SOLOBALAPAN.COM - Pergi berlibur biasanya berarti mengunjungi tempat baru, mencoba kuliner, atau membuat jadwal perjalanan dari pagi hingga malam. Namun, tren perjalanan pada 2026 menunjukkan pola yang berbeda. Sebagian wisatawan justru mencari perjalanan yang memberi lebih banyak waktu untuk tidur dan memulihkan energi.
Konsep tersebut dikenal sebagai sleep tourism, yakni perjalanan yang menjadikan tidur dan istirahat sebagai bagian penting dari pengalaman wisata. Penginapan tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tetapi juga dipilih berdasarkan suasana dan fasilitas yang dapat menunjang waktu istirahat.
Baca Juga: Ahmad Yani dan Perjalanan Karier Militernya, dari PETA hingga Panglima Angkatan Darat
Munculnya tren ini tidak terlepas dari kebutuhan wisatawan untuk mengambil jeda dari rutinitas sehari-hari. Hilton Trends Report 2026 mencatat 56 persen responden menjadikan istirahat dan mengisi kembali energi sebagai motivasi utama mereka bepergian.
Dalam praktiknya, sleep tourism tidak berarti wisatawan hanya menghabiskan waktu di tempat tidur. Jadwal perjalanan justru dibuat lebih longgar dengan mengurangi aktivitas yang terlalu padat. Waktu luang dapat digunakan untuk tidur, bersantai, atau melakukan kegiatan yang membantu tubuh lebih rileks.
Sejumlah hotel dan resor juga mulai menyesuaikan layanan mereka dengan kebutuhan tersebut. Fasilitas yang ditawarkan dapat mencakup kamar dengan suasana lebih tenang, pengaturan pencahayaan, perlengkapan tidur, hingga program yang secara khusus berkaitan dengan kualitas tidur.
Aktivitas relaksasi menjadi bagian lain dari konsep ini. Yoga, meditasi, spa, atau sekadar menikmati suasana penginapan dapat dipilih tanpa harus mengejar banyak tujuan wisata dalam satu perjalanan.
Penggunaan gawai juga menjadi perhatian. Selama menjalani perjalanan, wisatawan dapat mengurangi paparan pekerjaan, notifikasi, dan aktivitas digital agar waktu istirahat tidak terus terganggu.
National Geographic mencatat sleep tourism berkembang dalam berbagai bentuk, mulai dari penginapan yang menawarkan program khusus tidur hingga pengalaman wellness yang menggabungkan istirahat dengan kegiatan relaksasi.
Perubahan tersebut membuat cara memilih tempat menginap ikut bergeser. Selain lokasi dan fasilitas wisata di sekitarnya, wisatawan yang mengikuti konsep ini dapat mempertimbangkan tingkat ketenangan, kenyamanan tempat tidur, pencahayaan, serta fasilitas yang mendukung waktu istirahat.
Baca Juga: Bedhaya Jungpara: Karya Tari yang Mengangkat Identitas Jepara dalam Bingkai Bedhaya
Meski demikian, sleep tourism bukan berarti tidur menjadi satu-satunya aktivitas dalam perjalanan. Konsep ini lebih menempatkan pemulihan tubuh sebagai salah satu pertimbangan utama ketika menyusun agenda liburan.
Di tengah perjalanan yang sering dipenuhi berbagai aktivitas, sleep tourism menawarkan pola yang lebih sederhana. Wisatawan tetap bepergian dan menikmati tempat baru, tetapi tidak harus pulang dengan kondisi yang lebih lelah daripada sebelum berangkat. (Hanifatuz Zahra)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber