SOLOBALAPAN.COM- Bagi banyak wanita, melihat pasangan atau saudara pria mendadak berubah menjadi sangat lemas, rewel, dan butuh perhatian ekstra saat mengalami demam ringan sering kali memicu rasa heran. Fenomena ini begitu populer hingga melahirkan istilah khusus di era modern, yaitu "man flu". Istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan stereotip bahwa pria cenderung membesar-besarkan rasa sakit saat diserang penyakit ringan seperti flu atau demam biasa.
Namun, apakah sikap "manja" dan rewel tersebut murni akting untuk mencari perhatian belakangan ini, ataukah ada mekanisme biologis nyata yang membuat tubuh pria merespons penyakit secara lebih berat?
Baca Juga: Dikira Cuma Versi Lain Spider-Man, Ternyata Earth-42 Punya Cerita yang Lebih Gelap
Peran Hormon dalam Kekuatan Sistem Imun
Penelitian ilmiah dalam bidang imunologi menunjukkan bahwa perbedaan respons tubuh terhadap infeksi antara pria dan wanita ternyata sangat dipengaruhi oleh perbedaan kadar hormon reproduksi. Hormon estrogen pada wanita terbukti memiliki sifat immunoprotective atau peningkat kekebalan tubuh. Estrogen membantu tubuh wanita memproduksi respons antibodi yang lebih kuat dan cepat saat terserang infeksi virus maupun bakteri.
Sebaliknya, hormon utama pada pria, yaitu testosteron, memiliki sifat immunosuppressive atau menekan respons imun. Kadar testosteron yang tinggi pada tubuh pria dapat menurunkan efektivitas sistem kekebalan tubuh dalam merespons patogen di tahap awal infeksi. Akibatnya, tubuh pria membutuhkan waktu dan energi yang lebih besar untuk melawan kuman penyakit, yang berujung pada timbulnya gejala fisik yang terasa lebih berat.
Baca Juga: Bertahan Lintas Generasi, Sepatu Bakti Solo Tetap Menjaga Kualitas dan Nilai Kemanusiaan
Perbedaan Struktur Otak dan Sensitivitas Suhu
Selain pengaruh hormonal, studi neurobiologi juga menemukan perbedaan pada area hipotalamus bagian otak yang berfungsi sebagai pusat pengaturan suhu tubuh. Saat infeksi terjadi, tubuh melepaskan zat sitokin yang memicu kenaikan suhu tubuh atau demam.
Pada tubuh pria, reaksi terhadap reaksi peradangan ini kerap memicu penurunan suhu tubuh yang dirasakan secara subjektif lebih drastis, menimbulkan sensasi menggigil hebat, nyeri sendi, serta rasa lelah ekstrem (fatigue). Sensasi fisik yang intens ini secara alami mendorong respons perilaku untuk mencari perlindungan, istirahat penuh, serta bantuan dari orang terdekat.
Evolusi Perilaku dan Kebutuhan Pemulihan
Dari sudut pandang psikologi evolusioner, perilaku tampak "manja" saat sakit sebenarnya merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri (sickness behavior). Rasa lemas yang sangat berat dan dorongan untuk bermanja-manja memaksa tubuh pria untuk benar-benar menghentikan seluruh aktivitas fisik dan memfokuskan seluruh energi yang tersisa untuk proses pemulihan internal.
Baca Juga: McKenna Grace Pakai Gaun Ikonik The Hunger Games, Ternyata Karya Tex Saverio
Jadi, ketika pasangan atau pria di sekitar Anda mendadak sangat rewel dan butuh perhatian lebih saat dilanda demam, hal itu bukanlah sekadar alasan untuk memanjakan diri. Secara medis, tubuh mereka memang sedang mengalami gejala fisik yang terasa lebih berat akibat perbedaan respons imun dan hormonal. Memberikan perawatan yang hangat, kompres, serta istirahat yang cukup adalah langkah terbaik untuk membantu mereka pulih lebih cepat. (cindy amelia putri).
Sumber : solobalapan.com