Dari Kaos hingga Jeans, Kenapa Kapas Jadi Bahan Pakaian yang Tak Pernah Hilang?

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 08:06 WIB
Hampir setiap orang memiliki pakaian berbahan katun, dari kaos hingga jeans. Di balik bahan yang terasa biasa ini, kapas punya perjalanan panjang dan menjadi sumber penghidupan jutaan orang di dunia. (Pinterest)
Hampir setiap orang memiliki pakaian berbahan katun, dari kaos hingga jeans. Di balik bahan yang terasa biasa ini, kapas punya perjalanan panjang dan menjadi sumber penghidupan jutaan orang di dunia. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Coba buka lemari pakaian dan cari satu benda yang terbuat dari katun. Kemungkinan besar tidak sulit menemukannya. Ada kaos, kemeja, celana, pakaian dalam, bahkan seprai dan sarung bantal yang menggunakan kapas sebagai salah satu bahannya.

Kapas memang sudah begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meski industri tekstil terus menghadirkan berbagai bahan baru, kain berbahan katun tetap mudah ditemukan di berbagai jenis pakaian.

Baca Juga: In This Economy, Gaya Mahal Mulai Ditinggalkan? Kenalan dengan Tren Downgrade Style

Pada 7 Oktober, dunia memperingati World Cotton Day atau Hari Kapas Sedunia. Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2021 untuk meningkatkan perhatian terhadap peran kapas dalam perdagangan, perekonomian, penghidupan masyarakat serta pembangunan berkelanjutan.

Tahun ini, World Cotton Day mengangkat tema “Cotton for Good: Building Prosperity Through Trade, Transformation and Partnership”. Perayaan globalnya digelar di Tashkent, Uzbekistan, dengan pembahasan mengenai perdagangan, inovasi, investasi, nilai tambah dan keberlanjutan dalam industri kapas.

Namun, mengapa kapas bisa bertahan begitu lama di industri pakaian?

Salah satu alasannya adalah karakteristik serat alami tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa di Indonesia menyebut kapas sebagai bahan yang nyaman, breathable, tahan lama dan bersifat hypoallergenic. Karakter tersebut membuat kapas cocok digunakan sebagai bahan pakaian yang bersentuhan langsung dengan kulit.

Baca Juga: Justin Hubner Sindir Nguyen Hai Long Usai Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026: Siapa Raja Sesungguhnya?

Tidak mengherankan jika pakaian menjadi penggunaan terbesar kapas. Data FAO menunjukkan sekitar 80 persen kapas digunakan untuk apparel atau pakaian. Sisanya digunakan untuk tekstil rumah tangga dan berbagai produk industri.

Artinya, ketika seseorang membeli kaos katun atau mengenakan celana berbahan denim yang mengandung kapas, ada komoditas pertanian yang sebenarnya berada di balik benda tersebut.

Perjalanannya dimulai dari tanaman kapas. Setelah dipanen, serat kapas dipisahkan dari bijinya, kemudian diproses menjadi serat yang dapat dipintal menjadi benang. Benang tersebut selanjutnya diolah menjadi kain sebelum akhirnya digunakan untuk membuat pakaian.

Proses yang panjang itu melibatkan banyak orang. FAO memperkirakan kapas ditanam oleh sekitar 24 juta petani di seluruh dunia dan menyediakan pekerjaan bagi sekitar 125 juta orang di sepanjang rantai nilainya.

Kapas pun bukan hanya soal pakaian yang berada di pusat perbelanjaan atau lemari rumah, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat di berbagai negara.

Pada 2024, produksi kapas dunia diperkirakan mencapai sekitar 26 juta ton. Lebih dari 9 juta ton di antaranya diperdagangkan secara internasional. Sementara itu, nilai produksi kapas dunia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD 46 miliar.

Baca Juga: Wadah Baru Talenta Muda Solo! Tahir Solo Museum Gelar Final Talent Show di Outdoor Plaza

Meski demikian, kapas bukan berarti tidak memiliki tantangan.

Industri tekstil kini juga menggunakan serat sintetis seperti poliester dalam jumlah besar. FAO mencatat kapas merupakan serat yang paling banyak digunakan kedua di dunia setelah poliester, dengan sekitar 20 persen dari total permintaan serat. Pangsa kapas dalam konsumsi serat global bahkan mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir, sementara penggunaan serat sintetis meningkat.

Persaingan tersebut membuat industri kapas harus terus beradaptasi. Perubahan cuaca, gangguan rantai pasok, perubahan selera konsumen dan tuntutan terhadap produksi yang lebih berkelanjutan menjadi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan.

Karena itu, pembicaraan tentang kapas sekarang tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak pakaian yang bisa dibuat dari bahan tersebut. Ada pula pembahasan mengenai bagaimana kapas diproduksi, siapa yang mendapatkan manfaat dari rantai perdagangan, serta bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.

FAO menilai inovasi, digitalisasi, penelitian dan investasi dapat membantu membuat sektor kapas menjadi lebih efisien, inklusif, tangguh dan berkelanjutan. Pengolahan kapas menjadi produk dengan nilai tambah juga dapat membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi negara dan masyarakat yang bergantung pada komoditas tersebut.

Jadi, ketika memilih kaos katun karena terasa nyaman atau mengambil kemeja berbahan cotton untuk dipakai sehari-hari, sebenarnya ada cerita yang jauh lebih panjang di baliknya.

Kapas bukan sekadar bahan yang membuat pakaian terasa lembut dan nyaman. Dari sebuah tanaman di lahan pertanian hingga menjadi kain yang memenuhi lemari, kapas menghubungkan petani, pekerja, industri tekstil, perdagangan dan konsumen dalam satu rantai yang panjang.

Mungkin itu pula alasan mengapa, di tengah munculnya berbagai bahan pakaian baru, kapas masih belum benar-benar hilang. Bahan ini bukan hanya bertahan karena terasa familiar, tetapi karena sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia sekaligus industri tekstil dunia.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : FAO, United Nation
kapas world cotton day fashion