SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah perubahan tren dan gaya hidup masyarakat, batu akik masih memiliki tempat tersendiri bagi sebagian orang. Di kawasan Pasar Alun-Alun Lor Solo, aktivitas mengoleksi, merawat, mengolah, hingga memperjualbelikan batu akik dan permata masih dapat ditemui.
Sejak pagi, sejumlah pengrajin dan kolektor mulai membuka lapak mereka. Beragam batu ditata di atas meja untuk diperlihatkan kepada pengunjung. Ada batu yang menjadi koleksi pribadi, ada pula yang telah melalui proses pemotongan, pembentukan, hingga pemolesan secara manual.
Aktivitas tersebut menjadi pemandangan tersendiri di tengah kesibukan kawasan pasar. Para pemilik lapak tidak hanya menawarkan batu yang sudah jadi, tetapi juga berbagi cerita mengenai karakter, warna, bentuk, serta proses pengolahan batu kepada pengunjung.
Bagi pengrajin, merawat dan mengolah batu bukan sekadar aktivitas untuk menghasilkan barang dagangan. Setiap batu membutuhkan ketelitian agar warna, kilau, dan permukaannya tetap terlihat menarik.
Proses pengolahan pun membutuhkan kesabaran. Mulai dari memilih bahan, memotong, membentuk, hingga memoles batu dilakukan secara bertahap untuk mendapatkan hasil yang sesuai.
Om Tiar, salah seorang kolektor sekaligus penjual batu akik di Alun-Alun Lor Solo, menjadi bagian dari aktivitas tersebut. Ia masih mempertahankan kegiatannya mengoleksi dan memperjualbelikan batu akik meski tren batu akik saat ini tidak lagi seramai ketika popularitasnya sempat melonjak.
Lapak batu akik juga menjadi ruang bertemunya para kolektor, pengrajin, dan pembeli. Percakapan mengenai jenis batu, karakter, hingga teknik pengolahan menjadi bagian dari keseharian.
Tak semua pengunjung datang dengan tujuan membeli. Sebagian hanya melihat-lihat koleksi, bertanya mengenai jenis batu, atau sekadar berbincang dengan pemilik lapak.
Peminat batu akik pun memiliki alasan yang beragam. Ada yang tertarik karena bentuk, warna, dan karakter alami batu. Sebagian lainnya menjadikannya sebagai aksesori, koleksi pribadi, maupun bagian dari hobi.
Meski tren batu akik tidak lagi sebesar masa kejayaannya, keberadaan para pengrajin dan kolektor di Alun-Alun Lor menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap batu tersebut belum sepenuhnya hilang.
Baca Juga: Dari Model hingga Aktor Utama, Ini Perjalanan Park Seo-ham Sebelum Dive Into You
Bagi para pengrajin, keberadaan lapak juga menjadi ruang untuk mempertahankan keterampilan yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun. Mengolah batu secara manual membutuhkan ketelitian, pengalaman, sekaligus kesabaran.
Di tengah munculnya berbagai tren baru, aktivitas tersebut menjadi bagian kecil dari kehidupan pasar yang masih bertahan. Batu akik tidak hanya dipandang sebagai benda yang diperjualbelikan, tetapi juga menjadi bagian dari hobi, koleksi, dan keterampilan yang terus diwariskan melalui praktik sehari-hari.
Pasar Alun-Alun Lor pun menjadi salah satu ruang tempat aktivitas tersebut masih dapat ditemukan. Di antara lalu lalang aktivitas perdagangan, para pengrajin dan kolektor tetap membuka lapak, merawat koleksi, serta memperkenalkan batu-batu yang mereka miliki kepada masyarakat.
Bagi mereka, mempertahankan keberadaan batu akik bukan semata soal perdagangan. Di balik setiap batu yang dipotong, dipoles, dan ditata di atas lapak, terdapat keterampilan serta kecintaan terhadap hobi yang hingga kini masih mereka pertahankan. (Aditya VA/solobalapan.com)
Sumber : solobalapan.com