SOLOBALAPAN.COM - Vihara dan kelenteng sering dianggap sebagai tempat ibadah yang sama. Padahal, keduanya punya beberapa perbedaan, mulai dari siapa yang beribadah, bentuk bangunan, sampai kegiatan keagamaannya.
Vihara merupakan tempat ibadah umat Buddha. Sementara klenteng lebih banyak berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Tionghoa, seperti Taoisme dan Konghucu. Di Indonesia, ada juga kelenteng yang digunakan untuk menjalankan Tridharma, yaitu ajaran Buddha, Tao dan Konghucu.
Kalau dilihat dari bangunannya, kelenteng biasanya lebih mudah dikenali. Bangunannya banyak menggunakan gaya tradisional Tionghoa, dengan ornamen seperti naga, lampion dan warna merah yang cukup dominan.
Sementara itu, vihara tidak selalu memiliki bentuk bangunan yang sama. Ada yang menggunakan arsitektur lokal dan ada pula yang bentuknya sederhana seperti rumah atau bangunan biasa. Jadi, tidak semua tempat ibadah umat Buddha akan terlihat seperti bangunan yang selama ini sering dibayangkan sebagai vihara.
Perbedaan juga bisa dilihat dari bagian dalamnya. Vihara umumnya memiliki beberapa patung yang berkaitan dengan ajaran Buddha, sedangkan klenteng bisa memiliki banyak patung dewa dan dewi. Setiap patung biasanya berada di altar yang berbeda sesuai dengan kepercayaan yang dijalankan.
Cara beribadahnya pun bisa berbeda. Di vihara, umat dapat mengikuti kegiatan ibadah secara bersama-sama. Sementara di kelenteng, umat juga sering datang sendiri untuk berdoa dan melakukan penghormatan di altar tertentu.
Lalu, kenapa keduanya sering dianggap sama? Salah satu penyebabnya adalah berkembangnya Tridharma di Indonesia. Dalam praktiknya, ajaran Buddha, Tao dan Konghucu bisa ditemukan dalam satu lingkungan tempat ibadah. Hal tersebut membuat batas antara penyebutan vihara dan kelenteng terkadang menjadi tidak begitu jelas.
Sejarah juga ikut memengaruhi hal tersebut. Pada masa Orde Baru, kegiatan keagamaan dan kebudayaan masyarakat Tionghoa mendapat sejumlah pembatasan. Pada masa itu, beberapa klenteng kemudian menggunakan nama vihara agar tetap dapat menjalankan kegiatan keagamaannya.
Baca Juga: “Saya Toprak Makan Ketoprak”, Momen Kocak Rider Yamaha Jelang MotoGP Mandalika
Setelah memasuki masa reformasi, kebijakan tersebut mulai berubah. Sejumlah klenteng kembali menggunakan nama sebelumnya, meski ada juga yang tetap memakai nama vihara.
Jadi, meski sama-sama berkaitan dengan kegiatan keagamaan dan masyarakat Tionghoa, vihara dan klenteng sebenarnya memiliki latar yang berbeda. Perbedaannya bisa dilihat dari ajaran yang dianut, bentuk bangunan, patung, serta cara umat menjalankan ibadah. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber