Gen Z Makin Sering Curhat ke AI, Nyaman Memang tapi Jangan Oversharing!

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 06:38 WIB
Saat sedang stres, jangan selalu menceritakan kepada AI.
Saat sedang stres, jangan selalu menceritakan kepada AI.

SOLOBALAPAN.COM – Pernah nggak, baru saja mengalami masalah dengan pasangan, teman, dosen, atasan, atau bahkan keluarga, bukannya langsung menghubungi orang terdekat, malah buka ChatGPT?

Tinggal ketik, “Aku mau cerita dulu, jangan menghakimi,” lalu panjang lebar menceritakan apa yang terjadi. AI pun menjawab dengan kalimat yang terasa menenangkan, membantu melihat masalah dari sudut pandang lain, bahkan kadang memberikan validasi yang kita cari.

Kalau kamu pernah melakukan hal tersebut, ternyata kamu nggak sendirian.

Survei Jakpat yang dirilis 28 September 2026 terhadap 1.181 responden menunjukkan 35,9 persen Gen Z mengaku sering curhat kepada AI, lebih tinggi dibandingkan Gen Y yang berada di angka 22,4 persen. Topik yang dibicarakan juga beragam, mulai dari pekerjaan, keuangan, hingga persoalan hubungan.

Baca Juga: Doraemon Bukan Sekadar Kartun, Konsep Robot Teman seperti Ini Kini Mulai Nyata

Riset Digital Resilience Indonesia (DiRI) yang melibatkan 402 responden Gen Z juga menemukan sekitar enam dari 10 responden pernah curhat kepada AI. Mereka membicarakan berbagai hal, termasuk kesehatan, keluarga, hubungan, pendidikan, masa depan, sampai masalah sehari-hari.

Kenapa Curhat ke AI Terasa Nyaman?

Ada alasannya kenapa chatbot bisa terasa seperti teman ngobrol.

Menurut riset DiRI, banyak responden merasa lebih bebas berbicara kepada AI karena tidak takut dihakimi. Chatbot juga bisa memberikan respons dengan cepat dan terasa personal, sehingga percakapan yang awalnya hanya berupa pertanyaan bisa berubah menjadi ruang untuk bercerita.

Survei Jakpat juga menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk curhat bukan sekadar dilakukan sekali. Sebanyak 38,6 persen responden mengaku pernah menggunakannya beberapa kali, sementara 29,4 persen melakukannya secara rutin.

Baca Juga: K-Beauty Mulai Berubah, Kenapa Produk Korea Kini Dituntut Lebih Ramah untuk Semua Warna Kulit?

Jadi, sebenarnya wajar kalau Gen Z merasa lebih gampang mengetikkan isi kepala ke AI. Nggak perlu menunggu teman membalas chat, nggak takut lawan bicara bosan, dan kita bisa menyusun cerita tanpa harus melihat ekspresi orang lain.

Masalahnya bukan pada aktivitas curhatnya.

Masalahnya adalah ketika karena merasa sedang berbicara dengan “teman”, kita lupa bahwa yang kita masukkan tetap merupakan data.

Jangan Sampai Curhat Malah Membuka Identitas

Ketika sedang emosi, seseorang mungkin tidak sadar sudah memberikan terlalu banyak informasi.

Misalnya, bukan hanya menulis, “Aku punya masalah dengan teman kantor,” tetapi ikut mencantumkan nama lengkap, posisi pekerjaan, nama perusahaan, nomor telepon, alamat, isi percakapan pribadi, atau foto dokumen.

Baca Juga: 7 Film Indonesia tentang Perjuangan yang Cocok Ditonton Jelang Hari Sumpah Pemuda

Padahal, informasi tersebut bisa digabungkan untuk memberikan gambaran yang jauh lebih spesifik tentang seseorang.

Riset DiRI sendiri menempatkan privasi data sebagai salah satu risiko penting dalam penggunaan AI untuk curhat. Penelitian tersebut mengingatkan bahwa kenyamanan berbicara dengan chatbot belum tentu diikuti pemahaman yang cukup mengenai bagaimana informasi pribadi yang dibagikan dapat diproses.

Karena itu, kalau ingin meminta pendapat AI mengenai masalah pribadi, sebenarnya kita bisa mengurangi identitasnya.

Nama “Raka” bisa diganti menjadi “temanku”. Nama perusahaan tidak perlu disebut. Alamat, nomor telepon, NIK, nomor rekening, password, informasi pekerjaan yang sangat spesifik, sampai dokumen pribadi juga sebaiknya tidak dimasukkan.

Begitu juga dengan cerita orang lain. Jangan karena ingin mendapatkan analisis yang lebih akurat, kita malah membagikan seluruh data pribadi teman, pasangan, atau keluarga kepada chatbot tanpa persetujuan mereka.

Curhat Boleh, Tapi Tetap Kasih Batas

Bukan berarti Gen Z harus berhenti menggunakan AI untuk membantu memahami perasaan atau masalah sehari-hari.

AI memang bisa menjadi alat untuk membantu menyusun pikiran, mencari sudut pandang lain, atau sekadar menjadi tempat awal untuk menuangkan apa yang sedang dirasakan.

Namun, tetap penting mengingat bahwa AI bukan teman yang bisa menjaga rahasia dalam pengertian manusiawi.

Setiap layanan memiliki kebijakan pemrosesan dan penyimpanan data yang berbeda. Bahkan pada ChatGPT, misalnya, pengguna memiliki pengaturan untuk menentukan apakah percakapan baru dapat digunakan untuk meningkatkan model. Ada pula Temporary Chat yang tidak muncul di riwayat dan tidak digunakan untuk meningkatkan model selama tetap menjadi obrolan sementara, meskipun salinannya dapat disimpan hingga 30 hari untuk tujuan keamanan.

Artinya, sebelum menekan tombol kirim, ada satu kebiasaan sederhana yang sebenarnya perlu dibangun.

Curhatlah tentang masalahnya, bukan seluruh identitas orang-orang yang terlibat.

Kita boleh cerita ke AI soal hati yang sedang berantakan. Boleh juga meminta bantuan menyusun pikiran ketika kepala sedang penuh.

Tapi kalau satu informasi sebenarnya tidak diperlukan untuk mendapatkan jawaban, mungkin memang lebih baik tidak ikut diketik.

Karena di era ketika AI semakin terasa seperti teman ngobrol, kemampuan menjaga privasi justru menjadi bagian penting dari cara kita berteman dengan teknologi.

Editor : Inayah Choirunisa
Sumber : Jakpat Insight, Digital Resilience Indonesia
ai data curhat masalah