Hari Anak Perempuan Internasional, Kenapa Anak Perempuan Sering Dituntut Cepat Dewasa?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 06:58 WIB
Anak perempuan berhak memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, bermain, dan mengembangkan diri. Hari Anak Perempuan Internasional yang diperingati setiap 11 Oktober menjadi momentum untuk menyoroti hak serta tantangan yang dihadapi anak perempuan di berbagai belahan dunia. (United Nation)
Anak perempuan berhak memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, bermain, dan mengembangkan diri. Hari Anak Perempuan Internasional yang diperingati setiap 11 Oktober menjadi momentum untuk menyoroti hak serta tantangan yang dihadapi anak perempuan di berbagai belahan dunia. (United Nation)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah mendengar anak perempuan diminta mengalah karena dianggap lebih dewasa? Atau diminta membantu pekerjaan rumah ketika saudara laki-lakinya tetap bermain? Situasi seperti ini mungkin tidak terjadi di setiap keluarga, tetapi memperlihatkan bagaimana harapan terhadap anak bisa berbeda berdasarkan gender.

Sejak kecil, anak perempuan dan laki-laki dapat menerima pesan yang berbeda tentang bagaimana mereka seharusnya bersikap. Anak perempuan mungkin lebih sering diharapkan untuk membantu, menjaga adik, merapikan rumah, atau memahami perasaan orang lain.

Baca Juga: Terseret Kasus Penipuan Emas Rp 25 Miliar, Jennifer Hubner Buka Suara: Cuma Duta Merek!

Sementara itu, anak laki-laki bisa saja lebih diberi kelonggaran untuk bermain atau melakukan aktivitasnya sendiri.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membentuk anggapan bahwa anak perempuan harus lebih cepat dewasa dan mampu memikul tanggung jawab lebih besar, bahkan ketika mereka masih membutuhkan waktu untuk belajar dan bermain.

Persoalan ini bukan hanya soal pembagian pekerjaan rumah. UNICEF mencatat bahwa anak perempuan berusia 5–14 tahun di seluruh dunia menghabiskan sekitar 160 juta jam lebih banyak setiap hari untuk pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan tanpa bayaran dibandingkan anak laki-laki seusia mereka.

Pekerjaan tersebut mencakup kegiatan seperti memasak, membersihkan rumah, dan merawat anggota keluarga. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa pembagian tanggung jawab berdasarkan gender dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak.

Baca Juga: Viral Isu Anak Panti Asuhan Tak Dapat MBG Gara-Gara Tak Punya Hak Suara, Kepala BGN Ungkap Faktanya!

Dampaknya juga tidak berhenti pada banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Waktu yang digunakan untuk membantu pekerjaan rumah dapat mengurangi kesempatan anak perempuan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, bermain, beristirahat, dan berinteraksi dengan teman sebaya.

Padahal, masa kanak-kanak merupakan periode penting untuk mengenali minat, membangun kepercayaan diri, serta mencoba berbagai hal baru.

Anak perempuan tetap membutuhkan ruang untuk melakukan kesalahan, belajar mengambil keputusan, dan menjalani aktivitas sesuai tahap perkembangannya.

Tentu saja, membantu pekerjaan rumah bukanlah sesuatu yang buruk. Anak laki-laki maupun perempuan dapat belajar bertanggung jawab melalui kegiatan sehari-hari.

Persoalannya muncul ketika tanggung jawab tersebut dibebankan secara tidak seimbang atau dianggap sebagai kewajiban anak perempuan semata.

Hal serupa berlaku pada tuntutan untuk selalu mengalah dan menjaga perasaan orang lain. Mengajarkan empati merupakan hal yang baik bagi semua anak.

Baca Juga: Tren Dance “Comeback and Back”, Perpaduan Gerakan Yeonjun, Evan, dan ENHYPEN yang Menarik Perhat

Namun, jika anak perempuan terus-menerus diminta mengutamakan kebutuhan orang lain tanpa diberi kesempatan menyampaikan keinginannya sendiri, mereka dapat kehilangan ruang untuk belajar menetapkan batasan.

Karena itu, penting bagi keluarga untuk membiasakan pembagian tugas yang adil. Anak laki-laki dan perempuan dapat sama-sama belajar memasak, membersihkan rumah, menjaga adik sesuai kemampuan, serta menghormati anggota keluarga lainnya.

Orang tua juga dapat memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat, menentukan minat, dan mencoba kegiatan yang disukainya tanpa dibatasi anggapan bahwa aktivitas tertentu hanya cocok untuk satu gender.

Pembahasan mengenai hak anak perempuan menjadi perhatian dunia setiap 11 Oktober melalui International Day of the Girl Child atau Hari Anak Perempuan Internasional. Peringatan yang ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2011 ini bertujuan mendorong pemenuhan hak anak perempuan sekaligus menyoroti tantangan yang masih mereka hadapi.

Pada 2026, PBB mengangkat tema “End child marriage and invest in girls’ rights” atau mengakhiri perkawinan anak dan berinvestasi pada hak anak perempuan. Tema ini menegaskan pentingnya memastikan setiap anak perempuan memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh, membuat pilihan, dan menentukan masa depannya.

Tuntutan agar anak perempuan cepat dewasa memang tidak selalu disampaikan secara langsung. Terkadang, hal itu hadir melalui kebiasaan sehari-hari yang dianggap wajar. Namun, kebiasaan tersebut tetap layak diperiksa kembali agar tidak membatasi kesempatan anak untuk berkembang.

Pada akhirnya, anak perempuan tidak harus selalu menjadi pihak yang mengalah, paling sigap membantu, atau paling pandai memahami orang lain. Mereka juga berhak mendapatkan waktu untuk bermain, belajar, beristirahat, dan mengeksplorasi dunia seperti anak-anak lainnya.

Sebab, memberikan ruang bagi anak perempuan untuk menikmati masa kecil bukan berarti mengajarkan mereka menghindari tanggung jawab. Justru, hal itu membantu mereka tumbuh dengan kesempatan yang lebih setara untuk menentukan pilihan dan membangun masa depan.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : UNICEF, United Nation
anak perempuan hari anak perempuan perempuan