SOLOLBALAPAN.COM - Sang remaja itu sedang jatuh cinta oleh perempuan asing yang begitu cantik nan manis.
Di atas bangunan tua dia melihat perempuan, dengan gaun putih susu dan rambut terurai angin.
Dia tampak sangat cantik saat memejamkan mata kecilnya, yang dibuai lembut oleh angin.
Sang remaja gundah, sang remaja cemas, sang remaja tidak berani melontarkan kata, mulutnya terasa dijepit oleh ranjau rantai.
Perempuannya -pun menyadari, bahwa sang remaja memandang sejak dia datang, hati sang remaja begitu cemas, bagaikan kawat berduri yang ditelan, rasa yang begitu menusuk.
Perempuannya menghampiri dia sang remaja, dengan senyum yang mematikan pria saat memandangnya.
Sang remaja tak percaya, apakah dia bermimpi?
Apakah itu malaikat? Apakah dia mabuk? Apakah dia? Sudahlah, sang remaja tak kuasa menahan gundahnya.
Perempuannya semakin dekat, dan begitu jelas pola garis di bibirnya, pipi yang tebal seperti roti Eropa, dan mata seperti dalamnya palung mariana.
Dan akhirnya, dia datang tepat di depannya, hati sang remaja semakin bergejolak, tubuhnya bagaikan tanaman yang lemas.
Perempuannya-pun bertanya.
“Kenapa kamu menatapku?”. Sang remaja tak menjawab, karna ia sudah mati dalam kecantikannya.
Perempuannya-pun bertanya lagi.
“Kenapa kamu mematung? Matamu penuh bertanya".
Katanya Sang remaja bodoh! Dia tak menyadari bahwa dia seperti patung hidup. Apa hanya sang remaja bodoh itu, saat dihampiri perempuannya yang begitu cantik, dia terdiam dan mematung.
Dan akhirnya sang remaja melontarkan kata sekian lama dia terdiam, seperti adegan film koboi yang beradu tembak di gurun gersang.
Baca Juga: Bukan Novel Biasa, Ini Fakta Menarik di Balik Buku Maktub Paulo Coelho
“Aku tidak menatapmu,” ucap sang remaja.
Bener-bener sang remaja bodoh! Alam dan pohon-pun tau kalau dia menatapnya. Suasana mencekam, angin yang sebelumnya dingin mendadak panas bagai kulit dibakar api, bangunan tua ini serasa mau roboh.
Dan akhirnya sang remaja melontarkan kata lagi.
“Aku sepertinya tak asing denganmu,” ujar sang remaja.
Akhirnya suasana yang mencekam seperti lomba cerdas cermat akhirnya mencair di kutub selatan. Sang remaja melontarkan pertanyaan ke-Perempuannya.
“Apa kamu tau bangunan tua ini serasa mau roboh?”. Pertanyaan macam apa itu, dia malah menakut-nakuti anak orang.
“Apa kamu tau pohon di sampingmu akan menibanku?”. Pertanyaan bodoh apa lagi itu, dan kalau itu benar akan menibannya, aku harap sang remaja pertama tersungkur di tanah.
Perempuannya heran, dia penuh keheranan, apakah perempuannya akan menampar sang remaja dan meninggalkan jejak merah jari di pipinya?.
Perempuannya lalu berkata “Kamu remaja yang aneh, kalau bangunan ini roboh, kita pasti berdua mati, dan kalau pohon itu menibanmu, pasti aku juga tergores” ucap perempuan sambil menunjuk pohon.
Sang remaja terlihat malu, dia tidak tau kata apa pertanyaan yang dia lontarkan, dia seperti remaja yang tak tau arah jalan pulang.
Sang remaja terdiam lama, dia kembali mematung, dengan wajah terus merosot ke-perempuannya, tidak satu kata pun dia lontarkan, dia semakin lupa bahwa perempuannya masih di depannya.
Rambut perempuannya terus terurai oleh angin, seolah ingin mengatakan bahwa perempuannya butuh jawaban, tapi angin juga ingin mengatakan bahwa sang remaja bodoh itu harus berbicara. Waktu terus berlalu, lalu sang remaja berkata.
“Kamu sangat cantik, bangunan tua ini tidak jadi roboh, kalau kita mati, aku tak bisa mengenalmu”. ucap sang remaja.
Perempuannya hanya tersenyum, dia tidak percaya bahwa kata itu terlontar dari mulut sang remaja bodoh.
Sang remaja giliran menunggu perempuannya melontarkan kata, dia masih mati dalam kecantikannya, harum parfum semerbak mawar berduri menusuk hidungnya, dan pipi seperti roti eropa yang ingin dia ambil lalu memakannya. Sang remaja lalu melontarkan kata lagi
“Kenapa giliranmu yang mematung?”. ucap sang remaja. Giliran sang remaja yang berani mengoceh, kenapa tidak dari tadi begitu remaja bodoh.
“Kau seperti patung liberty, dan aku adalah patung jenderal soedirman” ucap sang remaja.
Lalu perempuannya menjawab. “Kita tak perlu mati di bangunan tua ini, dan kita akan bertemu kembali”. ucap perempuan.
Perempuannya meninggalkan sang remaja, tanpa memperkenalkan namanya, sang remaja tidak sadar bahwa perempuannya sudah berjalan meninggalkannya, dia hanya menatap kosong, hingga perempuannya hilang tertelan tembok tua.
Matahari tertelan oleh gelapnya malam yang begitu sunyi, sang remaja masih teringat sepanjang jalan pulang, dari jalan yang sepi tak berujung, dia masih ingat bagaimana wajah perempuannya, tanpa sadar dia tak memperhatikan jalan.
Bagaimana paras wajahnya, bagaimana rambutnya, bagaimana harum bedak yang menusuk hidungnya.
Sang remaja tak langsung pulang, dia mampir sejenak ke nasi goreng langganan yang tak jauh dari rumahnya, dia memparkirkan motor tuanya.
Rc 100 tahun 98, yang dia dapatkan dari warisan kakeknya, dengan kondisi masih sehat walafiat, walaupun dengan boros bensinnya, sang remaja terfikir menggantikannya dengan air galon.
Sang remaja memesan nasi goreng 2 bungkus, tidak terlalu pedas, dan telur dipisah, lalu sang remaja bercerita bagaimana dia bertemu perempuannya di bangunan tua itu ke Pak Maman.
Pak maman penjual nasi goreng yang sudah berjualan 10 tahun lamanya, sudah seperti presiden yang menjabat 2 periode saja, aneh…kenapa membandingkan Pak Maman yang nasi gorengnya enaknya melebihi chef di kapal persiar, dengan presiden 2 periode yang begitu-gitu saja.
“Pak Maman, entah saya mimpi atau apa, saya tadi bertemu dengan perempuan bangunan tua”. ucap sang remaja.
“Perempuan?”. ucap Pak Maman sambil bertanya
“Iya, perempuan, dia cantik, dia memakai gaun putih susu Pak”. ujar sang remaja
“Kuntilanak belanda?”. Tanya Pak Maman sambil meracik bumbu
“Kuntilanak Belanda? memang bedanya dengan kuntilanak Indonesia apa pak?”. ucap sang remaja yang bingung
Pak maman tidak langsung menjawab, dia masih fokus dengan nasi gorengnya, yang dia masak seperti bermain pedang, dengan sutilnya yang sudah seperti pedang Romawi, yang dia tebas ke nasi panas, dan membolak balik musuhnya, bumbu dan rempah-rempah asli Indonesia yang dia masukkan begitu saja.
“Lalu kamu berkenalan dengannya? Sudah tau namanya?”. ucap Pak Maman.
“Tidak sempat Pak, dia langsung membalikkan badan terus pergi, hanya ngobrol sebentar”. Sang remaja bodoh itu malah menyalahkan perempuannya, jelas-jelas dia yang mematung lama seperti patung Pancoran.
“Lain kali jangan kesana sendirian, banyak kuntilanak Belanda”. ucap Pak Maman sambil menyodorkan nasi gorengnya
“Kalau itu bener kuntilanak Belanda pak, saya gak bisa ngobrol, saya kan gak bisa bahasa Belanda”. ujar sang remaja
“Dan kalau itu bener kuntilanak Belanda, saya akan bilang dengan bahasa seadanya, mampirlah ke nasi goreng Pak maman, biar bisa merasakan rempah-rempah yang dicampur ke nasi goreng”. ucap sang remaja sambil menyodorkan uang
Pak Maman tertawa dengan wajah yang masih takut dan gelisah, heran harusnya dia senang ada noni belanda yang mau mencicipi nasi gorengnya yang setara dengan restoran bintang lima.
Sang remaja melanjutkan pulangnya dengan suara krimiuk motor 2-tak, dan bau oli yang segar menusuk bulu hidung. Melaju dengan kecepatan yang sedang, dia terus memikirkan perempuannya. Sang remaja yang lama tidak mendapatkan keromantisan itu, sekarang berlagak seperti Romeo yang bertemu dengan Juliet.
Aneh rasanya, kata-kata yang dilontarkan sang remaja menjadi beban di benaknya, sang remaja tidak henti-hentinya berbicara melantur, dalam isi pikirannya yang bodoh itu, dia masih mengira bahwa perempuan itu kuntilanak Belanda, apa benar yang dibicarakan Pak maman?
Waktu terus menerjang, sang remaja sudah tandas di depan halaman rumah, jam menunjukkan bahwa sudah malam, dia memarkirkan motornya dengan hati-hati, sudah mirip menatah kakek-kakek saja, dengan gundah yang masih dia pikirkan, ibu sudah menunggu di ruang tamu dengan koran harian yang dia pegang dan amati.
Baca Juga: Mengulas Novel Namaku Alam Karya Leila S. Chudori: Ajak Pembaca Berdamai dengan Masa Lalu
“Assallmualaikum”
“Wallaikumsallam” Jawab salam ibu
Melihat sang anak yang kebingungan bak seperti di guna-guna, dengan mata ibu yang masih berputar-putar melihat sang remaja yang gelisah.
“Kenapa kamu, sudah seperti mayat hidup saja” tanya ibu
“Gundah buk” Jawab sang remaja
Dengan iringan lagu, koleksi kaset pita milih ibu yang tertata rapi di rak ruang tamu, sembari ibu mengambil piring, sang remaja membuka nasi goreng yang dia beli. Masih membawa dua buah piring yang ibu ambil dari dapur,
“Apa yang gundah” tanya ibu, dengan mata yang sangat cantik dia melihat sang remaja yang linglung.
“Tidak tau buk, aku merasa tercekat leherku, tidak bisa berbicara dengan perempuan itu” Sambil mengunyah nasi goreng.
“Perempuan?” Tanya ibu, melihat sang remaja masih melahap nasi goreng yang penuh di mulutnya.
Sang remaja hanya mengangguk, tidak menjawab pernyataan ibu, dia masih menikmati nasi goreng Pak maman, yang rasanya melebihi masakan chef bintang lima itu.
“Bagaimana parasnya? Kamu menyukainya?”. Sang remaja sontak tersendat oleh nasi yang penuh di mulutnya.
Sang remaja tak percaya dengan pertanyaan ibunya, dia sudah lama tidak mencari kehidupan romantis itu. Toh dia juga gagok dalam berbicara saat bertemu dengan perempuannya.
Bagaimana bisa dia mencintai secepat itu?. Ibu tidak sabar dengan jawaban sang anak, lantas ibu menampar pipi sang remaja. Sial sekali dia, dalam satu hari sudah dapat dua tamparan dari perempuan cantik ini.
“Aduh…lagi makan buk!” jawab sang remaja sambil mengelus pipinya yang semakin merah
“Dia cantik, wangi parfum sampai hampir merontokkan bulu hidungku”
“Sudah tau namanya?” Tanya ibu
“Belum, tak berani, katanya nanti bertemu lagi” ujar sang remaja
“Kau kalo mau mendekati perempuan, jangan mematung, kau tidak ingat dulu?
Sang remaja baru ingat, dia pernah mendekati perempuan juga, sang remaja hanya mematung, sama seperti ini, seperti menunggu kayu yang akan dipahat oleh seniman, benar-benar remaja bodoh, dia tak benar-benar belajar dari kesalahannya.
Ibu sangatlah paham bagaimana isi hati perempuan, saat dua manusia bertemu dan hanya mematung, benar-benar tidak enak rasanya, canggung menembus uluhati, gerah sekujur tubuh.
Ibuku ini yang bernama Dayati, sangatlah melankolis, dia sangat detail dan analitis, dia bisa menebak apa saja yang ada di pikiran laki-laki saat bertemu perempuan.
Baca Juga: Novel The Professor: Awal Gagasan Besar Charlotte Bronte tentang Hidup Mandiri.
Namun dia juga cemas jika tidak ada yang melontarkan kata satu sama lain, apalagi dari laki-laki yang harusnya memulai pembicaraan, dia teringat pada Bapak dulu, sama halnya dengan sang remaja yang hanya mematung Pancoran, memang sudah mendarah daging.
“Kamu sama seperti bapakmu, mematung pertama kali ketemu ibuk”
“Lalu Bapak memahat ibuk?” Jawab sang remaja dengan tawa kecil.
“Ndaklah, ibuk hanya diam, menunggu bapakmu sampai berbicara dulu”
“Sampai kapan?”.
“Sampai kaki bapakmu keram” Jawab ibu dengan tawa.
Nasi goreng sudah tandas, tak satupun butir nasi tersisa, perut sampai menganga, seakan mau meledak. Percakapan di tutup dengan secangkir kopi buatan itu dan titipan buku dari ibuk. (Aditya Vinda Atqia)
Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com