SOLOBALAPAN.COM - Ikan arwana selama ini dikenal sebagai ikan hias dengan tampilan yang khas. Tubuhnya memanjang, sisiknya berkilau, dan gerakannya cukup menarik ketika berada di dalam akuarium. Namun, bagi sebagian masyarakat, arwana memiliki arti lain karena dipercaya berkaitan dengan keberuntungan dan rezeki.
Kepercayaan tersebut salah satunya berkembang dalam masyarakat Jawa. Dalam Primbon Jawa, arwana termasuk hewan yang dikaitkan dengan kemakmuran dan keberuntungan. Ada anggapan bahwa orang yang memeliharanya akan lebih mudah mendapatkan rezeki.
Baca Juga: 7 Childhood Crush yang Dulu Dianggap Boyfriend Goals, Sekarang Malah Kelihatan Red Flag
Anggapan seperti itu tentu berada dalam ranah kepercayaan masyarakat. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa memelihara ikan arwana secara langsung dapat membuat seseorang mendapatkan lebih banyak uang.
Kepercayaan serupa juga dikenal dalam budaya Tionghoa. Arwana sering disebut dragon fish atau ikan naga karena bentuk tubuhnya dianggap memiliki kemiripan dengan gambaran naga.
Tubuh yang panjang, sisik mengilap, serta sungut di bagian kepalanya menjadi beberapa ciri yang membuat ikan ini dikaitkan dengan naga. Dalam budaya Tionghoa, naga sendiri memiliki makna yang erat dengan keberuntungan, kekuatan, dan kemakmuran.
Baca Juga: Batik Tak Hanya Dikenal di Indonesia, Lalu Apa yang Membuat Batik Nusantara Berbeda?
Dari situlah arwana kemudian memiliki nilai simbolis sebagai ikan pembawa keberuntungan. Warna tertentu, terutama merah dan emas, juga sering dikaitkan dengan kekayaan serta keberuntungan dalam kepercayaan Feng Shui.
Makna tersebut ikut membuat arwana populer sebagai ikan hias. Pada dekade 1970-an dan 1980-an, arwana semakin dikenal di sejumlah negara Asia sebagai ikan Feng Shui. Ikan ini dipelihara bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena simbol keberuntungan yang melekat padanya.
Di balik kepercayaan tersebut, arwana Asia ternyata memiliki persoalan lain yang cukup serius. Spesies Scleropages formosus berstatus terancam punah sehingga perdagangannya mendapat pengaturan khusus.
Arwana Asia juga masuk dalam Appendix I CITES. Artinya, perdagangan internasional spesies tersebut diatur secara ketat untuk mencegah eksploitasi yang dapat mengancam keberadaannya di alam.
Karena itu, arwana yang diperjualbelikan secara legal umumnya berkaitan dengan kegiatan penangkaran yang memenuhi ketentuan. Ada aturan mengenai asal-usul dan perdagangan ikan tersebut yang harus dipenuhi.
Hal ini membuat arwana memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar ikan hias pembawa keberuntungan. Di satu sisi, ada kepercayaan tentang rezeki dan kemakmuran. Di sisi lain, terdapat persoalan konservasi yang membuat keberadaan ikan ini perlu diperhatikan.
Baca Juga: Dari Klaten untuk Pendengar, O.M Kacau Balau Dobrak Batas Musik Orkes Lewat Humor dan Sentuhan Rock
Jadi, anggapan arwana sebagai pembawa rezeki merupakan bagian dari kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Dalam tradisi Jawa, ikan ini dikaitkan dengan keberuntungan, sedangkan budaya Tionghoa memberi simbol naga yang semakin memperkuat maknanya.
Terlepas dari kepercayaan tersebut, arwana tetap merupakan satwa yang memiliki nilai budaya sekaligus membutuhkan perhatian dalam hal perdagangan dan pelestariannya. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber