AQUA DBL Dance 2026 Jadi Panggung Anak Muda Ekspresikan Wastra Nusantara

Andi Aris Widiyanto • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:16 WIB
ATRAKTIF : Penampilan SMAN 6 Surabaya dalam AQUA DBL Dance 2026.
ATRAKTIF : Penampilan SMAN 6 Surabaya dalam AQUA DBL Dance 2026. (Dok. DBL Indonesia)

JAKARTA, SOLOBALAPAN.COM – Batik selama ini identik dengan busana formal dan berbagai seremoni. Namun, di panggung AQUA DBL Dance 2026, kain tradisional Indonesia tersebut tampil dalam wajah berbeda.

Para pelajar memadukan Wastra Nusantara, termasuk batik, dengan modern dance, musik, koreografi hingga beragam properti. Kreativitas tersebut menjadi salah satu cara generasi muda memperkenalkan kembali budaya Indonesia dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Momentum tersebut semakin relevan dengan peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober. Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa batik dan kain tradisional Indonesia tidak hanya perlu dirayakan secara seremonial, tetapi juga terus diberi ruang agar tetap relevan lintas generasi.

Tahun ini, AQUA DBL Dance mengusung tema “100% Indonesia”. Tema tersebut hadir dalam kolaborasi DBL Indonesia dengan AQUA pada penyelenggaraan DBL Dance musim 2026-2027.

Melalui tema tersebut, para pelajar diberi ruang untuk menerjemahkan keberagaman Indonesia melalui kreativitas masing-masing. Hasilnya, unsur budaya tidak hanya hadir sebagai cerita, tetapi juga diwujudkan melalui kostum, musik, koreografi dan properti pertunjukan.

Baca Juga: Sering Tertukar dengan Body Lotion? Ini Manfaat Unik Body Butter yang Jarang Orang Tahu

Konsep tersebut terlihat dari penampilan berbagai tim dance di 31 kota yang tersebar di 22 provinsi Indonesia.

Batik Dibawa ke Panggung Modern

Di Surabaya, misalnya, tim dance SDOB (Sixers Dance One Blood) dari SMAN 6 Surabaya menjadikan batik sebagai bagian utama konsep pertunjukan.

Batik tidak hanya digunakan sebagai kostum, tetapi juga diolah menjadi bagian dari properti, koreografi hingga konsep musik.

“Kami ingin membawa batik dari imagenya tradisional itu ke arah modern. Harapannya batik tidak hanya diakui UNESCO, tapi batik itu bisa kayak mendunia,” ujar salah satu dancer SDOB, Keisha Bella Valencia Irawan.

Proses menghadirkan batik ke atas panggung juga menjadi bagian dari kreativitas para anggota tim. Mereka membeli kain batik secara bersama-sama, kemudian menjahit dan menempelkannya pada kostum.

Sejumlah properti juga dibuat untuk memperkuat konsep penampilan.

Dengan demikian, batik bukan sekadar sesuatu yang dikenakan, tetapi menjadi material yang diolah langsung oleh para pelajar menjadi bagian dari sebuah karya pertunjukan.

Tradisional dan Modern Bisa Berpadu

Semangat serupa ditunjukkan Xtrada dari SMAN 2 Jombang. Tim tersebut mengangkat keresahan mengenai kecenderungan generasi muda yang semakin dekat dengan tren modern, sementara sebagian budaya tradisional mulai kurang dikenal.

Kapten Xtrada, Alisha Nathania Putri atau Lisha, menilai budaya tradisional dan modern tidak harus dipertentangkan.

“Di era digital yang penyebaran informasi bisa masif dan datang dari mana saja, banyak yang lupa dengan budayanya sendiri. Padahal harusnya budaya tradisional dan modern itu tak harus berlawanan. Malah bisa di-blend,” ujarnya.

Baca Juga: Berawal dari Tugas Kuliah, Andanu Prasetyo Bikin Kopi Tuku hingga Populerkan Kopi Susu Gula Aren

Xtrada kemudian menghadirkan karakter pembatik dalam pertunjukan mereka. Kostum memadukan kebaya dan kain batik dengan sentuhan modern.

Tidak hanya itu, musik tradisional Bali dan Jawa Tengah turut dimasukkan ke dalam penampilan.

Bagi mereka, budaya tradisional tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang kaku agar dapat diterima generasi muda.

Motif Batik Diterjemahkan Lewat Gerak

Di D.I. Yogyakarta, tim dance SMAN 1 Yogyakarta membawa pertunjukan yang sarat dengan unsur budaya.

Melalui rangkaian gerakan, mereka menerjemahkan makna sejumlah motif batik. Motif Parang dikaitkan dengan semangat untuk pantang menyerah dan terus maju.

Sementara motif Kawung menggambarkan keseimbangan dan keteguhan hati. Adapun Mega Mendung membawa pesan tentang ketenangan dan pengendalian diri.

Pertunjukan kemudian mencapai puncaknya dengan kemunculan sosok burung merak dengan bulu yang terbentang.

Visual tersebut menjadi bagian dari penggambaran keberanian menunjukkan jati diri sekaligus keindahan keberagaman Indonesia.

Dari Batik hingga Cerita Sabang-Merauke

Eksplorasi budaya juga terlihat dalam penampilan sejumlah tim dari DBL seri Jawa Barat, di antaranya SMAN 2 Bandung, SMA BPK Penabur Singgasana, dan SMA Taruna Bakti.

Penampilan SMA Xaverius 1 Palembang. (Dok. DBL Indonesia)
Penampilan SMA Xaverius 1 Palembang. (Dok. DBL Indonesia)

Ketiganya membawa cerita berbeda. Mulai dari keberanian menemukan jati diri, perjalanan batik agar dikenal di kancah internasional, hingga petualangan menjelajahi kekayaan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Baca Juga: On This Day 2 Oktober: Kombinasi Hari Batik Nasional dan Jejak Sejarah Dunia yang Mengubah Zaman

Meski dikemas dalam konsep berbeda, berbagai pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menghasilkan karya kreatif.

Dari Jakarta, SMA Perguruan Rakyat 2 Jakarta menghadirkan rangkaian koreografi yang terinspirasi dari proses membatik.

Nuansa budaya semakin kuat dengan hadirnya sejumlah kesenian tradisional, termasuk kuda lumping. Unsur tersebut kemudian dipadukan dengan koreografi modern agar sesuai dengan karakter pertunjukan masa kini.

Batik dalam Kisah Perjuangan Kartini

Cerita berbeda datang dari The Reverie, tim dance SMA Xaverius 1 Palembang.

Mereka mengusung tema “Kartini: Woman Empire”, yang terinspirasi dari perjuangan R.A. Kartini dalam menyuarakan kesetaraan gender serta kesempatan bagi perempuan untuk berkembang dan berprestasi.

Batik menjadi salah satu elemen utama kostum dan visual pertunjukan. Penggunaannya sekaligus memperkuat pesan bahwa nilai-nilai yang dibawa generasi muda dapat dikembangkan tanpa harus meninggalkan akar budaya Nusantara.

Budaya Dihidupkan Lewat Kreativitas

Marketing Director AQUA, Adisti Nirmala, mengatakan budaya dapat terus hidup ketika generasi muda merasa dekat dan bangga terhadap warisan tersebut.

“AQUA percaya bahwa budaya akan tetap hidup ketika generasi muda merasa dekat dan bangga terhadapnya. AQUA DBL Dance 2026 menghadirkan ruang ‘adem’ bagi pelajar untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus merayakan kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya.

Menurut dia, kreativitas peserta dalam mengangkat Wastra Nusantara menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia masih dapat menjadi sumber inspirasi lintas generasi.

Penampilan SMA Perguruan Rakyat. (Dok. DBL Indonesia)
Penampilan SMA Perguruan Rakyat. (Dok. DBL Indonesia)

Baca Juga: Kabel Internet Ngelewer Jerat Motor, Penjahit di Sragen Patah Tulang hingga Operasi

Dari panggung AQUA DBL Dance 2026, batik dan berbagai wastra Nusantara tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu. Kain tradisional tersebut hadir sebagai bagian dari kreativitas anak muda melalui musik, gerak, kostum dan pertunjukan.

Cara tersebut menunjukkan salah satu bentuk bagaimana generasi baru mengenal, mengolah, sekaligus memperkenalkan kembali budaya Indonesia melalui bahasa kreativitas mereka sendiri.

Tentang AQUA DBL Dance

AQUA DBL Dance merupakan bagian dari Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027. Pada musim 2026-2027, AQUA DBL Dance mengusung tema “100% Indonesia”, yang memberikan ruang bagi pelajar untuk mengeksplorasi keberagaman budaya Nusantara melalui dance dan kreativitas pertunjukan.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 digelar di 31 kota yang berada di 22 provinsi Indonesia, dengan berbagai program yang melibatkan student-athlete dan generasi muda dalam ekosistem DBL. (*)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : solobalapan.com
Aqua DBL Dance 2026 Wastra nusantara dbl hari batik surabaya