SOLOBALAPAN.COM - Pernah melihat seseorang melakukan kesalahan yang sebenarnya sudah bisa ditebak ujungnya, lalu ada yang berkomentar, “Biarkan, itu canon event-nya”?
Istilah tersebut mungkin terdengar seperti bahasa khusus penggemar Spider-Man. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, “canon event” justru menjadi istilah yang cukup sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan berbagai pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: In This Economy, Gaya Mahal Mulai Ditinggalkan? Kenalan dengan Tren Downgrade Style
Asal istilah ini memang berkaitan dengan Spider-Man: Across the Spider-Verse. Film animasi yang dirilis pada 2023 tersebut memperkenalkan konsep bahwa terdapat peristiwa tertentu dalam kehidupan para Spider-People yang dianggap harus terjadi untuk menjaga kestabilan multiverse.
Dalam cerita film, Miguel O'Hara atau Spider-Man 2099 meyakini bahwa peristiwa tertentu perlu terjadi dalam kehidupan para Spider-People. Sony Pictures menjelaskan bahwa keyakinan Miguel mengenai peristiwa-peristiwa tersebut menjadi salah satu konflik utama dalam cerita. Miles Morales kemudian justru mempertanyakan pandangan tersebut dan memilih menentukan jalannya sendiri.
Dari konsep cerita itulah istilah “canon event” kemudian terasa cocok digunakan untuk kehidupan nyata. Bedanya, ketika dipakai di media sosial, maknanya biasanya jauh lebih santai.
Seseorang bisa menyebut pengalaman tertentu sebagai canon event ketika pengalaman itu dianggap menjadi bagian penting dari proses seseorang bertumbuh. Misalnya, pertama kali gagal mendapatkan sesuatu yang diinginkan, pernah salah memilih teman, membeli barang karena mengikuti tren lalu menyesal, atau mengalami patah hati sebelum akhirnya belajar mengenali diri sendiri.
Baca Juga: Bukan Lagu Barat, 3 Musik Indonesia Ini Justru Mendominasi Spotify Awal Oktober 2026
Tidak jarang istilah ini juga digunakan untuk pengalaman yang sebenarnya terlihat sepele. Salah mengirim pesan, salah memilih potongan rambut, pernah memakai gaya berpakaian yang sekarang terasa memalukan, atau terlalu percaya pada seseorang bisa saja disebut sebagai “canon event” oleh teman-teman.
Dalam penggunaan seperti ini, canon event bukan berarti seseorang benar-benar memiliki jalan hidup yang sudah ditentukan. Istilah tersebut lebih sering menjadi cara bercanda untuk mengatakan bahwa sebuah pengalaman, baik menyenangkan maupun tidak, mungkin akan meninggalkan pelajaran tertentu.
Ada alasan mengapa istilah seperti ini mudah diterima di media sosial. Pengalaman hidup yang terasa memalukan atau menyakitkan ketika terjadi sering kali terlihat berbeda setelah seseorang melewatinya.
Kesalahan yang dulu membuat malu bisa berubah menjadi cerita lucu. Kegagalan yang pernah terasa seperti akhir dunia pun bisa menjadi pengalaman yang membantu seseorang mengambil keputusan berbeda di kemudian hari.
Namun, penggunaan istilah canon event juga perlu ditempatkan dengan tepat. Tidak semua pengalaman buruk harus dianggap sebagai sesuatu yang wajib terjadi agar seseorang menjadi dewasa. Apalagi jika pengalaman tersebut berkaitan dengan kekerasan, kehilangan, atau kondisi yang menimbulkan dampak serius.
Baca Juga: 5 Tips Menyimpan Digicam yang Jarang Dipakai agar Tetap Siap Digunakan
Menganggap semua hal buruk sebagai “bagian dari perjalanan” justru bisa membuat pengalaman yang seharusnya mendapatkan bantuan atau perhatian terlihat sepele. Karena itu, istilah canon event lebih aman digunakan untuk konteks ringan, terutama ketika membicarakan pengalaman sehari-hari yang akhirnya memberikan pelajaran.
Menariknya, konsep ini juga memperlihatkan bagaimana budaya populer bisa melahirkan bahasa baru di internet. Sebuah istilah yang awalnya digunakan untuk menjelaskan aturan dalam dunia fiksi kemudian berpindah ke percakapan sehari-hari dengan makna yang lebih luas.
Kini, ketika seseorang mengatakan “itu canon event”, yang dimaksud belum tentu berkaitan dengan Spider-Man. Bisa saja mereka sedang membicarakan teman yang baru mengalami fase kehidupan yang pernah mereka alami sebelumnya.
Misalnya, seorang teman baru saja membeli sesuatu karena tergoda tren. Teman lainnya mungkin akan tertawa dan berkata, “Biarkan, canon event.” Maksudnya bukan bahwa kesalahan tersebut sudah ditentukan oleh takdir, melainkan pengalaman itu dianggap sebagai sesuatu yang mungkin akan membuatnya belajar.
Pada akhirnya, canon event dalam kehidupan nyata lebih cocok dipahami sebagai istilah internet untuk menggambarkan pengalaman yang terasa membentuk diri. Ada yang datang dari kegagalan, ada yang berasal dari keputusan impulsif, dan ada pula yang justru muncul dari pengalaman sederhana.
Kalau dipikir-pikir, hampir setiap orang mungkin punya “canon event”-nya sendiri. Hanya saja, tidak semuanya harus diceritakan di media sosial.(lut)
Editor : Luthfiana SekarSumber : Berbagai Sumber