Pada sore hari, kawasan di sekitar Pagoda tidak hanya menjadi bagian dari lanskap kampus. Mahasiswa terlihat memanfaatkannya sebagai tempat duduk, berbincang, hingga menghabiskan waktu setelah aktivitas perkuliahan. Bagi sebagian mahasiswa, kawasan tersebut menawarkan suasana yang lebih terbuka dan tenang dibandingkan ruang-ruang kampus lainnya.
Perubahan fungsi sosial kawasan ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pagoda dan area di sekitarnya telah beberapa kali digunakan untuk kegiatan mahasiswa.
Pada 2024, misalnya, area Pagoda menjadi lokasi kegiatan screening yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Film dan Televisi. Lokasinya dinilai mendukung kegiatan karena memiliki area yang cukup luas dan strategis.
Kegiatan akademik dan publik juga terus menjadikan Pagoda sebagai ruang bersama. Pada September 2025, Pagoda Kampus II ISI Surakarta digunakan sebagai lokasi diskusi publik bertajuk “Seni dan Agama: Suara Lintas Generasi di Masa Kini” yang menghadirkan sejumlah akademisi dan tokoh lintas agama.
Baca Juga: Unik, Mahasiswa ISI Manfaatkan Kulit Alpukat Jadi Pewarna Batik
Kini, penggunaan ruang di sekitar Pagoda semakin terasa dalam aktivitas sehari-hari. Tidak hanya mahasiswa yang memanfaatkan kawasan tersebut untuk bersantai, warga sekitar juga menjadikan lingkungan Pagoda sebagai salah satu ruang untuk beraktivitas.
Riset mengenai Pagoda yang dipublikasikan pada awal 2026 mencatat bahwa kawasan di sekitar bangunan tersebut digunakan untuk tempat berkumpul mahasiswa maupun warga, selain untuk berbagai kegiatan kampus dan kegiatan lainnya.
Pada waktu-waktu tertentu, ruang terbuka di sekitar Pagoda juga dimanfaatkan untuk aktivitas fisik dan olahraga warga. Kondisi kawasan yang relatif lapang membuat area tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang terbuka yang dapat digunakan untuk bergerak dan beraktivitas.
Hal tersebut memperlihatkan perubahan cara masyarakat memandang sebuah ruang. Pagoda yang dahulu identik dengan kesan sunyi dan cerita-cerita misteri, kini semakin hadir sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari di sekitar Kampus II ISI Surakarta.
Padahal, bangunan ini memiliki latar sejarah yang panjang. Pagoda tersebut berada di kawasan yang dahulu merupakan kompleks pemakaman Tionghoa.
Bangunan itu bukan tempat ibadah, melainkan berkaitan dengan kompleks pemakaman dan menjadi bagian dari jejak sejarah kawasan tersebut. Pagoda juga telah disebut sebagai bagian dari cagar budaya Kota Surakarta.
Cerita mistis yang berkembang di sekitar Pagoda memang menjadi bagian dari sejarah popular kawasan tersebut. Kisah mengenai penampakan dan berbagai pengalaman misterius telah beredar sejak lama, bahkan pernah diberitakan media pada 2013.
Namun, cerita tersebut merupakan bagian dari kisah yang berkembang di masyarakat dan tidak mengubah fungsi Pagoda sebagai bangunan bersejarah.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Misteri Pagoda Tersembunyi di Kampus ISI Solo
Seiring berjalannya waktu, suasana di sekitar Pagoda justru semakin dekat dengan aktivitas manusia. Percakapan mahasiswa, kegiatan kampus, aktivitas komunitas, hingga warga yang memanfaatkan ruang terbuka membuat kawasan tersebut tidak lagi hanya dipandang dari sisi misterinya.
Perubahan ini menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah tempat dapat memiliki kehidupan baru tanpa harus kehilangan identitas masa lalunya.
Pagoda tetap berdiri sebagai bangunan bersejarah, tetapi ruang di sekitarnya terus mengikuti kebutuhan orang-orang yang datang dan beraktivitas di sana.
Dari tempat yang dahulu membuat sebagian orang enggan datang ketika hari mulai gelap, Pagoda kini perlahan menjadi ruang yang lebih akrab. Ada mahasiswa yang datang untuk berbincang, ada yang sekadar menikmati sore, sementara warga memanfaatkannya sebagai ruang beraktivitas.
Pada akhirnya, Pagoda ISI Surakarta tidak hanya menyimpan cerita tentang masa lalu. Di tengah kehidupan kampus yang terus bergerak, bangunan tersebut juga menjadi bagian dari kebiasaan baru: tempat untuk bertemu, beristirahat, beraktivitas, dan menikmati suasana sore. (Aditya Vinda Atqia)
Editor : Andi Aris Widiyanto