SOLOBALAPAN.COM – Pernah tidak, temanmu tiba-tiba bercerita kalau dirinya sedang capek menghadapi banyak hal, tetapi kamu justru bingung harus menjawab apa? Kadang, niat untuk membantu malah membuat kita buru-buru memberikan solusi, membandingkan masalah, atau mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Padahal, seseorang yang sedang bercerita belum tentu membutuhkan jawaban. Bisa jadi, ia hanya ingin didengarkan tanpa merasa dihakimi.
Hal ini relevan dengan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change, yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental dan melibatkan mereka dalam keputusan yang memengaruhi kehidupannya.
Baca Juga: F1 Singapura 2026 Hari Ini: Jadwal Sprint dan Kualifikasi, Verstappen Terdepan
Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan mendengarkan juga bisa dimulai dari lingkaran terdekat, termasuk teman, pasangan, atau anggota keluarga. Berikut lima cara sederhana yang bisa dicoba.
1. Dengarkan Dulu, Jangan Langsung Memberi Solusi
Ketika teman mulai bercerita, tahan keinginan untuk langsung memberikan saran. Biarkan ia menyampaikan apa yang dirasakan tanpa buru-buru memotong pembicaraan.
Misalnya, temanmu mengaku kewalahan dengan tugas kuliah atau pekerjaan. Kamu tidak harus langsung menyuruhnya membuat jadwal, mengambil cuti, atau berhenti memikirkan masalah tersebut.
Coba tanggapi dengan kalimat sederhana, seperti, “Kedengarannya kamu lagi capek banget, ya. Mau cerita lebih lanjut?”
Baca Juga: 5 Trik Bereskan Kamar Kos dalam 15 Menit, Cocok Buat Anak Kost yang Mager
Menurut panduan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kesiapan untuk mendengarkan dan menunjukkan dukungan merupakan bagian penting dalam percakapan yang bermakna.
2. Hindari Membandingkan Masalah
Kalimat seperti “Aku juga pernah mengalami itu” sebenarnya tidak selalu salah. Namun, jika langsung digunakan untuk membandingkan penderitaan, temanmu bisa merasa pengalamannya dianggap sepele.
Contohnya, ketika seseorang bercerita tentang tekanan pekerjaan, hindari menjawab, “Kamu masih mending, aku malah lebih parah.”
Setiap orang memiliki kondisi dan cara menghadapi masalah yang berbeda. Kamu boleh menceritakan pengalaman pribadi jika memang membantu, tetapi jangan sampai percakapan berubah menjadi perlombaan tentang siapa yang paling menderita.
Lebih baik berikan ruang bagi temanmu untuk menjelaskan apa yang sedang ia hadapi.
Baca Juga: 7 Negara yang Ramah untuk Perempuan, Cocok Buat Solo Traveling atau Bareng Geng
3. Ajukan Pertanyaan Terbuka
Kalau bingung harus merespons apa, kamu bisa mengajukan pertanyaan yang membuat teman lebih leluasa bercerita.
Daripada bertanya, “Kamu sudah tidak sedih lagi, kan?”, coba gunakan pertanyaan seperti, “Bagian mana yang paling berat buat kamu sekarang?”
Pertanyaan terbuka tidak memaksa seseorang memberikan jawaban ya atau tidak. Temanmu juga bisa memilih seberapa banyak hal yang ingin ia ceritakan.
Namun, jangan mengubah obrolan menjadi sesi interogasi. Jika ia belum siap menjawab atau memilih berhenti bercerita, hargai batasannya.
4. Tanyakan Bantuan Apa yang Dibutuhkan
Tidak semua orang membutuhkan bentuk dukungan yang sama. Ada yang ingin ditemani, ada yang membutuhkan bantuan praktis, dan ada pula yang ingin mencari jalan keluar bersama.
Kamu bisa bertanya, “Kamu ingin aku mendengarkan saja atau mau kita pikirkan solusinya bareng-bareng?”
Pertanyaan sederhana ini membantu menghindari kesalahpahaman. Kamu tidak perlu menebak-nebak apakah temanmu ingin saran atau hanya ingin mengeluarkan isi pikirannya.
Jika ia membutuhkan bantuan untuk mengerjakan sesuatu, kamu juga bisa menawarkan pertolongan yang konkret dan realistis.
5. Tetap Ada Tanpa Memaksanya Bercerita
Mendengarkan bukan berarti harus memaksa seseorang menceritakan semua masalahnya. Ada orang yang membutuhkan waktu sebelum merasa nyaman untuk berbicara.
Kalau temanmu belum siap, kamu bisa mengatakan, “Nggak apa-apa kalau belum mau cerita. Kalau nanti butuh teman, aku ada.”
Kamu juga dapat menghubunginya kembali beberapa waktu kemudian untuk menanyakan kabarnya, tanpa menuntut ia menjelaskan semuanya.
Jika masalahnya terasa berat atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, dukung temanmu untuk mencari bantuan profesional. Kamu bisa menawarkan bantuan mencari layanan yang sesuai, tetapi tetap hormati pilihannya. Jika ada risiko keselamatan yang mendesak, cari bantuan darurat.
Mendengarkan Juga Bentuk Kepedulian
Hari Kesehatan Mental Sedunia bukan hanya pengingat untuk membicarakan kesehatan mental, tetapi juga kesempatan untuk belajar menghargai pengalaman orang lain.
Kita tidak harus selalu punya jawaban yang tepat ketika teman sedang menghadapi masalah. Terkadang, memberikan perhatian, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menanyakan bantuan yang dibutuhkan sudah menjadi awal dukungan yang berarti.
Namun, perlu diingat bahwa menjadi teman yang suportif bukan berarti harus menangani semua masalah sendirian. Kamu tetap boleh memiliki batasan dan mencari bantuan ketika situasinya berada di luar kemampuanmu.
Editor : Inayah ChoirunisaSumber : WHO, CDC