SOLOBALAPAN.COM - Saat masih kecil, menonton kartun biasanya hanya soal mencari hiburan. Tingkah karakter yang aneh atau menyebalkan justru sering dianggap lucu. Namun, ketika ditonton lagi setelah dewasa, beberapa karakter bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Ada yang terlalu bergantung pada temannya, suka memancing masalah, sampai asal bicara. Jika sifat-sifat tersebut diterapkan dalam kehidupan nyata, mungkin tidak lagi terasa lucu, tetapi justru bikin orang di sekitarnya ikut emosi.
Dennis (Adit & Sopo Jarwo)
Dennis merupakan salah satu teman Adit dalam Adit & Sopo Jarwo. Karakter ini dikenal sebagai sosok yang penakut dan cukup sering membutuhkan bantuan Adit saat menghadapi persoalan. Hal tersebut juga pernah menjadi bahan candaan netizen yang menganggap Dennis kurang mandiri.
Kalau dipikir-pikir, menjadi teman tentu wajar kalau sesekali saling membantu. Namun, kalau hampir setiap masalah berakhir dengan Adit yang harus turun tangan, pertemanan seperti ini bisa terasa melelahkan.
Makanya, Dennis sering terasa seperti teman yang datang bersama “paket” tanggungannya sendiri.
Jerry (Tom and Jerry)
Jerry punya penampilan yang terlihat kecil dan polos. Namun, di balik itu, ia justru dikenal sebagai tikus yang jahil dan pintar mencari cara untuk mengakali Tom.
Masalahnya, Jerry tidak selalu sekadar membela diri. Dalam banyak cerita, ulahnya juga ikut memancing perseteruan dengan Tom. Setelah Tom mengejar, Jerry kemudian kembali terlihat sebagai pihak yang dikejar.
Kalau dilihat sekarang, tingkah seperti ini terasa seperti orang yang memulai masalah, tetapi ketika keadaan berbalik, malah terlihat sebagai korban. Wajar kalau penonton dibuat geregetan melihat kelakuannya.
Fizi (Upin & Ipin)
Fizi punya kebiasaan yang mungkin dulu terasa seperti candaan biasa. Ia dikenal suka mengolok-olok teman, terutama Ehsan, dan terkadang berbicara tanpa memikirkan bagaimana perkataannya diterima orang lain.
Padahal, bercanda juga punya batas. Sesuatu yang menurut satu orang lucu belum tentu menyenangkan bagi orang yang menjadi sasaran.
Karena itu, Fizi bisa menjadi contoh kecil bahwa mulut yang terlalu cepat bisa membuat masalah sendiri. Niatnya bercanda, tetapi orang lain yang akhirnya harus menahan perasaan.
Baca Juga: Cidro Asmoro Tayang Oktober, Campursari Jadi Bagian Penting dalam Ceritanya
Nobita (Doraemon)
Nobita mungkin menjadi salah satu karakter yang paling mudah dikenali dari kebiasaannya meminta bantuan kepada Doraemon. Ketika menghadapi masalah, ia sering mencari Doraemon dan menggunakan berbagai alat dari kantong ajaib untuk menyelesaikannya.
Kebiasaan tersebut memang menjadi bagian dari cerita Doraemon. Namun, kalau dilihat dari sudut pandang orang dewasa, ketergantungan Nobita kepada Doraemon kadang terasa berlebihan.
Bayangkan kalau pola tersebut terjadi dalam hubungan nyata. Setiap ada masalah, pasangan yang dicari adalah untuk memberikan jalan keluar. Lama-lama, rasanya bukan seperti punya pasangan, tetapi seperti punya customer service yang harus siap 24 jam.
Baca Juga: Debut di Asian Game, Malana Fairbrother Finis Keenam di Final Skateboard Street Asian Games 2026
Dennis, Jerry, Fizi, dan Nobita sebenarnya bukan karakter yang dibuat untuk menjadi contoh buruk. Sifat mereka justru menjadi bagian dari konflik yang membuat cerita masing-masing berjalan.
Namun, ketika ditonton kembali setelah dewasa, kita mulai bisa melihat sisi lain dari tingkah mereka. Ketergantungan, kebiasaan memancing masalah, atau candaan yang melewati batas mungkin lucu di layar, tetapi bisa terasa berbeda jika terjadi dalam kehidupan nyata.
Dari mereka, setidaknya ada satu hal yang bisa dipetik. Kekurangan yang dimiliki seseorang bukan alasan untuk terus membebani orang lain. Begitu juga dengan bercanda, tetap ada batas agar kesenangan sendiri tidak berubah menjadi masalah bagi orang lain.
Mungkin itu sebabnya beberapa karakter kartun terasa berbeda saat kita dewasa. Dulu bikin ketawa, sekarang malah bikin mikir, “Kalau ketemu orang seperti ini di dunia nyata, bisa kuat enggak?” (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber