Hallows' Eve

Perkembangan Halloween juga berkaitan dengan tradisi Kristen. Pada abad kedelapan, tanggal 1 November ditetapkan sebagai hari untuk menghormati para santo dalam perayaan All Saints' Day. Tanggal 2 November kemudian dikenal sebagai All Souls' Day, yang didedikasikan untuk mengenang orang-orang yang telah meninggal.

Malam sebelum All Saints' Day disebut All Hallows' Eve. Sebutan tersebut kemudian berkembang menjadi Halloween.

Seiring waktu, unsur dari tradisi Keltik dan perayaan Kristen saling berbaur dalam kebiasaan masyarakat. Perpaduan inilah yang turut membentuk Halloween seperti yang dikenal sekarang.

Karena prosesnya berlangsung selama berabad-abad, Halloween tidak dapat dijelaskan hanya sebagai kelanjutan langsung dari satu ritual kuno.

Baca Juga: Cara Berhemat ala Upin & Ipin di Tengah “In This Economy”, Sederhana tapi Relate!

Mengapa identik dengan labu dan kostum seram?

Beberapa simbol Halloween yang terkenal juga memiliki sejarah tersendiri. Salah satunya adalah jack-o'-lantern, yakni labu yang diukir menjadi wajah menyeramkan dan diberi cahaya di dalamnya.

Menurut Library of Congress, tradisi mengukir lentera tersebut berkembang di Irlandia dengan menggunakan lobak sebelum labu menjadi lebih populer. Ketika imigran Irlandia membawa tradisi mereka ke Amerika Serikat, labu yang tersedia melimpah menjadi bahan yang praktis untuk diukir.

Kostum seram juga sering dikaitkan dengan kepercayaan kuno tentang roh dan makhluk supernatural. Dalam cerita mengenai Samhain, penyamaran dipercaya dapat membantu orang menghindari gangguan makhluk gaib. Seiring perkembangan Halloween menjadi perayaan populer, kostum kemudian berubah menjadi bagian dari kegiatan sosial dan hiburan.

Tradisi lain seperti trick-or-treat juga berkembang melalui sejumlah kebiasaan meminta makanan dari rumah ke rumah. Salah satu praktik yang sering disebut adalah souling, ketika orang meminta makanan sebagai imbalan atas doa bagi orang yang telah meninggal. Namun, asal-usul trick-or-treat modern melibatkan beberapa tradisi dan tidak memiliki satu jalur sejarah yang sepenuhnya pasti.

Halloween menjadi perayaan populer

Halloween berkembang semakin luas ketika imigran dari Irlandia dan Skotlandia membawa tradisi mereka ke Amerika Serikat, terutama pada abad ke-19. Di tempat baru, berbagai kebiasaan tersebut beradaptasi dengan budaya setempat.

Pada abad ke-20, Halloween semakin dikenal sebagai perayaan yang melibatkan anak-anak, kostum, permainan, dekorasi, dan pembagian permen. Tradisi yang sebelumnya berhubungan dengan kepercayaan serta cerita rakyat kemudian menjadi bagian dari budaya populer dan industri hiburan.

Saat ini, Halloween dirayakan dengan berbagai cara, mulai dari pesta kostum dan dekorasi rumah hingga acara bertema horor. Namun, bentuk perayaannya berbeda-beda di setiap negara dan tidak semua masyarakat merayakannya dengan cara yang sama.

Dari festival pergantian musim bangsa Keltik hingga perayaan modern yang dipenuhi labu dan permen, sejarah Halloween memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berubah ketika bertemu dengan budaya dan kepercayaan lain. Di balik suasana seramnya, Halloween bukan hanya tentang hantu dan kostum, tetapi juga tentang perjalanan panjang sebuah tradisi yang terus mengalami perubahan.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
tradisi sejarah halloween