SOLOBALAPAN.COM - Anak-anak sekarang bisa hafal sebuah lagu meski belum tentu tahu siapa penyanyinya. Mereka juga belum tentu mengerti bahasa dalam liriknya. Cukup karena lagu tersebut berulang kali muncul di TikTok atau YouTube Shorts, bagian tertentu bisa langsung terasa familiar.
Fenomena ini menarik ketika melihat beberapa social experiment yang memperlihatkan anak-anak mengenali lagu yang sering mereka dengar dari media sosial. Salah satu audio yang banyak digunakan dalam video pendek adalah No Batidão milik ZXKAI dan slxughter. Lagu berbahasa Portugis tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana musik bisa dikenal luas melalui konten pendek, meski pendengarnya belum tentu memahami liriknya.
Baca Juga: 5 Tips Merawat Digicam agar Nggak Cepat Rusak, Jangan Asal Simpan di Tas
Cara seperti ini membuat pengalaman mendengarkan musik Gen Alpha cukup berbeda. Lagu tidak selalu pertama kali dikenal dari album atau sengaja dicari di platform musik. Kadang, musik justru datang sebagai bagian dari video yang muncul di linimasa.
Perubahan tersebut semakin terlihat ketika musik bertemu dengan tren brainrot AI. Istilah ini banyak digunakan untuk menyebut konten internet yang sengaja dibuat absurd, aneh, dan mudah diulang, termasuk karakter yang dibuat menggunakan teknologi AI.
Beberapa lirik seperti "Tung Tung Tung Sahur...Ballerina Cappuccina.. Tralalero Tralala" kemudian menjadi bagian dari tren tersebut. Tung Tung Tung Sahur, misalnya, pertama dikenal sebagai karakter meme yang muncul di TikTok pada 2025. Setelah menyebar, karakter tersebut berkembang menjadi berbagai video dan versi audio.
Baca Juga: 5 Tips Foto Pakai Digicam agar Hasilnya Lebih Estetik, Jangan Takut Pakai Flash
Konten seperti ini tidak berhenti pada gambar atau karakter. Nama dan suara karakter kemudian dibuat menjadi lagu, remix, rap, hingga berbagai versi lainnya. Pengulangan membuat suara yang awalnya terdengar aneh justru menjadi mudah dikenali.
Hal tersebut berkaitan dengan cara orang menggunakan media sosial. Anak-anak tidak harus sengaja mencari sebuah audio. Ketika mereka terus menonton konten dengan pola yang mirip, sistem rekomendasi dapat kembali menampilkan video serupa berdasarkan aktivitas mereka.
Penelitian mengenai kebiasaan bermusik anak juga menunjukkan bahwa TikTok menjadi salah satu tempat Gen Alpha menemukan musik. Musik di platform tersebut tidak hanya didengarkan, tetapi juga hadir bersama video, tren, dan interaksi dengan pengguna lain.
Karena itu, sesuatu yang melekat di ingatan anak belum tentu berupa satu lagu secara utuh. Bisa saja yang mereka hafal hanya potongan lirik, bagian musik tertentu, atau suara karakter yang muncul berulang kali.
Pengalaman tersebut berbeda dengan masa kecil generasi sebelumnya.
Anak-anak yang tumbuh pada era 1990-an lebih banyak mengenal lagu melalui televisi, radio, kaset, CD, atau film. Lagu anak dan soundtrack film sering menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Musik datang bersama karakter dan cerita yang kemudian ikut membentuk kenangan masa kecil.
Gen Z yang tumbuh setelahnya memang sudah mulai mengenal internet, tetapi musik masih banyak hadir sebagai lagu yang berdiri sendiri. Ada lagu anak, lagu remaja, soundtrack film, sampai musik yang dikenal dari televisi.
Baca Juga: Bukan Ubi Ungu Biasa, Kenapa Ube Makin Populer di Dunia Kuliner?
Sementara itu, Gen Alpha tumbuh ketika musik dan konten internet semakin sulit dipisahkan. Sebuah audio bisa menjadi populer karena dipakai untuk meme, video lucu, tarian, atau potongan konten tertentu. Setelah itu, audio yang sama bisa muncul berkali-kali dalam linimasa.
Popularitas musik di TikTok pun tidak hanya berkaitan dengan kualitas lagunya. Cara sebuah lagu digunakan dalam video, meme, tantangan, atau tren juga ikut membuatnya semakin dikenal. Penelitian mengenai musik di TikTok menunjukkan bahwa karakter platform ikut memengaruhi cara sebuah lagu menyebar dan menjadi populer.
Baca Juga: Niatnya Mau Bersih-Bersih, Kebiasaan di Kamar Mandi Ini Malah Bikin Sarang Kuman
Dari sini muncul pertanyaan yang menarik. Kalau generasi sebelumnya punya lagu yang mengingatkan mereka pada film masa kecil, acara televisi, atau lagu yang sering diputar ketika masih kecil, apa yang akan menjadi soundtrack masa kecil Gen Alpha?
Apakah mereka akan mengingat lagu anak seperti generasi sebelumnya? Atau justru suara dari meme, karakter AI, remix, dan potongan audio yang terus muncul di media sosial?
Belum ada jawaban pasti untuk pertanyaan tersebut. Belum ada pula bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa brainrot AI akan menentukan kepribadian atau identitas Gen Alpha ketika dewasa.
Yang berubah adalah cara mereka menemukan musik. Musik kini bisa datang dari mana saja, termasuk dari meme dan karakter AI yang awalnya dibuat hanya untuk hiburan.
Baca Juga: Earphone Kabel Kembali Eksis, Tidak Hanya Mudah Dibawa dan Digunakan Tetapi Juga Menjadi Aksesoris
Mungkin beberapa tahun lagi, ketika Gen Alpha sudah dewasa, mereka akan mendengar kembali sebuah suara dari masa kecil dan langsung teringat pada masa ketika mereka masih sering menonton video pendek.
Bisa jadi bukan lagu anak yang menjadi nostalgia mereka.Melainkan suara absurd yang dulu terus muncul di layar.( Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber