SOLOBALAPAN.COM - Pagi sarapan, siang makan, lalu malam makan lagi. Pola ini sudah begitu biasa sampai jarang terpikir sejak kapan kebiasaan makan tiga kali sehari muncul.
Padahal, pola tersebut tidak selalu dilakukan sejak dulu. Masyarakat Eropa pada masa lalu lebih terbiasa makan dua kali sehari, dengan makanan utama sekitar tengah hari dan satu kali makan lagi pada sore atau malam.
Kehidupan masyarakat yang makin berubah ikut memengaruhi waktu makan. Kota berkembang, aktivitas makin padat, dan jam kerja semakin teratur hingga perlahan terbentuk pola makan tiga kali sehari.
Baca Juga: White Chorus, Duo Asal Bandung yang Eksploratif Dari Tri-Hop Hingga Electro Pop
Sarapan
Pada masa Eropa Abad Pertengahan, makan pagi belum menjadi kebiasaan yang dianggap penting bagi semua orang. Ada kelompok yang memilih tidak makan sampai tengah hari, sementara pekerja dan orang-orang tertentu tetap makan lebih pagi karena membutuhkan tenaga untuk beraktivitas.
Memasuki era berikutnya, sarapan perlahan semakin diterima. Kebiasaan ini kemudian semakin kuat ketika Revolusi Industri mengubah pola hidup masyarakat. Jam kerja yang panjang dan teratur membuat banyak orang harus sudah memulai aktivitas sejak pagi.
Sarapan akhirnya menjadi bagian dari rutinitas sebelum bekerja. Makanan yang disantap pada pagi hari membantu orang mengisi tenaga sebelum menjalani aktivitas sepanjang hari.
Baca Juga: Bikin Bikin Penasaran Warganet TikTok! Ini 3 Fakta Video Malang 8 Vs 1 di Akun @tomen yang Viral
Makan Siang
Kalau sekarang makan siang terasa seperti bagian yang wajib dari aktivitas sehari-hari, kebiasaan ini juga terbentuk secara perlahan.
Dahulu, makanan utama justru banyak disantap sekitar tengah hari. Namun, ketika jam kerja semakin teratur, orang tidak lagi bisa makan kapan saja seperti saat bekerja di rumah atau di ladang.
Waktu istirahat di tengah pekerjaan kemudian menjadi kesempatan untuk makan. Dari kebiasaan tersebut, makan siang perlahan mendapatkan tempat tersendiri. Para pekerja bisa makan sebentar sebelum kembali melanjutkan aktivitas.
Kebiasaan ini semakin sesuai dengan kehidupan masyarakat yang mulai bekerja di pabrik dan tempat kerja dengan jadwal yang sudah ditentukan. Makan siang pun menjadi salah satu bagian dari rutinitas harian.
Baca Juga: Fenomena Body Doubling: Bukan Sekadar Ngopi, Ini Alasan Gen Z Pilih WFC
Makan Malam
Sementara itu, makan malam berkembang menjadi waktu makan setelah aktivitas selesai. Sore hingga malam menjadi waktu ketika orang sudah kembali dari pekerjaan dan memiliki kesempatan untuk beristirahat.
Makan malam kemudian tidak hanya berkaitan dengan mengisi tenaga. Waktu tersebut juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul setelah menjalani aktivitas masing-masing sepanjang hari.
Dari perubahan tersebut, pola sarapan, makan siang dan makan malam akhirnya semakin dikenal sebagai kebiasaan umum. Jadwal makan yang sekarang terasa sederhana ternyata ikut terbentuk dari perubahan cara hidup masyarakat selama berabad-abad.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lukisan Lama, Ini Kisah di Balik 6 Karya Seni Terkenal Dunia
Jadi, tidak ada satu orang pun yang tiba-tiba menciptakan aturan bahwa manusia harus makan tiga kali sehari. Pola tersebut terbentuk perlahan karena masyarakat menyesuaikan waktu makan dengan pekerjaan, aktivitas dan kehidupan sosial yang terus berubah.
Itulah sebabnya kebiasaan yang sekarang terasa normal ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Sarapan sebelum beraktivitas, makan siang di tengah kesibukan, lalu makan malam setelah pulang menjadi bagian dari kehidupan modern yang terbentuk sedikit demi sedikit. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Andi Aris WidiyantoSumber : Berbagai Sumber