Mau Coba Omakase? Kenali Etika Makan yang Perlu Diperhatikan Sebelum Datang

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 17:09 WIB
Menikmati hidangan omakase yang disiapkan langsung oleh chef di meja makan.(Quintessintielly)
Menikmati hidangan omakase yang disiapkan langsung oleh chef di meja makan.(Quintessintielly)

SOLOBALAPAN.COM - Omakase punya cara makan yang sedikit berbeda dari restoran biasa. Menu dan urutan hidangan ditentukan oleh chef, sehingga tamu perlu mengikuti beberapa etika agar pengalaman makan tetap nyaman.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah waktu. Jika sudah melakukan reservasi, usahakan datang tepat waktu. Chef biasanya sudah menyiapkan bahan dan mengatur waktu penyajian sesuai jadwal. Keterlambatan bisa mengganggu rangkaian hidangan yang sudah disiapkan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pengasuh, Ini Pelajaran tentang Kesabaran dari Sosok Bear di Masha and the Bear

Alergi atau pantangan makanan juga sebaiknya disampaikan saat reservasi. Jangan menunggu sampai sudah duduk di meja. Informasi tersebut dibutuhkan agar restoran bisa menyesuaikan hidangan jika memungkinkan.

Istilah omakase sendiri berarti menyerahkan pilihan kepada chef. Karena itu, tamu sebaiknya mengikuti hidangan yang sudah disiapkan dan tidak meminta banyak perubahan selama sesi makan. Namun, kebutuhan khusus tetap bisa disampaikan sejak awal.

Hidangan omakase juga sebaiknya segera disantap setelah disajikan. Suhu, tekstur dan kesegaran makanan sudah diperhitungkan chef. Membiarkannya terlalu lama bisa membuat kualitas hidangan berubah.

Baca Juga: Reaksi Santai Wapres Gibran Soal Putusan MK: Kalau Nggak Lulus SMA, Nggak Mungkin Bisa Kuliah!

Mengambil foto tetap diperbolehkan, tetapi sebaiknya tidak terlalu lama. Pada sushi dengan nori, misalnya, rumput laut bisa menjadi lembek jika terlalu lama terkena kelembapan.

Cara menggunakan kecap pada sushi juga perlu diperhatikan. Untuk nigiri, bagian ikan sebaiknya dicelupkan ke kecap, bukan nasinya. Nasi yang terlalu banyak menyerap kecap bisa membuat rasa jadi terlalu asin dan teksturnya mudah berantakan.

Wasabi juga tidak perlu ditambahkan. Chef biasanya sudah menyesuaikan jumlah wasabi dan bumbu dengan hidangan yang disajikan. Sebaiknya cicipi terlebih dahulu sebelum menambahkan bumbu lain.

Baca Juga: Buntut Putusan MK Soal Ijazah Gibran, Mulai Ada Laporan ke Bareskrim Polri!

Selain makanan, aroma tubuh juga perlu diperhatikan. Parfum yang terlalu kuat dapat mengganggu aroma hidangan dan kenyamanan chef maupun tamu lain, terutama karena makan omakase biasanya dilakukan di meja counter.

Setelah menyantap hidangan, ucapan terima kasih atau apresiasi kepada chef juga bisa menjadi bentuk penghargaan. Tamu bahkan bisa bertanya mengenai bahan atau proses pembuatan makanan yang disajikan.

Etika tersebut pada dasarnya berkaitan dengan cara menghargai proses yang sudah disiapkan chef. Mulai dari datang tepat waktu, menyampaikan pantangan, menyantap hidangan, hingga menjaga aroma di sekitar meja.

Jadi, sebelum mencoba omakase, bukan hanya menu dan harganya yang perlu diperhatikan. Cara kita menikmati hidangan juga menjadi bagian dari pengalaman makan itu sendiri.(Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra sushi etika makan Omakase budaya jepang