SOLOBALAPAN.COM - Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya berjalan terlalu cepat. Hal-hal yang dulu terasa dekat perlahan berubah, sesuatu yang pernah penting mulai kehilangan tempatnya, sementara waktu terus bergerak tanpa menunggu seseorang benar-benar siap. Dalam situasi seperti itu, rasa sakit tidak selalu datang dari kehilangan seseorang. Kadang, ia muncul dari kesadaran bahwa diri sendiri juga telah berubah.
Hal tersebut terasa dalam “HEARTACHE (SHALL NOT SURVIVE)” milik Bin Idris. Dirilis sebagai bagian dari album III, lagu ini membawa kesedihan dalam bentuk yang cukup tenang. Tidak ada ledakan emosi atau cerita patah hati yang dijelaskan secara gamblang. Sebaliknya, Bin Idris membiarkan rasa tidak nyaman, kebingungan, dan proses menerima keadaan berjalan secara perlahan.
Sejak awal, lagu dibuka dengan pengakuan sederhana, “Allah, I feel awful today.” Kalimat tersebut terdengar seperti percakapan pribadi seseorang yang sedang berada dalam kondisi buruk, tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya.
Namun, lagu kemudian tidak membawa pendengarnya pada sebuah kisah kehilangan yang spesifik. Tidak ada sosok yang ditinggalkan atau peristiwa yang dijelaskan secara jelas. Kekosongan tersebut justru membuat rasa sakit dalam lagu terasa lebih universal.
“Heartache” akhirnya dapat dibaca bukan hanya sebagai patah hati, tetapi sebagai bentuk kesedihan yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan perubahan. Ada sesuatu yang runtuh, tetapi belum tentu kita tahu secara pasti apa yang sedang hilang.
Baca Juga: Mengenal “Wong Kalahan” dalam Kultur Musik Midwest Emo hingga Indie
Hal tersebut semakin terasa ketika Bin Idris menyanyikan, “If it’s too loud maybe you’re too old, if it’s too hot maybe you’ve grown too cold, if it’s too fast maybe you’ve gotten slow.” Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana, bahkan sedikit jenaka, tetapi menyimpan kesadaran tentang usia dan perubahan diri.
Barangkali bukan dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu cepat. Bisa jadi kitalah yang telah berubah.
Apa yang dahulu terasa menyenangkan mungkin kini melelahkan. Hal-hal yang dulu mudah dilakukan membutuhkan lebih banyak energi. Lingkungan yang pernah terasa akrab perlahan terasa asing.
Pada titik tertentu, seseorang mulai menyadari bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang kehilangan kemampuan untuk mempertahankan semua hal seperti sebelumnya.
Di sinilah “Heartache” terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Lagu tersebut tidak menawarkan solusi instan atas rasa kehilangan. Sebaliknya, ia mengakui bahwa menerima perubahan membutuhkan waktu.
“It’ll take years of practice to let things go,” menjadi salah satu gagasan paling kuat dalam lagu ini. Melepaskan bukan sesuatu yang selalu bisa dilakukan dalam satu malam. Ia membutuhkan latihan, bahkan mungkin bertahun-tahun.
Kita belajar melepaskan melalui berbagai bentuk kehilangan. Hubungan yang berakhir, masa muda yang berlalu, kesempatan yang tidak kembali, tempat yang harus ditinggalkan, hingga versi diri sendiri yang perlahan tidak lagi kita kenali. Tidak semuanya dapat diperbaiki. Sebagian hanya dapat diterima.
Menariknya, penerimaan dalam lagu ini juga tidak muncul karena semua pertanyaan telah terjawab. Ada bagian yang berbicara tentang hujan dan ketidakmampuan untuk memahami apa yang sedang terjadi. Seolah-olah Bin Idris ingin mengatakan bahwa seseorang tidak selalu harus memahami seluruh alasan di balik sebuah kehilangan untuk dapat melanjutkan hidup.
Baca Juga: Ternyata Selera Musik Bisa Berkaitan dengan Kepribadian, Kamu Suka Genre yang Mana?
Waktu kemudian menjadi bagian penting dalam lagu tersebut. “Heartache shall not survive the passage of time” terdengar seperti sebuah pengingat bahwa rasa sakit tidak akan memiliki bentuk yang sama selamanya.
Bukan berarti luka akan benar-benar hilang.
Kenangan mungkin tetap ada. Rasa kehilangan mungkin sesekali kembali. Namun, hubungan seseorang dengan rasa sakit itu dapat berubah. Hal yang pada hari ini terasa begitu besar mungkin beberapa tahun kemudian hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup.
Musiknya pun mendukung gagasan tersebut. Dengan pendekatan folk dan singer-songwriter yang sederhana, gitar dan vokal tidak dibebani produksi yang berlebihan. Kesederhanaan ini membuat lirik memiliki ruang untuk bernapas. Kesedihan tidak dipaksakan menjadi dramatis, melainkan dibiarkan hadir sebagaimana adanya.
Pada akhirnya, “HEARTACHE (SHALL NOT SURVIVE)” bukan sekadar lagu tentang patah hati. Ia berbicara tentang proses menjadi dewasa ketika seseorang mulai memahami bahwa tidak semua hal dapat dipertahankan.
Ada sesuatu yang harus dilepaskan, meskipun kita belum siap. Ada perubahan yang tidak bisa dihentikan, meskipun kita ingin kembali ke keadaan sebelumnya. Dan ada rasa sakit yang mungkin tidak langsung hilang, tetapi perlahan kehilangan kekuatannya.
Baca Juga: Jimi Multhazam Lepas Debut Album Solo “Mollydenvm”, Eksplorasi Musik Tanpa Batas
Mungkin karena itu, lagu ini terasa seperti sebuah percakapan yang tenang dengan diri sendiri: bahwa tidak apa-apa jika hari ini terasa berat, tidak apa-apa jika kita belum memahami semuanya, dan tidak apa-apa jika membutuhkan waktu yang panjang untuk melepaskan.
Sebab pada akhirnya, seperti yang dinyanyikan Bin Idris, heartache shall not survive the passage of time. (Aditya Vinda Atqia)
Editor : Kabun Triyatno