In This Economy, Gaya Mahal Mulai Ditinggalkan? Kenalan dengan Tren Downgrade Style

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:25 WIB
Tren downgrade style menggambarkan perubahan cara berpakaian di tengah kebiasaan belanja yang semakin selektif. Tampil stylish kini tidak selalu harus identik dengan barang mahal. (Pinterest)
Tren downgrade style menggambarkan perubahan cara berpakaian di tengah kebiasaan belanja yang semakin selektif. Tampil stylish kini tidak selalu harus identik dengan barang mahal. (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Pernah melihat seseorang memakai outfit yang terlihat mahal, lalu baru sadar ternyata hampir semua barang yang dikenakan berasal dari merek yang cukup terjangkau? Kalau iya, kamu mungkin sedang melihat salah satu perubahan cara anak muda memandang fashion.

Belakangan, muncul istilah “downgrade style” di media sosial untuk menggambarkan kebiasaan menurunkan biaya berpakaian tanpa harus benar-benar menurunkan gaya.

Sederhananya, bukan lagi soal siapa yang memakai barang paling mahal, melainkan bagaimana seseorang tetap bisa terlihat menarik dengan pilihan yang lebih masuk akal.

Baca Juga: Bukan Ubi Ungu Biasa, Kenapa Ube Makin Populer di Dunia Kuliner?

Fenomena ini terasa semakin dekat dengan ungkapan “in this economy” yang sering digunakan di media sosial. Kalimat tersebut biasanya muncul sebagai candaan ketika seseorang ingin membeli sesuatu, tetapi kembali mengingat kondisi keuangannya.

Dalam urusan fashion, bentuknya bisa bermacam-macam. Tas dengan harga jutaan rupiah diganti dengan produk lokal yang desainnya lebih sederhana.

Sepatu dari merek premium tidak lagi harus menjadi pilihan utama. Bahkan, membeli pakaian baru untuk setiap tren mulai terasa kurang menarik ketika lemari masih dipenuhi pakaian yang sebenarnya masih bagus.

Menariknya, perubahan ini bukan berarti orang berhenti memperhatikan penampilan. Justru kreativitas dalam memadukan pakaian lama menjadi semakin penting.

Baca Juga: Rutin Joging 30 Menit Sehari, Ini Efek Positifnya untuk Jantung dan Paru-Paru

Satu celana yang sama bisa dipakai dengan kemeja berbeda. Blazer yang sebelumnya hanya digunakan untuk acara formal bisa dipadukan dengan kaus dan sneakers. Sementara pakaian yang sudah jarang dipakai dapat diberi tampilan baru hanya dengan mengganti aksesori, sepatu atau tas.

Kebiasaan tersebut memiliki hubungan dengan tren yang lebih luas, yaitu “underconsumption core”. Tren yang ramai di media sosial ini mendorong orang untuk membeli seperlunya, menggunakan barang lebih lama, memperbaiki barang yang masih bisa digunakan dan mengurangi pembelian impulsif.

ABC News mencatat fenomena tersebut muncul sebagai respons terhadap tekanan biaya hidup sekaligus budaya belanja berlebihan yang banyak dipromosikan di media sosial.

Dalam konteks fashion, underconsumption core juga membuat pakaian yang sudah lama dimiliki tidak lagi harus dianggap membosankan. Memakai sepatu yang sama selama bertahun-tahun, mengulang outfit atau memilih pakaian bekas pakai justru dapat menjadi bagian dari gaya.

Baca Juga: Mental Juara! Timnas Indonesia Angkat Trofi Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 usai Tekuk Thailand

Perubahan cara belanja tersebut bukan tanpa alasan. Data Jakpat menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk belanja online pada paruh pertama 2025 turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari sekitar Rp543.250 menjadi Rp470.516 per bulan. Penurunan terutama terlihat pada produk sekunder seperti fashion dan elektronik.

Pilihan terhadap harga yang lebih terjangkau juga terlihat dalam kebiasaan konsumen Indonesia. Riset Jakpat mengenai produk lokal menemukan bahwa keterjangkauan harga menjadi alasan utama masyarakat memilih produk lokal, dengan persentase 72 persen.

Artinya, pertimbangan harga memang semakin sulit dipisahkan dari keputusan belanja. Namun, bukan berarti semua orang otomatis beralih ke barang termurah.

Ada perbedaan antara murah dan bernilai. Seseorang bisa saja membeli pakaian dengan harga lebih tinggi karena bahannya lebih awet atau modelnya mudah dipadukan. Sebaliknya, pakaian yang sangat murah tetapi hanya dipakai sekali karena mengikuti tren tertentu belum tentu menjadi pilihan yang paling hemat.

Di sinilah downgrade style menjadi menarik. Yang berubah bukan keinginan untuk tampil bagus, melainkan cara mencapai penampilan tersebut.

Kalau sebelumnya sebuah outfit dianggap berhasil ketika semua barang yang dikenakan berasal dari merek terkenal, kini perhatian bisa bergeser pada bagaimana pakaian terlihat ketika dipakai bersama.

Potongan yang pas, warna yang serasi dan kemampuan memadukan barang lama dapat membuat outfit sederhana tetap terlihat menarik.

Perubahan ini juga membuat thrifting, barang preloved dan produk lokal semakin relevan. Pilihan tersebut memungkinkan seseorang mendapatkan model yang diinginkan tanpa harus selalu membeli barang baru dengan harga tinggi.

Namun, tren seperti ini tetap perlu dilihat dengan sedikit kritis. Tidak semua orang melakukan “downgrade” karena mengikuti tren atau ingin menjalani gaya hidup minimalis. Bagi sebagian orang, memilih barang yang lebih murah memang merupakan kebutuhan karena harus mengatur pengeluaran dengan lebih ketat.

Bahkan, istilah seperti underconsumption core sempat mendapat kritik karena kebiasaan yang dipamerkan sebagai tren sebenarnya sudah menjadi cara hidup sehari-hari bagi banyak orang yang memang tidak memiliki pilihan untuk berbelanja berlebihan.

Karena itu, mungkin inti dari fenomena ini bukan tentang membuat barang murah terlihat keren atau menganggap barang mahal sudah tidak relevan. Lebih dari itu, ada perubahan kecil dalam cara seseorang menentukan apa yang layak dibeli.

Fashion tidak harus selalu tentang membeli sesuatu yang baru. Kadang, tampil berbeda justru bisa dilakukan dengan melihat kembali isi lemari sendiri.

Pada akhirnya, yang di-downgrade bukan gayanya, melainkan biaya untuk mendapatkannya. Di era “in this economy”, mungkin tampil stylish tidak lagi harus dibuktikan lewat harga yang tercetak di label.(lut)

Editor : Luthfiana Sekar
Sumber : Berbagai Sumber
life in this economy Style fashion