SOLOBALAPAN.COM - Istilah “manifesting” semakin sering muncul di media sosial. Mulai dari menulis keinginan di jurnal, membuat vision board, mengucapkan afirmasi sebelum tidur, hingga membayangkan kehidupan yang ingin dimiliki di masa depan. Bagi sebagian orang, manifesting dianggap sebagai cara untuk membantu mewujudkan keinginan.
Namun, manifesting sebenarnya tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang ajaib. Jika dilihat dari sisi psikologi, membayangkan tujuan dapat menjadi bagian dari proses menetapkan tujuan dan mempersiapkan diri untuk mengambil tindakan.
Baca Juga: Dari Refleksi hingga Produktivitas: Mengenal Beragam Metode Journaling yang Bisa Dicoba
Manifesting Membantu Memperjelas Keinginan
Salah satu alasan manifesting dapat dianggap penting adalah karena kegiatan ini membuat seseorang berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri apayang benar benar diinginkan, keinginan yang awalnya masih samar dapat dibuat menjadi lebih jelas.
Dalam teori goal setting, tujuan yang lebih spesifik cenderung lebih membantu seseorang mengarahkan perhatian dan usaha dibandingkan tujuan yang masih terlalu umum. Tujuan yang jelas juga membuat perkembangan lebih mudah dipantau.
Baca Juga: Viral Joki Baca Buku, Kok Ada yang Mau Bayar untuk Dibacakan? Ini Fenomena di Baliknya
Membantu Menjaga Fokus pada Tujuan
Ketika seseorang sudah mengetahui apa yang ingin dicapai, langkah berikutnya adalah menjaga fokus. Di sinilah kebiasaan seperti menulis jurnal, membuat vision board, atau mengucapkan afirmasi dapat digunakan sebagai pengingat.
Misalnya, seseorang memiliki keinginan untuk menyelesaikan tugas akhir. Ia dapat menuliskan tujuan tersebut, membayangkan bagaimana rasanya ketika tugas akhir selesai, kemudian mengubahnya menjadi target kecil seperti mencari referensi, membuat kerangka tulisan, atau menyelesaikan beberapa halaman setiap minggu.
Baca Juga: Kenapa Warganet Threads Ramai Bahas Feng Shui Kemakmuran? Ternyata Ada Pola di Balik Kontennya
Tujuan jangka pendek yang spesifik dapat membantu seseorang melihat perkembangan dengan lebih jelas dan menjaga motivasi. Artinya, manifesting bisa menjadi pengingat tentang arah yang ingin dituju, selama tidak berhenti pada angan-angan.
Tidak Hanya Membayangkan Hasil, Namun Juga Rintangannya
Bagian ini sering kali terlupakan dalam tren manifesting. Banyak orang hanya membayangkan hasil akhir yang menyenangkan tanpa memikirkan kemungkinan masalah yang akan muncul.
Padahal, penelitian Gabriele Oettingen dan Peter Gollwitzer mengenalkan pendekatan yang disebut mental contrasting. Sederhananya, seseorang tidak hanya membayangkan masa depan yang diinginkan, tetapi juga membandingkannya dengan kondisi nyata dan hambatan yang mungkin ditemui.
Cara ini membuat manifesting terasa lebih realistis. Kita boleh membayangkan hal yang diinginkan, tetapi tetap perlu melihat keadaan yang sedang dihadapi.
Manifesting Perlu Diikuti dengan Rencana
Keinginan akan lebih mudah diarahkan ketika sudah dijabarkan menjadi tindakan yang jelas. Salah satu konsep yang banyak dibahas dalam penelitian mengenai pencapaian tujuan adalah implementation intentions, yaitu membuat rencana dengan pola sederhana “jika terjadi X, maka saya akan melakukan Y”.
Baca Juga: Dulu Jadi Meme, Kini Dewasa: Begini Wajah Baru Anak-Anak yang Pernah Menghebohkan Internet
Rencana yang dimaksudkan seperti membuat tujuan menjadi lebih konkret karena seseorang sudah menentukan kapan dan bagaimana ia akan bertindak. Penelitian tentang implementation intentions menunjukkan bahwa rencana berbentuk “jika-maka” dapat membantu proses pencapaian tujuan.
Lalu, Bagaimana Cara Manifesting yang Lebih Realistis?
Bagi yang ingin mencoba manifesting, caranya tidak harus rumit. Beberapa langkah sederhana berikut dapat dilakukan.
1. Tentukan apa yang benar-benar diinginkan
Mulailah dengan satu atau beberapa tujuan yang memang penting bagi diri sendiri. Hindari membuat tujuan hanya karena sedang menjadi tren.
2. Tulis tujuan dengan jelas
Daripada menulis “aku ingin sukses”, coba ubah menjadi sesuatu yang lebih spesifik, misalnya “aku ingin mendapatkan pekerjaan di bidang yang aku sukai setelah lulus kuliah”.
3. Bayangkan hasil yang ingin dicapai
Luangkan waktu untuk membayangkan bagaimana kehidupan setelah tujuan tersebut tercapai. Apa yang dirasakan? Apa yang berubah? Mengapa tujuan tersebut penting?
4. Kenali hambatannya
Tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang mungkin membuatku gagal mencapai tujuan ini?” Hambatannya bisa berupa rasa malas, kurang percaya diri, tidak memiliki waktu, terlalu sering menunda, atau bahkan kurangnya informasi.
Baca Juga: Earphone Kabel Kembali Eksis, Tidak Hanya Mudah Dibawa dan Digunakan Tetapi Juga Menjadi Aksesoris
5. Buat rencana kecil
Setelah mengetahui hambatannya, tentukan tindakan yang bisa dilakukan. Jangan langsung membuat target yang terlalu besar. Tujuan besar dapat dibagi menjadi beberapa langkah kecil agar lebih mudah dijalankan.
6. Ubah menjadi rencana ‘jika-maka’
Contohnya, “Jika aku mulai ingin menunda mengerjakan tugas, maka aku akan mengerjakannya selama 15 menit terlebih dahulu.” Cara sederhana ini membuat keinginan tidak berhenti sebagai kalimat di jurnal.
7. Evaluasi secara berkala
Lihat kembali apakah ada perkembangan. Jika cara yang digunakan ternyata tidak berjalan, bukan berarti tujuan harus langsung ditinggalkan. Bisa jadi rencananya yang perlu diperbaiki.
Pada akhirnya, manifesting bukanlah jaminan bahwa sesuatu akan terjadi hanya karena seseorang sering membayangkannya. Ada banyak hal di luar kendali manusia yang dapat memengaruhi hasil.
Justru, manfaat yang lebih realistis dari manifesting dapat ditemukan ketika proses membayangkan tujuan tersebut digunakan untuk memperjelas keinginan, mengenali hambatan, dan menentukan langkah yang perlu dilakukan. (Adhima Aulia)
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Motivation Science "The Development Of Goal Setting Theory A Half Century Retrospective", The Oxford Handbook of Human Motivation "Goal Attainment", Strategies Of Setting and Implementing Goals "Mental Contrasting and Implementation" oleh Oettingen dan Gollwitzer, American Psychological Association (APA)