Dulu Cuma Camilan Bar Gratis, Kok Caviar Bisa Jadi Makanan Mewah?

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 14:25 WIB
Kaviar kini dikenal sebagai salah satu makanan mewah.(BisnisStyle)
Kaviar kini dikenal sebagai salah satu makanan mewah.

SOLOBALAPAN.COM - Kalau sekarang kaviar identik dengan makanan mahal dan restoran mewah, ceritanya ternyata tidak selalu begitu. Telur ikan sturgeon ini pernah menjadi makanan yang biasa saja, bahkan disajikan gratis sebagai camilan di sejumlah bar Amerika.

Pada abad ke-19, ikan sturgeon masih banyak ditemukan di perairan Amerika Serikat. Jumlahnya yang melimpah membuat telur ikan ini mudah didapat dan belum dianggap sebagai makanan kelas atas.

Baca Juga: Prabowo Gaet Rocky Gerung Jadi Wantimpres, Idrus Marham Yakin Daya Kritis Tak Akan Luntur!

Di beberapa bar, kaviar diberikan cuma-cuma kepada pengunjung. Rasanya yang asin dianggap cocok sebagai teman minum bir. Selain itu, rasa asin tersebut membuat pengunjung lebih mudah merasa haus sehingga berpotensi memesan minuman lagi.

Saat itu, kaviar belum punya kesan eksklusif. Harganya relatif murah dan bisa ditemukan di tempat yang jauh dari gambaran restoran mewah seperti sekarang.

Amerika bahkan sempat menjadi salah satu pemasok kaviar terbesar. Sturgeon ditangkap dalam jumlah besar dan telurnya diperdagangkan ke berbagai wilayah. Kondisi tersebut kemudian berubah ketika jumlah sturgeon mulai berkurang akibat penangkapan yang berlebihan.

Baca Juga: Bicara blak-blakan usai Dilantik, Rocky Gerung Tegaskan Bakal Tetap Kritis Terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

Perubahan citra kaviar juga terjadi ketika produk tersebut mulai berkembang di Eropa. Salah satu nama yang punya peran dalam perjalanan ini adalah Melkoum dan Mouchegh Petrossian.

Dua bersaudara tersebut datang ke Paris pada 1920 dan kemudian membangun bisnis kaviar. Mereka berasal dari komunitas Armenia di Tabriz, Iran, dan memiliki hubungan perdagangan dengan kawasan Laut Kaspia yang dikenal sebagai salah satu sumber utama sturgeon.

Di Paris, mereka mencoba membawa kaviar ke lingkungan yang berbeda. Produk tersebut diperkenalkan melalui restoran dan kalangan yang memang dekat dengan dunia gastronomi kelas atas.

Petrossian juga memberikan sampel untuk memperkenalkan produknya. Kaviar kemudian masuk ke sejumlah restoran bergengsi, termasuk Ritz. Ketika mulai terlihat di meja restoran mewah dan dinikmati oleh kalangan elit, citra makanan tersebut ikut berubah.

Baca Juga: AFC Siapkan Nations League! Ini Syarat Mutlak Timnas Indonesia Agar Lolos Piala Dunia 2034

Kaviar yang sebelumnya dikenal sebagai camilan kini mendapatkan kesan eksklusif. Bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena kualitas produk, tempat penyajiannya, dan lingkungan sosial yang mengonsumsinya.

Setelah populasi sturgeon liar terus menurun, kaviar juga semakin sulit diperoleh dari alam. Penangkapan dan perdagangan sturgeon liar kemudian mendapat aturan yang lebih ketat untuk menjaga populasinya.

Produksi kaviar akhirnya banyak beralih ke peternakan sturgeon. Ikan tersebut dibudidayakan di berbagai negara untuk memenuhi permintaan pasar tanpa terus mengandalkan tangkapan dari alam.

Baca Juga: Chanathip Akhirnya Kembali Hadapi Indonesia, Ada yang Berubah dari Skuad Garuda?

Nilai sebuah makanan bisa berubah seiring waktu. Kaviar yang dulu mudah ditemukan dan bahkan diberikan secara gratis kini dikenal sebagai makanan mewah karena cara pemasaran, tempat penyajian, dan ketersediaannya ikut berubah.

Kaviar yang dulu hanya menjadi teman minum bir kini justru dikenal sebagai salah satu makanan yang lekat dengan kemewahan. (Hanifatuz Zahra)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
hanifatuz zahra fakta kuliner caviar sejarah kaviar kuliner dunia